Kunci Kolaborasi Lintas Generasi: Rahasia “Say-Do Ratio” 100% ala Praveen

Dunia kerja kini diisi oleh berbagai generasi, dari Baby Boomers, Gen X, Milenial, hingga Gen Z. Perbedaan nilai dan cara pandang sering menciptakan jarak, namun juga peluang besar bila dikelola dengan tepat. Hal tersebut disampaikan oleh Dr Praveen Kamath Kumbla, General Manager HR Wipro, India dalam seminar 9th Asia Pacific HR Forum 2025 yang berlangsung bulan lalu di Nusa Dua Bali.
Praveen, praktisi HR global yang meneliti lebih dari 3.000 orang di 60 negara, menekankan adanya pergeseran prioritas diantara para generasi pekerja tersebut.
“Dulu, pola pikir Gen X menempatkan kebutuhan dasar sebagai prioritas. Kini, generasi muda seperti Gen Z justru menjadikan aktualisasi diri sebagai fondasi utama,” ujarnya.
Setiap generasi, lanjutnya, lahir dari zaman mereka sendiri, yang tentunya membawa berbagai perbedaan masing-masing. Dimana satu generasi dengan yang lainnya mungkin sekali berbeda.
“Hard times create strong people. Strong people create good times.” ujarnya.
Dirinnya memberikan contoh para pekerja di India, tempatnya bekerja, rata-rata usia karyawan adalah 28 tahun.
“Sembilan puluh persen karyawan kami berusia 22–25 tahun, sementara 10 persen lainnya berada di rentang 25–55 tahun. Artinya, ada tiga generasi yang aktif bekerja bersama, plus dua generasi lain yang berkolaborasi secara remote,” jelasnya.
Untuk menjembatani perbedaan, Praveen menawarkan dua pendekatan. Secara taktis, organisasi bisa menyiapkan program pra-universitas, brand ambassador di kampus, hingga buddy system atau pasangan kerja bagi karyawan baru.
“Seorang buddy / pasangan kerja harus bisa bekerja sama, bukan sekadar menberikan teori. Jika tidak, anak muda berusia 22 tahun tidak akan mau mendengarkan Anda di hari kedua,” tegasnya.
Di sisi lain, pendekatan kognitif menekankan pemahaman lintas budaya, integrasi nilai global, serta konsistensi pemimpin. Di sinilah muncul konsep say-do ratio, kesesuaian antara ucapan dan tindakan.
“Rasio say-do Anda harus 100%. Generasi muda menghargai konsistensi antara ucapan dan tindakan,” ungkapnya.
Bagi Praveen, budaya organisasi bukan sekadar jargon dalam presentasi, melainkan harus hidup dalam keseharian.
“Kita tidak bisa hanya bicara budaya di slide. Budaya harus dihidupkan dalam keseharian,” pungkasnya.
Pesannya sederhana: perbedaan generasi bukan penghalang, melainkan kekuatan. Dengan strategi yang tepat, konsistensi, dan budaya yang nyata, organisasi bisa menjembatani kontras nilai antar generasi serta memanfaatkannya sebagai fondasi masa depan kerja yang lebih inklusif dan berdaya.


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS