Tiga Pertanyaan Penting Dalam Menilai Ketrampilan Kepemimpinan

Jika kita pernah bekerjasama dengan seorang pemimpin yang sangat menginspirasi dan berbakat, kita akan tetap ingat tentang bagaimana dia berupaya keras menjaga agar tim tetap kompak sampai hari ini. Alasan mengapa kita masih berbicara tentang dirinya dikarenakan, dia adalah tipe orang yang enak untuk diajak berinteraksi.
Penyair dan aktifis hak-hak sipil terkenal yang bernama Maya Angelou pernah menyindir dengan berkata, “Orang-orang akan melupakan apa yang Anda katakan, orang-orang akan melupakan apa yang Anda lakukan, tetapi mereka tidak akan pernah melupakan bagaimana Anda memperlakukan perasaan mereka.”
Kepemimpinan adalah masalah otak dan hati. Kepemimpinan adalah tentang hasil dan hubungan dengan orang lain. Jika saat ini kita adalah seorang pemimpin atau bercita-cita untuk itu, perlu diingat bahwa perjalanan untuk menjadi pemimpin yang hebat tidak pernah berakhir. Hal itu juga memiliki titik awal.
Dan awal perjalanan itu dimulai dengan beberapa pertanyaan yang wajib dijawab. Bisakah kita menjawab “ya” untuk semua pertanyaan di bawah ini?
1. Apakah kita adalah pemimpin yang dekat dengan karyawan?
Sebelum kita menganggap diri kita layak memimpin, ada pertanyaan penting yang harus diajukan. Karena jika kita akan memimpin, kita harus dekat dengan karyawan. Jika tidak, hal itu bisa melukai kepemimpinan kita dengan beberapa cara:
Karyawan tidak mau berbagi informasi karena takut mendapatkan penolakan.
Anggota tim tidak mau berinteraksi dengan kita.
Anggota tim akan takut mengambil tanggungjawab atas pekerjaan mereka, dan hanya menunggu perintah kita.
Pemimpin yang dekat dengan karyawan berarti membangun suatu budaya di mana loyalitas dan semangat untuk mencapai tujuan dirasakan oleh semua karyawan.
Agar menjadi pemimpin yang dekat dengan karyawan:
Selalu bersikap terbuka dengan karyawan
Selalu berbagi informasi
Perbanyak percakapan dengan karyawan yang tidak terkait pekerjaan
Tunjukkan selera humor
Berpartisipasilah dalam kegiatan pengembangan profesional bersama karyawan
Bantulah karyawan ketika mereka menghadapi masalah,baik dalam kehidupan pribadi atau profesional.
2. Apakah kita ikut mengembangkan lingkungan kerja. yang membuat karyawan merasa aman secara psikologis?
Penelitian tentang kebebasan dan keamanan psikologis yang dilakukan oleh Amy Edmondson dari Harvard University menunjukkan bahwa para pemimpin yang menumbuhkan budaya keamanan psikologis dalam organisasi, di mana karyawan bebas berbicara, bereksperimen, memberikan umpan balik, atau meminta bantuan, akan menghasilkan pembelajaran dan kinerja yang lebih baik.
Ketika keamanan psikologis tidak ada, rasa takut akan hadir. Dan rasa takut ini akan menghalangi perusahaan untuk mencapai potensinya secara maksimal. Kita tidak bisa terlibat secara penuh atau berinovasi ketika dilanda rasa takut. Beberapa orang menganut gagasan bahwa ketakutan adalah sumber motivasi. Tetapi yang dikhawatirkan justru rasa takut itu dapat membunuh rasa percaya diri.Rasa takut adalah demotivator paling kuat.
Menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis
Buat kedekatan dengan karyawan, dan ingatkan bahwa mereka adalah aset berharga bagi perusahaan
Pujilah mereka atas hasil kerjanya dengan memberikan contoh-contoh spesifik sebagai motivasi
Pertahankan agar karyawan terlibat mengenai rencana dan proyek yang akan datang, tenggat waktu, dan segala perubahan yang terjadi, baik atau buruk.
Berikan rasa aman kepada karyawan dengan memastikan bahwa pekerjaan dan status mereka sebagai karyawan dilindungi oleh peraturan perusahaan.
Ketika masalah yang sulit muncul, kita mesti segera mengatasinya dengan bertemu langsung dengan tim atau mengirim email untuk membantu mereka mengatasinya. Tunjukkan selalu harapan, kekuatan, ketekunan, dan kasih sayang kepada karyawan. Tugas kita sebagai seorang pemimpin adalah melakukan semua hal untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kita harus menunjukkan dan menghargai mereka tidak hanya sebagai pekerja tetapi juga sebagai manusia. Terakhir, jangan biarkan komunikasi kita dengan karyawan terputus.
3. Apakah kita memimpin dengan integritas?
Karyawan selalu mengawasi setiap gerakan dari pemimpin mereka. Jika seorang pemimpin bertindak tidak profesional atau tidak etis, mereka pasti tahu. Dan jika itu yang terjadi, pemimpin itu sudah kalah dalam pertempuran karena kehilangan rasa hormat dari karyawannya.
Seorang psikolog dan penulis buku yang bernama Henry Cloud menulis tentang mengapa integritas adalah sesuatu yang penting dan menjelaskan topik tersebut dengan baik dalam bukunya yang berjudul Integritas: Keberanian untuk Memenuhi Tuntutan Realitas. Cloud mengatakan, “Siapa saja yang bekerja keras dengan menggunakan otak, bakat, kompetensi, energi, upaya, kemampuan membuat kesepakatan atau peluang, mereka akan berhasil.”
Ketika kita belajar dan beradaptasi dengan semua aspek integritas itu, kita akan menjadi lebih mudah untuk mengembangkan kepercayaan, memperbaiki hubungan dengan orang lain setelah muncul konflik, mendengarkan dengan empati atau memberikan umpan balik untuk membangun kompetensi seseorang.
Cara memimpin dengan integritas
Memimpin dengan contoh.Kita harus bisa dapat diandalkan, kredibel serta mengatakan hal-hal yang benar
Tingkatkan kualitas diri kita agar ditiru oleh karyawan
Pegang teguh janji atau komitmen di atas.
Lakukan hanya hal-hal yang benar.
Jujurlah terhadap diri sendiri. Dengan menjadi diri yang sebenarnya, kita tidak hanya mempercayai penilaian dan keputusan yang kita buat, tetapi orang lain juga akan mempercayai kita. Mereka akan menghormatinya karena kita mendukung nilai-nilai dan keyakinan kita sendiri.(Artiah)
Sumber/foto : inc.com/dogubati.com


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS