Gretel Griselda: Jangan Paksa Gen Z Menggunakan Standar Kerja Tahun 80-an

Di tengah perubahan lanskap industri yang kian cepat, tantangan terbesar bagi para pemimpin bukan lagi sekadar pertumbuhan bisnis, melainkan cara mengelola manusia di dalamnya.
Ada kegelisahan yang nyata ketika standar loyalitas masa lalu berbenturan dengan dinamika generasi baru: bagi para senior, masa kerja dua tahun mungkin dianggap baru seumur jagung, namun bagi Milenial dan Gen Z, itu sering kali dianggap sebagai satu siklus pertumbuhan yang tuntas.
Lantas, bagaimana perusahaan harus bersikap di antara keinginan, untuk memacu langkah anak muda dan kebutuhan untuk mempertahankan mereka?
Dalam sebuah sesi tanya jawab dalam Seminar 20th HR Expo bulan lalu yang berlangsung di Jakarta, mengenai tata kelola talenta, Gretel Griselda, CEO dari Alto Network menawarkan perspektif yang menyejukkan dari permasalahan tersebut, dimana dirinya lebih menekankan pada keseimbangan dan refleksi diri pada semua pihak.
Secara tidak langsung, ia menjelaskan bahwa meski label generasi terus berganti, kebutuhan dasar manusia tetaplah konstan: ingin dihargai, memahami dampak dari kontribusinya, dan memiliki kejelasan visi masa depan. Memanusiakan manusia tetap menjadi fondasi retensi yang paling utama.
Namun, Gretel juga mengajak para pemimpin untuk mulai berdamai dengan pergeseran angka di pasar tenaga kerja. Kita tidak bisa lagi menggunakan standar tahun 80-an untuk mengukur kondisi hari ini.
“Mungkin di tahun 80-an turnover rate 3-4% adalah rata-rata, tapi mungkin sekarang rata-rata yang sudah normal adalah 11%. Dan itu sesuatu yang perlu kita amini dan terima,” ungkapnya.
Baginya, menerima realitas ini adalah langkah awal untuk bertindak lebih bijaksana.
Gretel memberikan analogi yang sangat dalam tentang cara memimpin, yakni seperti merawat bunga. Sebagai organisasi, tugas kita adalah memberikan nutrisi, air, dan perhatian terbaik. Namun, jika semua usaha telah dilakukan dan bunga tersebut tetap memilih untuk gugur atau berpindah tempat, maka pemimpin harus memahaminya.
“Kalau kita sudah berusaha semuanya, dan dia tetap pergi, ya memang waktunya pergi,” tuturnya.
Dirinya juga memberikan catatan penting bagi para pemimpin agar tidak terjebak dalam ambisi tanpa melihat kondisi internal.
“Sering kali kita terlalu fokus mengejar pertumbuhan di depan tanpa mau bercermin pada kualitas manajemen sendiri; padahal, sembari terus membenahi diri, kita juga harus berlapang dada menerima bahwa standar perputaran karyawan saat ini memang telah berubahm” jelasnya lebih jauh.
Dirinya jufa menambahkan, bahwa introspeksi internal harus berjalan beriringan dengan penerimaan terhadap dinamika eksternal.
Sebagai solusi strategis, Gretel menyarankan agar perusahaan mulai memperbesar “pipa” rekrutmen mereka. Dengan menerima kenyataan bahwa turnover adalah bagian dari norma baru, perusahaan dapat membangun sistem yang lebih lincah dan siap menghadapi transisi talenta kapan pun.
“Menjaga talenta bukan tentang seberapa kuat kita mengikat mereka, melainkan seberapa bermakna perjalanan yang kita ciptakan selama mereka berada di bawah naungan kita, tutupnya.


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS