Stop Micromanaging Gen Z.

Memahami Gen Z di dunia kerja bukan sekadar soal mengelola karyawan baru, melainkan tentang menyelaraskan energi kreatif dengan lingkungan yang suportif. Sebagai generasi yang tumbuh di tengah ketidakpastian namun memiliki akses informasi tanpa batas, Gen Z membawa dinamika unik yang menuntut pendekatan kepemimpinan yang lebih manusiawi dan empatik.
Elizabeth Evaty Dewi, Chief Human Capital Officer, PT AXA Mandiri Financial Services saat ditemui Intipesan dalam acara 12th Indonesia HR Director Summit minggu lalu di Jakarta menyebutkan, kebutuhan psikologis utama generasi ini, berakar pada keinginan untuk dimengerti secara mendalam.
“Mereka harus dimengerti dan harus dipahami secara empatik,” ujarnya menekankan pentingnya ruang dialog.
Karena Gen Z memiliki wawasan yang sangat luas, mereka tidak lagi mencari atasan yang sekadar memberi perintah, melainkan mentor yang bersedia mendengar.
Elizabeth menjelaskan bahwa strategi terbaik menghadapi mereka, adalah dengan memberikan kepercayaan penuh; Karena mereka butuh ruang untuk bereksperimen, bahkan jika itu berarti melakukan kesalahan, asalkan mereka diberi kesempatan untuk bangkit dan belajar dari sana.
Membangun sense of belonging di kantor kini, bukan lagi soal fasilitas fisik, melainkan tentang etika dan keterlibatan emosional.
Dirinya juga menekankan bahwa transparansi serta pengakuan, terhadap potensi individu adalah kunci agar Gen Z merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
“Baginya, sangat krusial bagi mereka untuk tetap menjadi diri sendiri dan menjaga autentisitas di lingkungan kerja, ” jelasnya lebih jauh.
Lebih lanjut, Elizabeth merumuskan tiga pilar utama yang membuat Gen Z betah dan produktif di sebuah organisasi.
Pertama adalah autentisitas, dimana mereka tidak perlu memakai “topeng” saat bekerja.
Kedua, mereka harus merasa dilibatkan dalam proses, yang memiliki dampak nyata.
Terakhir, mereka perlu didengarkan agar merasa keberadaan dan potensinya diakui.
Dengan merasa dipercaya untuk berkarya dan berkontribusi pada hasil akhir, secara otomatis rasa loyalitas dan kebanggaan terhadap perusahaan akan tumbuh dengan sendirinya.


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS