Tiga Alasan Mengapa Keragaman Perlu Menjadi Prioritas Bagi Organisasi
Keberagaman dan inklusi karyawan di tempat saat ini menjadi penting dalam dunia bisnis, karena dianggap sebagai pondasi dari kreatifitas yang berdampak kepada keuntungan kompetitif. Keberagaman sendiri secara umum merupakan keberadaan berbagai jenis orang di suatu kelompok mulai dari jenis kelamin, ras, kelompok usia, latar belakang budaya dan sudut pandang personal yang berbeda di tempat kerja.
Ketika sebuah tempat kerja tidak memiliki karyawan yang beragam, akan mencipatakan kumpulan pekerja yang homogen. Juga saat organisasi tidak menerapkan inklusi maka akan kehilangan karyawan unggul dan peluang lebih maju. Hal itulah mengapa keragaman dan inklusi perlu menjadi prioritas organisasi.
1.Employer Branding
Merek perusahaan menentukan bagaimana investor, klien, dan pelanggan memandang bisnis sebagai identitas. Bisnis dengan merek perusahaan yang hebat dianggap sebagai tempat yang fantastis untuk bekerja, karyawan secara alami menjadi pencipta branding hanya dengan berbagi pengalaman tempat kerja.
Semakin sorotan pada branding employer branding diarahkan pada dampak budaya dan sosial, kesejahteraan di tempat kerja mengalami kemajuan hingga perubahan gaya hidup seperti kerja fleksibel.
Keanekaragaman dan inklusi menginformasikan branding perusahaan dengan melayani beragam kebutuhan dan preferensi pekerja, seperti lokasi, keluarga atau kesehatan yang pada gilirannya mendorong inklusi. Jika sebuah organisasi kurang inisiatif keanekaragaman dan inklusi, tidak hanya akan lebih sulit untuk membangun merek atau branding perusahaan yang kuat, tetapi juga sulit untuk menarik dan mempertahankan bakat terbaik mereka.
Mulailah dengan berbicara kepada karyawan sebagai cara untuk mengukur kekuatan merek perusahaan. Buat ruang untuk feedback yang jujur . Tanyakan kepada mereka apa yang mereka sukai tentang bekerja untuk organisasi, dan apa yang dapat ditingkatkan. Kemudian berusahalah untuk menerapkan perubahan. Bahkan jika tidak setiap kebutuhan karyawan dapat dipenuhi, diskusikan kompromi untuk memberi tahu mereka bahwa kita mendengar. Pertimbangkan bagaimana situs web atau kehadiran digital menyampaikan tempat kerja dan organsiasi perusahaan kepada dunia.
2. Budaya Perusahaan
Tujuan setiap organisasi adalah untuk memiliki budaya perusahaan yang unik yang secara otentik mewakili apa yang mereka perjuangkan. Untuk mencapai ini, kita harus benar-benar memahami tidak hanya bisnis, tetapi orang-orang dalam tim termasuk bagaimana mendorongnya. Tanpa keragaman dan inklusi, budaya perusahaan menjadi stagnan, tidak jujur, dan terputus dari kebutuhan timnya dengan hanya melayani dan mengakui kelompok dominan.
Ketika beragam pemikiran tidak ada, maka satu sama lain tidak bisa berpikir secara berbeda. Namun dengan kebergaman dan iklusi yang dibarengi empati, dapat emncerminkan kinerja bisnis, dengan banyak kemungkinan melihat perubahan pasar dan aksi secara efisien.
Untuk mengubah budaya perusahaan, sebuah organisasi dapat merefleksikan nilai-nilai intinya. Ini harus menginformasikan serangkaian prinsip dan motivasi sebagai kekuatan landasan yang menggerakkan tim. Budaya perusahaan’otentik relevan dengan misi bisnis, tetapi cukup holistik untuk menyatukan tim dalam visi bersama.
Cara untuk memperkuat budaya perusahaan adalah dengan mempertimbangkan proposisi nilai karyawan Anda, atau EVP. Ini adalah keseimbangan reward dan benefit yang dapat ditawarkan perusahaan kepada karyawannya sebagai imbalan atas kerja keras mereka. EVP dapat sesederhana mengakui karyawan secara publik atas kinerja mereka yang luar biasa, atau mengorganisir pengalaman membangun tim yang menyenangkan untuk memuji suatu kelompok dalam mencapai OKR mereka. Ini fokus pada penawaran internal yang selaras dengan budaya perusahaan, mengalihkan fokus dari kompensasi moneter ke pengembangan karyawan, penghargaan dan pengakuan internal serta inisiatif masyarakat.
3. Menarik dan Mempertahankan Talent
Jika individu tidak merasa benar-benar terlibat di tempat kerja, organisasi tidak akan mendapatkan yang terbaik dari mereka dari tingkat profesional atau pribadi. Ini pasti akan menghasilkan tingkat retensi yang buruk, atau ketidakhadiran karyawan, yang juga merusak garis kerja organisasi.
Memprioritaskan keanekaragaman dan inklusi terbagi menjadi dua tipe, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Dampak perilaku dan hubungan kualitatif mempengaruhi budaya perusahaan atau mengurangi keterlibatan karyawan. Sedangkan perubahan kuantitatif terkait dengan kehilangan talenta terbaik dalam hal rekrutmen, waktu yang dihabiskan untuk mengisi posisi dan lainnya. Kehilangan produktivitas, waktu dan informasi sangat memengaruhi garis bawah bisnis dengan perkiraan biaya dua hingga tiga kali lipat gaji tahunan karyawan yang keluar, tergantung pada tingkat senioritas mereka.
Perubahan dalam keragaman dan inklusi kembali ke berbicara dengan orang-orang di organisasi. Jika pemimpin terbuka, terlibat dan menjaga komunikasi dengan para talennya, termasuk bagaimana mereka selalu meng-coach. Besar kemungkinan untuk talent tetap tinggal di perusahaan bahkan menjadi pemimpin di generasi kerja selanjutnya.
Bisnis perlu menciptakan budaya kejujuran dan kepercayaan, di mana keragaman dan inklusi tidak dibungkam diskusi. Siapa pun harus merasa seolah-olah mereka dapat dengan penuh terlibat di tempat kerja.
Membangun struktur internal seperti EVP berkorelasi dengan employer branding untuk menarik bakat terbaik, sementara secara autentik memungkinkan organisasi untuk mengembangkan tujuan yang selaras dengan nilai-nilainya. Untuk mempertahankan bakat, pertimbangkan apa yang dibutuhkan oleh berbagai individu dari lingkungan kerja mereka untuk merasa aman dan disambut dengan menciptakan ruang untuk feedback yang jujur.
Keragaman dan inklusi perlu diperlakukan sebagai tujuan strategis yaitu dengan membawa pola pikir komersial dan fokus pada ROI ke area yang secara historis periferal dan terdilusi. Organisasi harus memprioritaskan keragaman dan inklusi sebagai kebutuhan, untuk bertahan hidup dan berkembang dalam ekonomi yang semakin mengglobal.(Artiah)
Sumber/foto : entrepreneur.com/raconteur.net