Transformasi Manusia: Kunci Sukses L&D di Era Digital
Banyak praktisi L&D menghadapi tantangan serupa: program pembelajaran digital yang futuristik sering kali kandas akibat berbenturan dengan pola pikir manajemen yang konservatif. Isu krusial ini dibahas tuntas dalam The 16th Learning and Development Summit, 23-24 April 2026, di Yogyakarta.
Anton Hendrianto (Human Capital, Culture & Business Strategy) mengungkapkan, penolakan digital sering terjadi, karena ekspektasi pengguna—terutama Gen Z—tidak terpenuhi.
“Platform kantor yang “jadul” dan tidak intuitif dibandingkan aplikasi harian mereka membuat adopsi teknologi terhambat,” katanya.
Bagi Anton, kualitas UI/UX kini menjadi penentu utama efektivitas pembelajaran.
Untuk meyakinkan pimpinan yang skeptis, Anton menekankan penggunaan data kematangan digital dan analisis risiko bisnis yang nyata, bukan sekadar usulan normatif. Ia juga menawarkan strategi Double Loop yang menyeimbangkan arahan perusahaan dengan kebebasan karyawan memilih pengembangan future skills.
“Transformasi people itu, kalau kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan seksama, maka baru terjadilah namanya business transformation. Tanpa people, maka dua hal tersebut tidak akan bisa kita lakukan secara maksimal.” jelasnya lebih jauh.
Pesan ini mengingatkan kita bahwa di tengah pesatnya teknologi, transformasi manusia tetaplah elemen yang paling esensial bagi organisasi.