Memimpin dengan Melayani: Filosofi Servant Leadership a la Irwan Dewanto

Dalam dunia korporat, posisi pemimpin sering kali identik dengan pemegang kendali dan kekuasaan. Namun, bagi DR.Irwan Dewanto, Chief Human Resources Officer TACO Group, memimpin justru merupakan sebuah bentuk pengabdian. Beliau konsisten menerapkan prinsip Servant Leadership untuk membangun organisasi yang tangguh dan loyal tanpa harus menciptakan sekat antara atasan dan bawahan. Hal tersebut disampaikannya ketika ditemui di kantornya pada bulan lalu oleh Tim Intipesan.
Irwan menegaskan, seorang pemimpin tidak boleh terjebak dalam kenyamanan jabatan atau merasa lebih tinggi dari timnya. Beliau memiliki prinsip yang sangat kuat mengenai hal ini:
“Seorang leader itu harus melayani, membuat hidup anak buahnya lebih mudah dan lebih baik. Bukan sebaliknya, bukan duduk di menara gading,” ungkapnya.
Melalui pesan tersebut, Irwan memaparkan bahwa tugas utama seorang pemimpin adalah menjadi “pemecah masalah”. Pemimpin harus aktif menghapus hambatan kerja dan memastikan setiap individu memiliki dukungan yang cukup untuk mencapai kesuksesan. Baginya, keberhasilan tim adalah cerminan dari seberapa baik pemimpinnya melayani.
Dalam setiap kebijakan yang diambil, Irwan memadukan logika bisnis yang tajam dengan empati mendalam melalui prinsip: “Think with our head, but act with our heart.”
Beliau menjelaskan bahwa meski strategi perusahaan harus disusun secara cerdas dan logis, pelaksanaannya wajib melibatkan sisi kemanusiaan. Hal ini dikarenakan subjek utama penggerak bisnis adalah manusia, bukan sekadar aset atau mesin. Prinsip ini memastikan bahwa setiap keputusan tidak hanya menguntungkan secara angka, tetapi juga tetap menjaga martabat dan memanusiakan karyawan.
Namun, Irwan menyadari bahwa membangun loyalitas sejati tidak bisa dilakukan secara instan. Karena dirirnya meyakini sebuah filosofi tentang hubungan manusia:
“Slow is fast, but fast is slow,” jelasnya.
Filosofi ini mengajarkan bahwa investasi waktu untuk melayani dan membangun kepercayaan (trust) di awal mungkin terasa lambat dan melelahkan. Namun, proses “lambat” inilah yang justru menjadi fondasi kokoh yang memungkinkan tim berlari jauh lebih cepat, solid, dan tahan banting di masa depan.
Pada akhirnya, bagi Irwan, ketulusan adalah bahasa universal yang melampaui aturan formal perusahaan. Dirinya percaya bahwa kepedulian seorang pemimpin akan selalu sampai ke hati timnya.
“Orang itu kalau genuinely caring for others, pasti juga orang bisa ngerasain,” tambahnya lebih jauh.
Baginya, loyalitas karyawan yang kokoh tidak akan pernah lahir dari paksaan kontrak kerja. Ia tumbuh secara organik dari rasa aman dan dukungan nyata yang diterima karyawan dari pemimpin yang benar-benar peduli pada mereka.


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS