Menyeimbangkan Efisiensi dan Inovasi di Era Disrupsi

Menjalankan bisnis di tengah gempuran teknologi, seringkali memicu dilema besar: bagaimana kita bisa tetap berinvestasi untuk masa depan, tanpa mengabaikan tekanan target jangka pendek dan kebutuhan efisiensi?
Pertanyaan ini memicu diskusi menarik di sesi pleno The 20th HR Expo 2025 yang berlangsung bulan lalu di JICC Jakarta, tentang cara cerdas mengelola budget teknologi tanpa harus terjebak tren sesaat.
Realitasnya, perusahaan saat ini harus mampu bekerja dengan dua sisi: menjaga operasional tetap stabil sambil terus mengeksplorasi inovasi. Namun, kuncinya adalah jangan hanya ikut-ikutan.
Dalam kesempatan tersebut, Irvandi Ferizal, Human Capital Director Maybank Indobesia menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian, dalam mengadopsi teknologi baru.
“Saya tidak mau AI, karena ikut-ikutan, tapi AI untuk the real value added apa yang kita dapat,” jelasnya.
Menurutnya, setiap investasi harus melalui proses uji coba atau pilot project terlebih dahulu, agar modal yang keluar tidak langsung membengkak tanpa hasil yang jelas.
Selain soal nilai tambah, sinkronisasi dengan strategi besar perusahaan juga menjadi harga mati.
Dalam hal ini Aloysius Budi Santosa, Chief Corporate Development PT Astra International menjelaskan, karena investasi teknologi bersifat jangka panjang, maka sistem yang dipilih harus memiliki fleksibilitas tinggi. Hal ini penting agar perusahaan tidak terkunci pada satu sistem yang kaku, mengingat model bisnis bisa berubah sangat cepat dalam hitungan tahun.
Terakhir, pilihan antara membangun sistem sendiri atau menggunakan jasa pihak ketiga harus dipikirkan matang-matang sejak awal.
Heriyanto Agung Putra, Directoe and CHCQ PT Vale Indonesia memberikan catatan, bahwa sekali kita memilih sebuah teknologi, akan sangat sulit dan mahal untuk berbalik arah.
Dirinya secara tidak langsung mengingatkan, bahwa meski membangun tim internal (in-house) membutuhkan investasi besar, fleksibilitas yang didapat jauh lebih tinggi dibandingkan bergantung sepenuhnya pada pihak luar.
Pada akhirnya, teknologi terbaik bukanlah yang paling mahal, melainkan yang paling mampu beradaptasi dengan kebutuhan bisnis masning-masing perusahaan.


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS