Peran Pemimpin Dalam Melewati Masa Krisis

Pandemik Covid-19 secara dramatis telah mengubah perkonomian dunia yang dahulu kita kenal, dan ini membuat banyak organisasi harus berjuang lebih keras lagi agar dapat bertahan di tengah kemerosotan tersebut. Peran pemimpin kemudian menjadi semakin penting dalam membimbing organisasi melewati masa krisis secara aman.
Namun kemudian J. Peter Scoblic founder dari Event Horizon Strategies, menyampaikan sebuah pertanyaan mendasar, bagaimana kita bisa merumuskan strategi dalam menghadapi ketidakpastian ? Pertanyaan ini sangat penting untuk dijawab oleh setiap pimpinan pada saat mereka mempersiapkan organisasi, guna menjawab tantangan yang akan dihadapinya di masa depan.
Banyak pihak menyampaikan bahwa sebenarnya sebelum krisis yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 datang, sebenarnya dunia telah menghadapi berbagai ketidakpastian yang lain. Mulai dari perubahan teknologi yang sangat cepat, meingkatnya saling ketergantungan ekonomi di berbagai negara hingga kepada meningkatnya ketidakstabilan politik. Ini semua telah memberikan andil bagi terbentuknya masa depan yang sulit untuk diprediksi oleh semua orang.
Ketidakpastian tersebut begitu menyeluruh sehingga untuk sepenuhnya menangkap dimensi permasalahan, para peneliti telah merancang akronim yang rumit seperti VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity) dan TUNA (Turbulent, Uncertain, Novel, and Ambiguous).
Dalam merespon berbagai permasalahan tersebut banyak dari pemimpin menawarkan solusi dalam jangka pendek yang lebih dapat diprediksi. Bahkan pada awal tahun 2020, ketidakpastian telah terjadi di berbagai tempat, sehingga banyak eksekutif memberikan solusi prakris dengan menggandakan efisiensi dan mengorbankan inovasi.
Hal tersebut kemudian berubah secara drastis ketika Covid-19 mulai merebak dan menjadi masalah di semua sektor kehidupan di seluruh dunia. Banyak organisasi tidak punya pilihan selain fokus untuk bertahan dari ancaman, yang menggerogoti kelangsungan organisasi mereka. Namun demikian mereka tetap memerlukan berbagai alternatif solusi, yang dapat membimbing mereka melalui masa krisis dengan aman. Serta bisa memberikan hasil untuk masa depan.
Bagaimana proses terbaik tersebut dapat dicapai ?
Setiap pemimpin harus memiliki pandangan ke depan yang strategis, yang dapat memberika solusi alternatif mengatasi masa krisis unutk menunju masa depan. Tujuannya bukan untuk memprediksi masa depan, tetapi untuk memungkinkan kita memiliki pandangan mengenai seperti apakah masa depan nantinya melalui cara-cara kreatif yang meningkatkan kemampuan kita untuk merasakan, membentuk, dan beradaptasi dengan apa yang terjadi di tahun-tahun mendatang. Pandangan ke depan yang strategis tersebut bukan untuk membantu mencari tahu apa yang harus dipikirkan tentang masa depan, namun lebih kepada usaha dalam memahami bagaimana hal itu bisa terjadi dan bagaimana prosesnya.
Satu hal yang pasti bahwa kita dapat membuat prediksi secara lebih akurat, dengan berbasis kepada berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Bahkan pula untuk memprediksi kekacauan dalam bidang geopolitik sekalipun. Kita harus menggunakan teknik-teknik itu sejauh yang kita bisa, tetapi ketika alat prediksi mencapai batasnya, kita perlu beralih ke tinjauan ke masa depan yang strategis, yang mengambil ketidakpastian masa depan yang tidak dapat dikurangi sebagai titik awal. Dalam konteks yang berbeda itu, itu membantu para pemimpin membuat keputusan yang lebih baik.
Salah satu metode yang paling dikenal oleh para ahli dalam memprediksikan masa depan secara strategis adalah perencanaan skenario. Ini melibatkan beberapa tahap: mengidentifikasi kekuatan yang akan membentuk pasar di masa depan dan kondisi operasi; mengeksplorasi bagaimana berbagai dorongan tersebut dapat berinteraksi; dan memprediksikan masa depan yang lebis sesuai; serta dengan merevisi model mental masa kini berdasarkan masa depan itu; dan kemudian menggunakan model-model baru untuk merancang strategi yang mempersiapkan organisasi untuk menuju masa depan.
Pada saat ini penggunaan skenario semacam ini telah banyak dipergunakan. Sehingga organisasi hanya melakukan satu percobaan dan kemudian mengatur apa pun yang mereka pelajari darinya. Jika perusahaan ingin membuat strategi yang efektif dalam menghadapi ketidakpastian, mereka perlu mengatur proses eksplorasi terus-menerus — yang memungkinkan manajer puncak membangun jembatan permanen tapi fleksibel antara tindakan mereka di masa kini dan pemikiran mereka tentang masa depan. Singkatnya, yang diperlukan bukan hanya imajinasi tetapi pelembagaan imajinasi. Itulah esensi pandangan ke depan yang strategis.
Ketidakpastian berasal dari ketidakmampuan kita untuk membandingkan kondisi pada saat ini, dengan apa pun dialami sebelumnya. Ketika situasi tidak memiliki analogi dengan masa lalu, maka kita akan mengalami kesulitan membayangkan bagaimana situasinya di masa depan.
Ekonom Frank Knight berpendapat bahwa ketidakpastian paling baik dipahami berbeda dengan risiko.
Menurutnya dalam situasi yang penuh dengan risiko kita dapat menghitung probabilitas hasil tertentu, karena kita telah melihat banyak situasi serupa sebelumnya. (Perusahaan asuransi jiwa, misalnya, memiliki data tentang pria kulit putih berusia 45 tahun yang cukup dan tidak merokok untuk memperkirakan berapa lama salah satu dari mereka akan hidup.) Tetapi dalam situasi ketidakpastian — dan Knight menempatkan sebagian besar keputusan bisnis dalam kategori ini. —Kita hanya bisa menebak apa yang mungkin terjadi, karena kami tidak memiliki pengalaman untuk mengukur hasil yang paling mungkin. Bahkan, kita mungkin tidak bisa membayangkan berbagai hasil potensial.
Knight berpendapat bahwa kunci dalam situasi seperti itu, adalah penilaian. Manajer dengan penilaian yang baik dapat berhasil memetakan arah melalui ketidakpastian meskipun kurangnya poin referensi. Sayangnya, Knight tidak tahu dari mana datangnya penilaian yang baik. Dia menyebutnya “misteri yang tak terduga.”
Namun tentu saja berbagai kebijaksanaan konvensional juga menuybutkan bahwa sebagian besar penilaian yang baik didasarkan pada pengalaman., dan dalam banyak situasi yang tidak pasti, para manajer, pada kenyataannya selalu beralih ke analogi historis untuk mengantisipasi masa depan. Inilah sebabnya mengapa sekolah bisnis menggunakan metode pengajaran kasus: Tentunya juga merupakan cara terbaik dalam memaparkan kepada para siswa mengenai berbagai pemahaman analogi — dan dengan demikian seolah-olah membantu mereka mengembangkan penilaian — jauh lebih cepat daripada yang mungkin terjadi dalam kehidupan normal.
Ketika situasi tidak memiliki analogi dengan masa lalu, sulit membayangkan masa depan.
Namun demikian poin terpenting dari Knight adalah bahwa ketidakpastian ditandai oleh timbulnya hal-hal baru yang, menurut definisi tidak memiliki anteseden. Pada saat saat ini paling tidak menyerupai masa lalu, tidak masuk akal untuk melihat ke masa lalu untuk mencari petunjuk tentang masa depan. Di saat-saat yang tidak pasti, kita menghadapi batasan pengalaman, jadi kita harus mencari tempat lain untuk mendapatkan penilaian.
Sehingga pada saat seperti itulah pandangan strategis kedepan mulai masuk.
Sumber/foto : hbr.org/


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS