Strategi Membangun Budaya Hidup Sehat Pada Karyawan Kimia Farma

Perusahaan baik berskala besar maupun berskala kecil tentu memiliki budaya perusahaan masing-masing. Budaya yang dimaksud adalah mengacu pada nilai dan perilaku umum dari para karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Salah satunya adalah budaya hidup sehat, yang antara lain ditandai dengan perilaku para karyawan yang mau dan secara sukarela bekerja sebagai anggota tim yang bekerja memenuhi kebutuhan perusahaan, dan berupaya untuk membawanya ke level yang lebih baik.
Menurut Fajar Gustaf Suwandi, Head of Corporate University sekaligus Learning Development Manager dalam membangun budaya sehat, setiap perusahaan memiliki cara dan strategi masing-masing.
“Dalam membangun budaya sehat itu antara lain harus dimulai dengan bagaimana perusahaan membuat program-program, untuk mengembangkan budaya sehat itu sendiri. Salah satunya adalah dengan cara bagaimana perusahaan menjamin pengobatan karyawan, atau yang sering disebut dengan istilah health program atau medical program,” jelasnya.
Program tersebut antara lain mengatur bagaimana perusahaan menjamin karyawan yang sakit, bisa mendapatkan jaminan pengobatan yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Seperti memberikan cover biaya kesehatan dengan program BPJS, kemudian juga melalui program medical in health. Dalam beberapa kasus, perusahaan juga menambahkan dalam bentuk program surat kelola.
“Namun Ini sifatnya pada kuratif atau pengobatan,” terang Gustaf.
Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, Kimia Farma membuat program-program yang sifatnya prefentif melalui namanya program pencegahan kesehatan.
“Bentuknya itu salah satunya melakukan kewajiban medical checkup setahun sekali, untuk level jabatan tertentu,” imbuhnya.
Kemudian Kimia Farma juga melakukan vaksinasi untuk isu atas penyakit-penyakit yang sedang bergulir. Contoh paling sederhana adalah vaknisinasi influenza. Kemudian, melakukan pemberian pengetahuan tentang ksehatan-kesehatan terutama penyakit-penyakit yang generatif sebagai pencegahan. Hal itu dilakukan oleh dokter-dokter klinik yang dimiliki perusahaan. itulah sekumpulan kegiatan yang merupakan bagian dari health atau medical program.
Selanjutnya perusahaan melakukan kegiatan yang bersifat wellness program, yakni sebuah program yang dilakukan perusahaan dalam mendesain pola hidup sehat.
“Ini meliputi penerapan gaya hidup sehat yang dilakukan dalam kegiatan kerja sehari-hari, seperti bagaimana karyawan bisa mengonsumsi makanan yang sehat. Juga bagaimana karyawan itu melakukan aktivitas rutin, untuk menjaga kesehatannya”, tutur Gustaf.
Dirinya juga menambahkan terkait dengan makanan yang sehat, perusahaan juga melakukan standarisasi untuk memberikan makanan bergizi untuk seluruh karyawannya. Baik di kantor pusat maupun di cabang-cabang, yang disebutnya sebagai healthy lunch. Dengan melalui pemilihan penyedia jasa makanan yang berkualitas. Termasuk juga memberikan makanan sehat di waktu cooffe break.
“Jadi makan siang semua karyawan yang bekerja di Jakarta dan di sebelas pabrik itu dikelola oleh perusahaan tertentu, yang sudah terlebih dahulu kita seleksi mana yang menurut mereka menunya sehat untuk dibsajikan pada karyawan. Kemudian untuk makan yang sifatnya coffe break atau makanan sore hari, kita sudah melarang mereka mengnsumsi makanan yang tidak sehat. Mislanya kalau rapat kita menyediakan gorengan, sekarang sudah diganti makanan tersebut dengan buah-buahan, salad atau sayur-sayuran,” tambahnya.
Selain itu perusahaan juga melakukan aktivitas-aktivitas yang sifatnya supporting untuk seluruh karyawan yang mempunyai aktivitas olahraga rutin. Misalnya dengan memberikan fasilitas untuk membiayai member yang bergabung di club bulutangkis, tenis. Kemudian juga untuk mereka yang komunitas ikut lari marathon. Sehingga seluruh karyawan bisa mengikuti aktivitas olahraga dengan bantuan perusahaan,” jelasnya.
Hal lain yang penting adalah dengan membuat suasana kerja yang fun, serta nyaman untuk membangun budaya kerja yang sehat. Hal itu dikarenakan karyawan 75 persennya adalah dari generasi milenial.
“Jadi mereka itu sangat berharap lingkungan kerja yang nyaman menjadi salah satu faktor yang membuat mereka menjadi betah bekerja di perusahaan. Nah itu yang sekarang ini semuanya dikelola perusahaan dan setiap seluruh program itu kita evaluasi melalui survei,” katanya.
Pertama, adalah kesehatan lingkungan kerja melalui employee efektivitas survey dan survey tentang budaya kesehatan kerja atau corporate culture index. Kedua, survey yang digunakan untuk memastikan apakah program yang dilakukan berjalan atau tidak dan trennya setiap tahun meningkat.
“Artinya, karyawan merasa program yang kita lakukan sesuai harapan mereka”, tutupnya.(Artiah)


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS