Simon Sinek : Kesalahan Terbesar Para Pemimpin Adalah Mereka Merasa Memiliki Semua Jawaban Atas Semua Masalah
Menurut penulis buku dari Start With Why (2009), Leaders Eat Last (2014), dan The Infinite Game (2019), optimisme bukanlah merupakan sebuah bentuk penyangkalan terhadap keadaan saat ini. Namun ini adalah merupakan keyakinan bahwa masa depan itu adalah cerah.
“Bahkan saya sendiri secara prinsip mempercayai bahwa situasi kita akan berubah membaik, karena menang itu yang seharusnya terjadi. Untuk itu kita tidak perlu menggerutu sepanjang hari atas berbagai peristiwa buruk yang menimpa kita,” demikian jelasnya.
Lebih jauh lagi dirinya menyebutkan bahwa sebenarnya masa krisis, adalah masa dimana para pemimpin bisa menempatkan dirinya secara tepat di hadapan para karyawannya. Dimana pemimpin harus mendekatkan diri secara penuh kepada mereka untuk mendengarkan semua keluhan mereka, dan memberikan pengertian bahwa tidak selamanya leader memiliki jawaban untuk itu.
Dalam bukunya yang berjudul Start With Why, dirinya masih memberikan pernyataan bahwa konsep Why (mengapa sesuatu itu terjadi) masih harus tetap menjadi fondasi bisnis mereka.
“Hal tersebut adalah wajar, apabila masa krisis akan selalu mengguncang kepercayaan diri kita. Namun demikian sebuah krisis dapat membuat kita keluar jalur, tetapi tentunya tidak akan mengubah konsep Why untuk selamanya,” ungkapnya.
Berkaitan dengan adanya perubahan bisnis yang banyak terjadi seiring dengan merebaknya pandemi Covid-19, Sinek tetap mengingatkan bahwa apabila kita telah mengubah apa yang dilakukan pada saat ini, maka kita tidak perlu mempertanyakan lagi mengapa (why) kita perlu melakukannya.
Dalam perannya sebagai coach business, Sinek sering mendapatkan banyak pertanyaan seputar kepemimpinan dalam masa pandemi Covid-19. Terutama yang berkaitan dengan krisis multi dimensional yang terjadi, mulai dari meningkatnya pengangguran yang meluas, dan krisis sosial setelah kematian George Floyd, Breonna Taylor, dan orang Afrika-Amerika lainnya di tangan para petugas polisi.
Kemudian dirinya memberikan jawaban bahwa kepemimpinan yang baik itu tidak akan berubah. Karena pemimpin terbaik muncul untuk rakyat mereka, mendengarkan kebutuhan mereka, dan menunjukkan keberanian – bahkan jika itu keberanian untuk mengakui bahwa mereka tidak yakin tentang apa yang harus dilakukan.
“Kesalahan terbesar yang dilakukan para pemimpin adalah mereka selalu berpikir bahwa dirinyaa perlu memiliki semua jawaban,” kata Sinek.
Untuk itu dirnya menyarankan pada setiap pemimpin, untuk memeriksa orang-orang mereka. Terutama pada saat sekarang ini. menanyakan bagaimana keadaan mereka, bagaimana cara mengatasi semua permasalahan yang terjadi hingga kepada apa yang mereka perlukan untuk bertahan.
“Apa yang akan kita lakukan untuk teman yang tengah berada dalam kesulitan ? Lakukan hal itu segera untuk orang-orang Anda. Dengarkan mereka. Pastikan mereka merasa didengar. Luangkan waktu. Anda tidak harus melakukannya setiap hari, tetapi kita harus selalu mengecek keadaan orang-orang yang menjadi karyawan kita,” ujarnya.
Menurutnya seorang pemimpin yang baik memahami bahwa setiap orang memiliki emosi dan setiap manusia berurusan dengan trauma dengan cara yang berbeda. Tidak ada benar dan salah di sini.
“Kepemimpinan bukan tentang menjadi penanggung jawab dari semuanya, namun lebih kepada bagaimana cara menjaga mereka yang memiliki tugas dan tanggungjawab terhadap perusahaan dan diri mereka sendiri,”jelasnya.
Sumber/foto : inc.com/martechalliance.com